Lelehan Lilin Pertiwi

0
86
Foto : Ingki Rinaldi

“Selamat ulang tahun, Pertiwi.”

Aku membalas senyuman wanita itu dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Dari sekian banyak sahabatku, beliau merupakan sahabat yang paling sering menjadi tempat anak-anakku bernaung saat sakit. Walaupun aku kadang berseteru dengannya, aku tetap menghormatinya sepenuh hati. Pada siapa lagi anakku akan datang kalau bukan pada Merlion? Tidak mungkin mereka merasa cukup di rumah sendiri.

Program kesehatan masyarakat masih menimbulkan polemik, lagi-lagi melahirkan miskomunikasi yang berimbas pada barisan tenaga kesehatan. Dokter, perawat, pertugas admistrasi hingga pusat layanan kesehatan negeri maupun swasta selalu disangka sebagai oknum. Padahal, sama saja mereka korban dari anak-anakku yang dengan seenaknya meminta dibuatkan apartemen demi menyetor jas-jas mahal baru yang katanya akan menaikkan produktivitas mereka.

“Terima kasih, Merlion,” balasku, menyalami tangannya yang dingin seperti lelehan lilin yang tergeletak di meja.

“Selamat ulang tahun, Ibu!” teriak sebuah suara yang familiar. Suara itu kemudian hilang, digantikan pelukan erat.

Kedua lenganku membalas dekapan anak kesayanganku. Pelukannya terasa hangat, mengingatkanku akan perjuangan ayah, Nusantara, saat mendirikan Majapahit dulu. Batavia sekarang sudah dewasa, meski masalah mengompolnya belum juga sembuh. Aku merengkuh tubuhnya yang bau dan penuh polusi, mengenali kali-kalinya yang hitam dan halaman-halamannya yang botak. Apa pun yang terjadi, aku tetap bangga dengan Batavia. Menjadi ibu kota memang berat, aku paham betul. Biar pun wajah Batavia selalu terlihat menganggumkan, badannya dipenuhi sampah. Sampah yang mungkin setinggi gedung-gedung pencakar langit yang tampak di wajah putraku itu.

Tapi tak apa, Batavia. Bersabarlah. Sebentar lagi tanggung jawabmu akan dipindahkan ke Borneo.

“Terima kasih, Bataviaku Sayang.” Setitik air mataku nyaris jatuh seandainya Batavia tidak menghapusnya.

Happy birthday, babe! Stay healthy, stay pretty. We love you.

Liberty dan aku saling bercipika-cipiki. Wanita tua itu merupakan idola semua yang ada di ruangan ini. Walaupun kami semua tahu Liberty adalah sosok dengan wajah paling banyak di antara kami semua, kami tidak cukup bodoh untuk mengabaikan kekuasaan Liberty. Aku ingat, pernah sekali Liberty tidak sengaja merusak mata uang yang dipakai anak-anaknya. Imbasnya luar biasa. Anak-anak kami semua harus ikut mengalami nasib yang sama. Padahal, tidak pernah sekali pun Liberty terkena dampak dari kemalangan yang dialami anak-anakku.

Fijne verjaardag. You’re one hell of a fighter.

Bibirku membentuk senyum simpul. Netherlands, teman lamaku. Apa kata anak-anakku? Benci jadi cinta? Atau cinta jadi benci? Keduanya mungkin berdasarkan hubunganku dengan Netherlands yang kandas di tengah jalan. Kalau saja dari awal aku tahu Netherlands adalah sosok yang posesif, aku tidak akan mau didekatinya bertahun-tahun silam. Pria itu tidak pernah malu mengakui cintanya padaku, juga kehausannya untuk menguasai setiap inci dari tubuhku. Ditempuhnya seribu cara demi membuatku dan anak-anakku menyerah.

Tapi anak-anakku bukan anak sembarangan. Mereka anak bangsa, lahir dari keturunan ningrat Nusantara. Mereka tahu ayahku dulu adalah penguasa Asia. Tiga ratus lima puluh tahun kekuasaan Netherlands terhadapku tidak membuat mereka menyerah.

Para jurnalis menulis tanpa henti, berbicara dari hati ke hati, nurani ke nurani. Tak satupun peduli akan ancaman di balik jeruji. Biarlah masuk jeruji, asal kesadaran untuk melawan tidak terhenti.

Mereka melawan dengan cara mereka masing-masing. Para dokter menciptakan gelombang cendekiawan yang mendorong adanya politik etis. Para jurnalis menulis tanpa henti, berbicara dari hati ke hati, nurani ke nurani. Tak satupun peduli akan ancaman di balik jeruji. Biarlah masuk jeruji, asal kesadaran untuk melawan tidak terhenti. Para wanita membesarkan hati, melepaskan suami, anak, dan saudara mereka demi mengusir Netherlands.

Beberapa beruntung mendapati kekasih hati mereka kembali. Sisanya tidak begitu. Kala malam kudengar tangisan dan raungan para wanita. Orang-orang kesayangan mereka entah di mana rimbanya. Kadang pula kudengar satu pinta mereka, untuk mendapatkan belahan hati mereka dalam keadaan mati, bukan dibiarkan menderita dan disiksa seperti nasib sebagian besar anak bangsa yang lain.

So are you,” balasku dengan senyum kecil. Garis-garis keriputnya tidak mampu menutupi ketampanan yang pernah dimiliki pria itu. Kegagahan dan kecerdasan yang berhasil menipuku beratus-ratus tahun lamanya.

“Semoga tahun depan Borneo tidak terbakar lagi, ya?”

Semburat merah timbul di pipiku. Sungguh mereka senang membesar-besarkan. Borneo terbakar tiap tahun. Hanya karena tahun lalu kebakarannya lebih hebat, tiba-tiba semua orang gempar. Aku langsung menjadi bahan hujatan teman-teman dan musuh-musuh lamaku. Terutama Merlion dan Hang Tuah, mereka tidak berhenti protes karena menganggap bahwa asap yang mereka dapatkan sangat mengganggu. Padahal mereka belum mencoba asap yang ada di Borneo.

Respon mereka sedikit berlebihan sebenarnya. Anak-anakku yang setiap tahun menjadi korban asap Borneo saja tidak banyak berbicara. Meski banyak dari mereka yang terpaksa dirawat di rumah sakit dan beberapa tak kuasa dijemput maut, tidak banyak yang berteriak sekeras Merlion dan Hang Tuah.

“Borneo!” panggilku, setengah berteriak.

Borneo tergopoh-gopoh ke arahku. Tadi kulihat ia sedang berbicara serius dengan Batavia, tangannya bergerak ke sana kemari. Alangkah penasarannya diriku dibuat mereka. Apa mungkin mereka membicarakan serah terima jabatan dari Batavia ke Borneo?

“Iya, Bu?”

Aku mengangguk kecil ke arah Merlion sebelum lantas berbalik badan. Kedua tanganku diletakkan di pinggang. “Tuh, dengar kata Merlion! Ibu bilang juga apa. Jangan suka bakar hutanmu sembarangan! Sudah gundul juga masih ngeyel.”

“Iya, iya.”

Belum selesai dengan Borneo, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahuku. “Don’t forget to teach your kids manners. They kept calling me Sipit last year.”

Senyum basa-basi tak kuasa keluar dari bibirku. Dibandingkan dengan Netherlands, hubunganku lebih baik dengan Sakura. Walaupun mereka pernah sama biadabnya terhadap diriku dan anak-anakku, Sakura banyak membantu perihal kendaraan dan teknologi. Kendaraan buatan anak-anakku saja sampai tidak sempat kuperhatikan karena bagusnya kendaraan ciptaan Sakura.

Ah, netizen. Sorry, Sakura, but I’ve given up on them. They just love to spread the hate, I don’t even know why. They inherited it from nobody.”

Sering aku malu melihat anak-anakku di dunia maya. Mereka sama sekali tidak menunjukkan karakter yang diajarkanku dan ayahku Nusantara. Tidak punya daya juang, tidak punya nilai jual. Tahunya hanya nyinyir dan sok pintar sampai turah-turah. Tuhan bahkan mereka tidak punya. Kalau punya, mana mungkin mereka menyembah-nyembah ratu lambe di dunia maya? Tidak sadarkah mereka bahwa perbuatan nyinyir dan sirik mereka membuat mereka terlihat jauh lebih bodoh dari aslinya?

“Ambooi, selamat hari lahir, lah!” Hang Tuah, saudaraku di seberang. Korban nyinyiran anak-anakku yang paling sering. Di internet mereka bilang Hang Tuah suka mengklaim budaya macam-macam, tapi mereka lupa kalau budayaku dan Hang Tuah memang mirip. Bukan salahku, dan tentu saja bukan salah Hang Tuah. “Rindu sekali awak pada budak-budak kau! Mana Reog, Pendet dan Angklung?”

“Di rumah, Hang.” Lagi-lagi aku mengulum senyum. Hang Tuah dari dulu sangat suka dengan tiga anakku yang itu, sampai-sampai dituduh mengklaim mereka. Namun tak apa, aku justru senang. Kalau ia tidak dituduh mengklaim mereka, mana mungkin anak-anakku yang lain tahu kalau mereka bertiga ada? Generasi pemimpinku yang sekarang bukannya hanya tahu budaya barat dan Korea?

Don’t forget to pay your debt.”

“Yes, Koh!” Aku mengangguk antusias ke arah Koko RRC. Hutang ke RRC tidak seberapa dengan hutangku ke Merlion. Paling tahun depan juga anak-anakku sudah bisa melunasi RRC.

Gather up everyone! The song is going to start!” pekik Marianne, menghentikan seluruh pembicaraan di ruangan.

Marianne, si Cantik. Temanku yang satu ini paling mengerti seni, juga paling menghargai. Aku tidak heran melihatnya sudah duduk tenang di barisan paling depan, menunggu anak-anakku mulai bernyanyi.

“Indonesia ibu pertiwi . . . Kau kupuja kau kukasihi . . . Tenagaku bahkan pun jiwaku . . . Kepadamu rela kuberi . . .”

Diana Wijayanti