KMPA Eka Citra UNJ Menggelar Kampanye Peduli Bumi

0
281

Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Eka Citra asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan festival kampanye lingkungan dengan tema “Generasi Milenial Peduli Bumi” di Kampus B UNJ pada Jumat (13/05/2023). Acara itu mereka namakan “Citra Festival” memiliki tujuan menyadarkan masyarakat milenial khususnya yang berada di wilayah DKI Jakarta untuk menjaga lingkungan.

Kampanye lingkungan berbentuk gelar wicara (sosialisasi) dari  Rio Rovihandono, Manajer Program Ekosistem Kehutanan KEHATI yang memberikan informasi mengenai keberlanjutan ekosistem lingkungan di masa depan. Ada tiga hal yang difokuskan  Rio selama pembahasan materi, yakni mengenai ancaman pada bumi terkait dengan isu lingkungan.

“Ada tiga ancaman pada bumi saat ini. Pertama perubahan iklim itu sendiri. Kedua, polusi dan kerusakan lingkungan, ketiga, kehilangan atau kepunahan keanekaragaman hayati,” ujar Rio.

Perubahan iklim yang dimaksud seperti adanya pemanasan global yang memberi dampak signifikan kepada bumi. “1 derajat celcius saja suhu naik dari temperatur normal di bumi, di kutub utara es mencair, volume laut menaik, negara-negara pasifik yang kepulauan itu sebagian sudah hilang daratannya,” jelasnya.

Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Eka Citra UNJ menggelar kampanye lingkungan sebagai salah satu rangkaian dies natalies perguruan tersebut.

Hal itu tentu akan berdampak juga kepada flora dan fauna. Rio menjelaskan saat ini kehilangan keanekaragaman hayati melaju dengan cepat. “Kehilangan keanekaragaman hayati itu lajunya paling cepat dalam sejarah dunia. Jadi sekarang sudah ada 1 juta spesies baik flora dan fauna yang hilang demikian cepatnya dari muka bumi,” jelas Rio.

Ketiga hal tersebut membuat KMPA Eka Citra memutuskan untuk membuat kampanye bumi. Sahal Afham Adib, Ketua KMPA Eka Citra pada kesempatan itu menjelaskan tujuan kampanye bumi tersebut sebagai sosialisasi mengenai kondisi bumi sehingga perlu dilakukan perawatan agar tidak berdampak buruk di masa yang akan datang. 

“Gelar wicara itu ada karena konsep awalnya kampanye lingkungan. Jadi kalau gak ada sosialisasi kenapa kita harus kampanye lingkungan? gelar wicara ini untuk menyosialisasikan kampanye lingkungan tersebut, karena di materi dibahas bahwa bumi sedang krisis. Kalau gak dirawat akan berdampak buruk kedepannya,” jelas Sahal.

Tak hanya kampanye, pada acara itu juga ada pertunjukan musik dengan bintang tamu Iksan Skuter. Panitia memilih menampilkan Iksan, karena beberapa lagu yang dibuatnya mengangkat isu lingkungan. Pertunjukan musik tersebut sebagai salah satu cara KMPA Eka Citra untuk menarik minat audiens untuk ikut hadir dalam Citra Festival.

“Acara ini adalah acara citra festival, kita tuh mau mengkampanyekan lingkungan. Acaranya kampanye lingkungan dengan dibalut oleh konser musik. Jadi biar ada ramenya, kita balut dengan konser musik,” kata Sahal.

Iksan Skuter saat menjadi acara “Citra Festival” di Universitas Negeri Jakarta, Jumat (13/5/2023)

Tak hanya menyanyi, Iksan Skuter juga sempat membahas mengenai kehidupan anak muda yang saat ini berdampingan dengan teknologi. Iksan mengingatkan agar anak muda bisa bijak dalam menggunakan teknologi tersebut. “Aku rasa kita harus menyikapi bijak tentang hal itu. Dan balik lagi, kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan, gak hanya ngomong di sosmed,” katanya.

Dia berpesan kepada kaum muda untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki. “Lakukan apa yang bisa dilakukan, maksimalkan potensi yang diberikan Tuhan kepada kalian lewat musik, lewat film, atau lewat apapun,” tambahnya.

Acara Citra Festival merupakan puncak acara Dies Natalis KMPA Eka Citra ke-42 tahun. Total terdapat tiga rangkaian acara yang dibuat KMPA Eka Citra seperti syukuran, donor darah, dan citra festival.

Rangkaian acara tersebut disiapkan selama satu bulan. Sahal berharap,  acara tersebut membawa dampak positif, khususnya untuk kaum milenial atau pemuda agar mereka lebih sadar melestarikan lingkungan. “Kalau lingkungan kita rusak, kita mau tinggal di mana lagi ?” ujar Sahal setengah bertanya.

Alethea Pricila, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang