TEDxJakarta 100 Persen Sukarela

0
208
Andhyta Firselly Utami (AFU) menjadi pembicara di sesi ketiga TEDxJakarta Post Capital(ism) membahas tentang peran aktif masyarakat dalam masa pemilu mendatang, Sabtu (9/12/2023) (Dok. Ibrahim)

TEDxJakarta kembali menghadirkan acara yang 100 persen bersifat sukarela di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Teater IMAX Keong Emas, Sabtu (9/12/2023). Disebut sukarela sebab para pembicara yang tampil sama sekali tidak mendapat bayaran.

Malahan, bukan hanya para pembicara, para volunteer (relawan) TEDxJakarta pun demikian, alias tak dibayar. Dengan total 97 volunteer yang semuanya berasal dari generasi muda, TEDx Jakarta berhasil menjual tiket mencapai 700 penonton. Fantastis!

Kali ini ada 11 pembicara yang tampil di TEDxJakarta. Di antaranya adalah Alanda Kariza, Max Mandias, Lala Bohang, Chandrian Attahiyyat, Evi Mariani, Mentari Novel, dan Andhyta Firselly Utami. Selain itu, hadir juga 2 surprise speakers (pembicara kejutan) yakni Maria Catarina Sumarsih dan Ita Fatia Nadia.

Acara TEDxJakarta kali ini hadir dengan judul “Post Capital(ism)”. Latar belakang TEDxJakarta memilih judul tersebut untuk memaknai pemanfaatan kapital (modal) secara holistik. 

Jika ditarik benang merahnya, dari pemanfaatan kapital tersebut akan terlihat keuntungan kesejahteraan dan sebagainya. Akan tetapi, keuntungan-keuntungan tersebut kerapkali berdiri di atas eksploitasi.

Ivan Fauzan & Prima Surya menjadi host pada sesi pertama sedang menjelaskan makna Post Capital(ism) kepada pentonton, Sabtu (2/12/2023) (Dok. Tengku Caesar Akbar)

Ivan Fauzan selaku volunteer yang menjadi host sesi pertama mengatakan, TEDxJakarta melihat fenomena tersebut melalui dialektika materialisme. “Post capitalism adalah cara kita membayangkan sesudah eksploitasi dan benefit (manfaat) yang besar banget itu berlalu, tapi tidak untuk masyarakat. Ibaratnya, lu punya duit, lu punya kuasa. Tapi menurut gua nggak (begitu),” tutur Ivan dari atas panggung, Sabtu (9/12).

Post Capital(ism) terbagi atas 3 sesi, masing-masing mengusung tema berbeda. Sesi pertama mengusung tema “Pelan-pelan”, sesi kedua “Emang Boleh?”, dan sesi ketiga “Kiw Kiw Cukurukuk”. Uniknya, penamaan ketiga tema ini berdasarkan sound viral di platform TikTok.

Tema “Pelan-pelan” menjadi yang pertama sebab TEDxJakarta melihat orang-orang, terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar, terlalu mengejar ambisi sehingga banyak yang harus dikorbankan. Salah satunya adalah kesehatan. TEDx Jakarta ingin mengajak orang-orang untuk mencapai sesuatu dengan pelan-pelan.

Selanjutnya, tema “Emang Boleh?” bermaksud TEDxJakarta ingin orang-orang untuk tahu border line (batasan) boleh dan tidak boleh. Poinnya adalah boleh bagi masyarakat untuk bertindak dalam gerakan kemanusiaan, dan hak setiap orang untuk heal (sembuh) dari luka dan traumanya. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah tentang sejarah di masa lalu.

Tema “Kiw Kiw Cukurukuk” bermakna cara bersiasat untuk hidup di dunia pasca kapitalisme. Masyarakat harus bisa kritis dan turut andil dalam gerakan keadilan, sebab sudah bukan eranya lagi masyarakat hanya diam dibungkam pada aturan yang tajam ke dalam.

Mentari Novel menyanyi di panggung TEDxJakarta untuk menghibur penonton, Sabtu (9/12/2023) (Dok. Ibrahim)

Pada sesi terakhir, pembicara yang juga seorang penyanyi, Mentari Novel menyuguhkan penampilan istimewa. Ia membawakan dua lagu miliknya berjudul “I Apologize” dan “I’m Tired of Being Not Okay”. Ternyata, setelah dibeberkan oleh pemandu acara pada sesi ketiga, Mentari adalah adik dari Puput Novel, penyanyi era 1970-an.

Selain sesi gelar wicara, TEDxJakarta juga memiliki serangkaian aktivitas yang dapat dilakukan oleh penonton di sela sesi istirahat. Serangkaian aktivitas tersebut dinamakan “bingo” yang terdapat pada nametag (papan nama) setiap penonton. Melalui aktivitas tersebut, penonton tidak hanya pasif untuk mendengarkan, tetapi juga aktif membangun relasi dan jaringan.

Penonton menghampiri Chandrian Attahiyyat di open lounge pada waktu istirahat, Sabtu (9/12/2023) (Dok. Ibrahim)

Beberapa aktivitas di antaranya engage with speakers at open lounge (, exchange namecard with other audiences dan greet, befriend TEDxJakarta’s volunteers. Bagi yang berhasil menyelesaikan semua rangkaian aktivitas tersebut mendapatkan hadiah kejutan dari TEDxJakarta.

Dalam pelaksanaan Post Capital(ism), TEDxJakarta juga menunjukkan komitmen terhadap lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari penyediaan makan siang vegan, menyediakan water refill station (stasiun pengisian ulang air minum), serta sangat melarang penggunaan plastik.

Dengan berakhirnya Post Capital(ism), TEDxJakarta sukses melaksanakan ketiga event-nya di tahun 2023. Yaitu TEDxJakarta Salon, Countdown, dan Post Capital(ism).  TEDxJakarta yang berdiri sejak 2009 telah didorong 100 persen digelar secara sukarela oleh berbagai komunitas dan organisasi nirlaba.

Penulis:

Tengku Caesar Akbar, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya/Volunter Kompas Muda untuk TEDxJakarta Post Capital(ism) 2023

Fotografer:

Ibrahim, Mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta/Volunter Kompas Muda untuk TEDxJakarta Post Capital(ism) 2023