Situs Watu Gong, Peninggalan Purbakala Tersembunyi di Malang

0
118

Berbicara mengenai situs bersejarah di Kota Malang untuk sebagian orang, terutama para  mahasiswa yang sedang berkuliah di kota ini tidak asing dengan Situs Watu Gong. Situs purbakala ini berlokasi di Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang, Jawa Timur dan dekat dengan kampus Universitas Brawijaya.

Relatif sulit untuk mengenali situs ini karena lokasinya berada di belakang area parkir restoran cepat saji dan dikelilingi pagar tembok dengan ukuran kurang lebih 5×5 meter. Ditambah minimnya tanda atau petunjuk yang mengarahkan keberadaan situs ini.

Situs Watu Gong atau juga dikenal sebagai Situs Ketawanggede merupakan salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Kanjuruhan. Bentuk dari situs ini berupa sebuah pendopo dengan cungkup yang melindungi artefak di dalamnya.

Terdapat belasan batu yang berbentuk menyerupai gong yakni salah satu komponen alat musik gamelan. Selain itu terdapat tiga batu besar berbentuk persegi dengan lubang di tengahnya.

Pendopo beratap cungkup di Situs Watu Gong. Foto: Aunal Adha Sulistiari

Pendopo yang saat ini berdiri awalnya berjumlah dua bangunan yang bersebelahan. Tetapi salah satu bangunannya kini dibongkar dan dialih fungsikan menjadi musala.

Menurut warga sekitar, dahulu batu-batu purbakala tersebut berserakan dengan jumlah yang banyak bahkan di pinggir jalan. Namun, seiring pembangunan yang terus berlangsung serta kesadaran masyarakat yang rendah akan pentingnya pelestarian situs maka batu-batu itu dihancurkan dan dijadikan tambahan pondasi rumah.

Kota Malang memiliki dua lokasi yang dikenal sebagai Situs Watu Gong, yakni di Kelurahan Ketawanggede belakang restoran cepat saji dan Keluharan Tlogomas di Jalan Kanjuruhan IV, No. 30, RT 04/RW 03.

Mitos dan fungsi

Mitos yang beredar di masyarakat pada jaman dahulu saat malam Jumat Legi batu-batu berbentuk gong tersebut akan mengeluarkan bunyi seperti alunan musik gamelan. Selain itu, Watu Gong juga dianggap keramat karena dipercaya sebagai alat musik makhluk halus penjaga desa.

Patung berbentuk katak menghadap ke arah Situs Watu Gong. Foto: Aunal Adha Sulistiari

Padahal, fungsi asli dari keberadaan Watu Gong yakni sebagai pelandas tiang dari rumah panggung. Hal ini terlihat dari bentuknya yang memiliki tonjolan di permukaanya sehingga dapat digunakan sebagai pengait tiang bangunan yang terbuat dari bambu dengan diameter lebar.

Sementara batu yang berbentuk persegi dengan lubang di tengahnya atau umpak memiliki fungsi yang hampir sama yakni sebagai pengait tiang rumah panggung. Namun, pada artefak ini tiang yang digunakan berupa balok kayu yang ditancapkan pada bagian tengah batu.

Meskipun letaknya yang tersembunyi dan tertutupi oleh pagar tembok tinggi, Situs Watu Gong hingga saat ini kondisinya masih sangat baik karena pihak restoran turut aktif menjaga situs dengan rutin membersihkan dan merawatnya. Selain itu, bagi pengunjung yang ingin melihat Situs Watu Gong juga diwajibkan untuk menjaga dan tidak merusak apalagi mengambil bagian dari situs bersejarah tersebut.

Penulis:

Aunal Adha Sulistiari, Mahasiswa Universitas Brawijaya dan Magangers Kompas Muda Harian Kompas Batch IX