Di Balik Tirai Eksistensi Museum Macan

0
294

Terlepas dari populernya Museum MACAN di berbagai kalangan dan menariknya karya-karya yang ditampilkan di tempat ini, museum seni modern dan seni kontemporer ini pasti memiliki kisah menariknya tersendiri. Kisah seperti bagaimana museum ini bisa hadir di Indonesia, apa yang sang pendiri harapkan dari hadirnya museum ini, dan masih banyak lagi.

Sesuai dengan namanya, Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara, museum ini menyajikan karya-karya modern dan kontemporer. Namun apa sih seni modern dan kontemporer itu? Menurut Nina Hidayat, Communication Officer Museum MACAN, secara umum seni modern adalah seni yang dihasilkan sebelum Perang Dunia II sementara seni kontemporer adalah seni yang dihasilkan setelah Perang Dunia II.

Salah satu karya seni Kontemporer Museum MACAN

Lalu mengapa Museum MACAN mengambil konsep tersebut ya? Nina Hidayat menyebutkan bahwa pendiri Museum MACAN, Haryanto Adikusumo, ingin berbagi kepada masyarakat Indonesia mengenai seni modern dan seni kontemporer. Hal ini selaras dengan misi Museum MACAN untuk mengedukasi publik mengenai seni. Tidak hanya bagi masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat regional yaitu masyarakat di Asia Tenggara dan bahkan lebih luas lagi masyarakat di Asia.

Selain mengedukasi yang merupakan salah satu dari 3 visi Museum MACAN, visi lainnya adalah sebagai wadah pameran bagi seniman lokal maupun internasional untuk menampilkan karya-karyanya. Yang terakhir membangun infrastruktur dan sumber daya manusia di mana museum ini ingin menjadi wadah bagi para pekerja kuratorial.

Asal usul bagaimana museum yang didirikan pada tahun 2017 lalu ini dapat memamerkan karya-karya Yayoi Kusama pun cukup menarik. Museum MACAN sebelumnya bekerja sama dengan dua institusi regional yaitu National Gallery Singapore dan Queensland Art Gallery untuk membawa pameran yang penuh polkadot tersebut ke Indonesia. Jalinan kerjasama ini yang membuat pameran Life is The Heart of A Rainbow ini bisa sampai ke Jakarta setelah sebelumnya pameran ini dipamerkan di Singapura dan Australia. Nina Hidayat lalu menjelaskan proses persiapan pameran ini yang ternyata berbeda dari pameran Museum MACAN yang pertama. Dikarenakan hampir seluruh karya-karya Yayoi Kusama bukan koleksi milik museum dan museum ini hanya memiliki kurang lebih sepuluh karya Yayoi Kusama, museum ini harus mengumpulkan karya-karya Yayoi Kusama dari berbagai kolektor yang ada di Asia dan juga dari studio Kusama.

Selain cerita tentang pameran Yayoi Kusama, Museum MACAN punya cerita tersendiri dalam proses pendiriannya. Museum MACAN yang merupakan museum modern dan kontemporer pertama di Indonesia yang dibuka bagi publik harus benar-benar memahami tentang regulasi yang ada di Indonesia. Lalu pihak museum pun harus memperhatikan infrastruktur museum seperti suhu dan kelembaban di area pameran demi kenyamanan pengunjung, serta bagaimana cara supaya karya-karya yang dipamerkan selalu aman tetapi pengunjung juga dapat nyaman serta bagaimana upaya penyelamatan karya ketika sedang ada bencana. Pendirian Yayasan Museum MACAN yang membawahi Museum MACAN itu sendiri pun harus memakan proses yang cukup panjang dari segi infrastruktur, legalitas, dan kesiapan museum untuk dibuka bagi publik yang kini setiap harinya dikunjungi sebanyak tiga ribu orang.

Tantangan lainnya adalah usaha agar program-program Museum MACAN bisa tetap relevan bagi masyarakat Indonesia serta pameran yang akan diadakan selanjutnya. Museum MACAN yang tergabung dengan Asosiasi Museum Indonesia bersama-sama meneliti tentang bagaimana perilaku dan karakteristik masyarakat Indonesia sehingga program-program museum tetap bisa beradaptasi. Lalu tim kuratorial akan bekerja untuk membuat program-program tersebut sejalan dengan visi Museum MACAN. Program-program museum pun sudah direncanakan dalam suatu agenda selama dua sampai tiga tahun ke depan.

Gagasan pendirian museum ini yang memiliki visi utama dalam bidang edukasi diharapkan bisa memberi wawasan khususnya bagi masyarakat Indonesia agar bisa mengapresiasi seni, apalagi aliran seni yang sangat jarang ditemukan di Indonesia. Museum MACAN dengan visinya pun berharap agar ekosistem seni Indonesia bisa terus berkembang.

Magangers Batch X, Nuntius

Reporter: Lutfi Harjanto, Maria Oktaviana, Vanessa Kristina

Foto: Ikhwan Rhendy Saputro