Penting, Kolaborasi Potensi Media Kampus Indonesia

3
136

Kemunculan media kampus Indonesia saat ini disertai pemanfaatan media sosial untuk mereka berkreasi dan berkarya. Di samping itu, adanya kolaborasi mendorong mereka untuk lebih berani bersaing dengan media-media besar lainnya.

Hal itu disampaikan oleh Alya Dalila, Brand and Marketing Strategist yang juga Marketing Executive penerbitan Inspigo.id,  pada sharing and discussion (SnD) TVONAIR 7.0 “Once Upon a Journey: Media Collaboration for Business Opportunities”, Sabtu (16/4/2022). Acara tersebut merupakan perhelatan tahunan UMN TV, media kampus mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

SnD dihadiri oleh peserta dari media-media kampus Indonesia dan narasumber yang berpengalaman dalam industri media seperti Sasmito Mardim, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen, Eno Bening, social media strategist yang membangun media sosial dan membuat konsep konten digital di KOSMIK, PT Kreasi Kisah Semesta, dan Alya Dalila. Ketiga narasumber itu memberikan wawasan mengenai cara media kampus bersaing dan berkolaborasi di tengah menjamurnya media-media di Indonesia.

Dalam sesi diskusi, Sasmito menjelaskan media kampus dapat belajar dari pers mahasiswa pada 1974-1978. “Waktu itu ‘kan terjadi pembredelan besar-besaran. Pers mahasiswa waktu itu bisa merumuskan perannya menggantikan pers arus utama menjadi pers alternatif,” ujar Sasmito. Namun, saat ini sudah berbeda, peran pers mahasiswa perlu didefinisikan ulang.

Melalui potensi mahasiswa yang ada, perlu memikirkan bagaimana cara untuk menjual karya jurnalistik mereka. Karena, saat ini sudah banyak media mampu membuat konten yang baik dan luar biasa. Sasmito menambahkan, masih menjadi persoalan bagi media di Indonesia untuk menjual karya kepada audiens. Dengan cara seperti itu media kampus dapat berkolaborasi untuk mendistribusikan karya mereka ke ranah nasional.

Kolaborasi dan media sosial

Media bukan hanya membuat konten melainkan berkolaborasi dengan media lainnya, namun untuk melakukan kolaborasi juga dibutuhkan media yang memiliki visi dan nilai yang sama. Sebelum ke tahap ini, media sudah membentuk identitas media terlebih dahulu. “Percuma, meskipun ke media apa pun yang followersnya 1M gitu, cuman ternyata nggak a line (satu bidang), market (pasar) mereka nggak bisa kita reach (sampai) percuma,” jelas Alya Dalila.

Penting bagi media kampus untuk mengetahui jenis konten seperti apa yang mereka miliki sehingga saat mengajak kolaborasi dengan media lain akan sejalur. Karena, apabila salah memilih media yang memiliki konten berbeda, media kampus tak akan bisa menjangkau audiens tersebut. Dengan adanya kolaborasi, kedua media juga melakukan timbal balik. Oleh karena itu, media dapat melakukan analisis pasar sebelumnya.

Alya Dalila, Brand and Marketing Strategist (kanan), memberikan wawasan baru mengenai kolaborasi media kepada peserta Sharing and Discussion (SnD) pada Sabtu, (16/4/2022). Foto: Kompas Corner/Galuh Anisya Fitrananda.

Alya berharap media kampus harus lebih berani. “Kalian harus lebih berani dalam berkolaborasi, kalian harus lebih punya nilai jual. Jadi, kalian nggak boleh tuh dipandang cuman sebagai mahasiswa,” kata Alya. 

Media kampus menurutnya harus berani bersaing dengan media-media besar lainnya. Mereka tidak perlu takut untuk keluar dari zona kampus dan dapat bersaing ke tingkatan yang lebih tinggi.

Di samping itu, Eno Bening menjelaskan bahwa media sosial merepresentasikan diri. Kini, media sudah bukan lagi menyebarkan informasi melainkan penyebaran diri. Terdapat kebiasaan yang berganti dengan hadirnya media sosial.

Melalui media sosial saat ini, perhatikan kualitas bukan kuantitas. Personal branding juga diperlukan di media sosial karena hal itu dapat merepresentasikan media tersebut. 

“Kita mau dikenal sebagai apa di sosial media, kalian mau diketahui sebagai apa di sosial media. Itu pemanfaatan paling awal di media sosial,” jelas Eno.

Jendela ilmu baru

Melalui SnD, mahasiswa yang memiliki potensi dapat belajar berkolaborasi. Elora Shaloomita Sianto, panitia koordinasi SnD melalui konferensi pers secara daring, Kamis (14/4/2022) mengatakan, TVONAIR 7.0 melihat bahwa kolaborasi merupakan aspek yang paling penting sehingga mahasiswa mempunyai keuntungan masing-masing. 

“Kita tuh melihat kolaborasi salah satu aspek yang paling penting, nggak hanya di dunia perkuliahan, tetapi di dunia pekerjaan. Seperti yang kita tahu sendiri media-media itu banyak banget yang melakukan kolaborasi dan mendapatkan opportunities (peluang),” kata Elora.

Setelah mengikuti SnD, Muhammad Ferdiansyah, peserta SnD dan perwakilan dari media kampus UPJ Live mendapatkan wawasan baru. “Hal-hal baru untuk ke depannya, bagaimana kita menjalankan kelembagaan, organisasi TV kampus dan sebagainya. Karena, dalam sharing and discussion ini banyak insight baru,” ujar Ferdiansyah melalui Zoom Meeting pada Sabtu (16/4/2022).

 

Reporter: Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara/Galuh Anisya Fitrananda.

Fotografer: Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara/Galuh Anisya Fitrananda.

Editor: Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara/Galuh Anisya Fitrananda.