Berkembangnya eSports di Asian Games 2018

    0
    376
    Suasana panggung eSports di Britama Arena. Foto: Christopher Alexander.

    Britama Arena menjadi saksi kemajuan eSports di dunia khususnya di Asia. Asian Games kali ini melakukan uji coba terhadap eSports sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Hal ini pun membuat para gamers di Indonesia bersukacita. Pasalnya masih banyak yang menganggap bermain game hanya untuk membuang waktu dan tidak akan bisa mendapatkan penghasilan ketika sudah waktunya bekerja. Hal itu  ditepis dari beberapa atlit eSports yang bermain di Asian Games. Menurut mereka,  apapun yang dilakukan dengan niat, usaha, dan kerja keras akan memberikan hasil yang sepadan.

    Waktu menunjukkan pukul 10.30 ketika saya sampai di Britama Arena, memasuki Lorong lalu masuk ke Arena dimana para atlit eSports bertanding menunjukkan kemampuan mereka. Kali itu, pertandingan yang ditampilkan di layar raksasa adalah game AOV dengan mempertandingkan Thailand melawan China.

    Saya kurang berkonsentrasi mengikuti pertandingan tersebut karena ada sosok yang menarik perhatian saya. Dia adalah Richard “frgd[ibtJ” Permana  CEO dari tim yang merupakan salah satu tim besar di Indonesia dalam bidang eSports. Pada kesempatan kali itu saya sempat mewawancarainya seputar eSports.

    Bagi pemain CSGO untuk tim ini, eSports di Indonesia cukup meledak-ledak apalagi dengan hadirnya beberapa game seperti Mobile Legends, AOV, PUBG, dan Fortnite membuat streamer gaming makin ramai dan banyak e-commerce yang berbondong bondong masuk untuk mendukung eSports, bahkan event event di Indonesia untuk eSports pun bertambah banyak.

    Richard “frgd[ibtJ” Permana, CEO nxl>. foto: Richard Permana.
    Selain itu bagi Richard Permana, kans Indonesia untuk bisa menjadi juara dalam eSports di Asian Games kali ini cukup terbuka lebar asal bisa melewati beberapa pertandingan krusial. Ia mengambil contoh dari Hearthstone, di mana Indonesia akan bertemu dengan Thailand. Jika Indonesia bisa memenangi pertandingan tersebut maka kemungkinan besar Indonesia dapat menjadi juara.

    Pendiri  nxl> ini juga berharap bahwa komunitas di Indonesia lebih banyak mengapresiasi para pemain pro Indonesia yang sudah memberikan dedikasi serta komitmen untuk mengharumkan nama Indonesia.

    Setelah selesai melakukan wawancara saya masuk kembali ke Arena dan ternyata di dalam  tim Indonesia sudah bersiap-siap untuk bertanding melawan China Taipei.

    “IN DO NE SIA” teriakan seseorang dari bangku sebelah kanan saya yang ternyata seorang bapak-bapak.

    Atlet eSports AOV Indonesia yang bertanding. Foto : Christopher Alexander

    Hal tersebut membuat saya cukup tertegun karena ternyata eSports tidak hanya digemari oleh remaja tapi juga orang tua dan juga bagaimana ia begitu semangat memberikan dukungan untuk tim Indonesia.

    Kedua tim pun memulai permainan dengan melakukan “ban” dan “pick” dimana mereka harus memilih hero mana yang bisa digunakan dan hero mana yang mau mereka pilih. hal tersebut berlangsung kira-kira 5 menit. Saya pun cukup semangat melihat permainan Indonesia dalam AOV ini.

    Permainan pun dimulai, Britama Arena bergemuruh dengan teriakan IN DO NE SIA. Pemain dari China Taipei memulai dengan cukup agresif di mana mereka mendapatkan 2 kill pertama di bawah 2 menit. Hal ini pun cukup mengejutkan saya di mana permainan China Taipei terlihat lebih rapi dibandingkan dengan tim Indonesia. Hal ini pun terbukti dengan kekalahan Indonesia dibabak pertama dengan skor kill 21-5, kekalahan yang telak bagi Indonesia.

    Saya pun berharap Indonesia bisa membalikkan keadaan dan menang atau paling tidak memberikan perlawanan yang sengit. Suporter Indonesia pun tidak diam, mereka kembali meneriakkan yel-yel IN DO NE SIA namun kali ini lebih keras. Bahkan suporter-suporter dari negara lain pun sampai melihat dan terlihat terkesima dengan dukungan suporter dari Indonesia.

    Babak kedua dimulai, seperti biasa kedua tim melakukan “ban” dan “pick” setelah itu permainan dimulai. Permainan yang agresif pun ditampilkan kembali oleh China Taipei. Bahkan Indonesia dibuat tak berkutik kembali ketika  China Taipei mendapatkan kill 15 dan Indonesia belum mendapatkan kill sama sekali. Permainan pun diselesaikan dengan cepat yaitu 8 menit. Ini menjadi game tercepat sepanjang kualifikasi.

    Yahhh, hasil yang cukup mengecewakan,  namun bagi saya perjuangan mereka patut diacungi jempol karena tetap memberikan sedikit perlawanan di bawah tekanan lawan yang cukup kuat.

    Christopher Alexander.S, Volunteer Kompas Muda / Universitas Multimedia Nusantara