Di Balik Penerbitan Tabloid Institut Edisi 56

0
94
Tabloid Institut Universitas Islam Negeri Jakarta edisi ke 56. Foto : Dok LPM Institut

Liburan itu fana, deadline itu abadi. Itulah kalimat yang terlontar dari mulut salah seorang anggota Lembaga Pers Mahasiswa Institut Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada akhir Agustus lalu. Pasalnya, paska perkuliahan semester genap kemarin mereka hampir tidak liburan karena pelaksanaan KKN bersamaan dengan libur semester genap. Usai KKN, rapat redaksi Tabloid Institut ke-56 harus segera digelar.

Jumat 31 Agustus, kala mahasiswa tertidur lelap, menyiapkan energi untuk kegiatan perkuliahan, kami insan pers kampus, begadang hingga fajar. Tak lain mempersiapkan tema yang pantas disajikan kepada para pembaca majalah kampus kami.
Dua hari kemudian, proses liputan dimulai, narasumber mulai dihubungi untuk meminta waktu wawancara.

Inilah antara lain pengalaman para reporter Institut. Rifqi Ibnu Masy sempat kesulitan menemui nara sumber yang merupakan pejabat di kampus. “Assalamu’alaikum pak, saya Rifqi Ibnu Masy dari LPM Institut. Saya ingin mewawancarai bapak terkait pemilihan rektor UIN Jakarta. Kapan bapak bersedia?,” kata Rifqi menceriterakan isi pembicaraan lewat telepon saat menghubungi salah seorang narasumber. “Besok, Selasa (4/9) yak , jam 13.00 di ruangan saya,” begitu jawab sang pejabat.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, hingga pukul 17.00 narasumber tak kunjung datang

Keesokan harinya, setelah kegiatan perkuliahan, pukul 12.00 Rifqi langsung menuju ruangan yang bersangkutan. Sudah menjadi keharusan reporter untuk datang lebih awal dari waktu yang ditentukan, sehingga Rifqi pun demikian. Pukul 12.30 Rifqi sudah berada di depan ruangan narasumber. Melihat kondisi kantor sepi, Rifqi menanyakan keberadaan penghuni. “Saya lagi rapat, tunggu dulu yak,” ujar Rifqi mengulang jawaban narasumber tersebut kepada Rifqi. Ia pun menurut.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, hingga pukul 17.00 narasumber tak kunjung datang. Sadar telah menunggu lima jam lamanya, Rifqi pun menanyakan kembali keberadaan pejabat tersebut. “Saya sudah pulang, tadi setelah rapat langsung pulang. Besok saja, datang lagi,” begitu jawabannya. Mendengar jawaban itu Rifqi merasa geram.
Lain Rifqi, lain juga Sukri. Mahasiswa jurusan ushuludin ini mendapatkan pengalaman yang cukup menjengkelkan. Saat menghubungi narasumber terkait pengelolaan gedung. Ia harus keliling menemui pejabat kampus yang berwenang. Mulai dari Wakil Rektor bidang Administrasi Umum, lalu kepala bagian umum, Biro AUK, serta beberapa Wakil Dekan II yang mengatakan bukan wewenangnya.

Lempar tanggung jawab

Akhirnya ia kembali lagi ke wakil rektor. Hal tersebut terjadi lantaran pejabat-pejabat yang ditemui saling lempar tanggung jawab terkait hal yang ditanyakan. “Capek saya,” kata Sukri mengeluh. “Sebenarnya, ini tanggung jawab siapa, kok enggak ada yang mau ngaku,” lanjutnya.

Sadar waktu untuk menyelesaikan liputan kurang dari satu bulan, para reporter gigih mengejar narasumber yang sering kali mengelak. Sekalipun sudah mendapat data dan konfirmasi berkait tulisan tentang pemilihan rektor UIN Jakarta, kami di redaksi terus melakukan proses verifikasi berkali-kali untuk memastikan kebenaran keterangan narasumber. Begitu juga dengan pencocokkan dengan data tertulis. Demi menyajikan informasi akurat dan benar awak redaksi sampai rela bermalam di kampus berhari-hari.

Kegigihan itu akhirnya berbuah manis. Akhirnya Tabloid Institut edisi ke-56 terbit tepat waktu.

Meskipun usaha kami sudah maksimal toh kadang-kadang ada saja yang luput dari pantauan, sehingga berujung pada hak koreksi atau ralat. Namun itu semua terbayar lunas, tatkala kami dapat tidur nyenyak dan tabloid yang kami susun mendapat respon positif berupa adanya perubahan, dan tindakan nyata para pengambil keputusan.

Tabloid Institut edisi 56 bisa Anda baca di www.lpminstitut.com. Selamat membaca!.

Muhamad Ubaidillah, mahasiswa Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta