Tersesat di Universitas Indonesia

0
301
Kelompok Cakrawala sedang menuju ke Gedung Rektorat UI. Foto: Brigitta Karenza

 

Pada hari keempat magang, kami Kelompok Cakrawala sepakat untuk melakukan liputan di Universitas Indonesia. Perjalanan menuju ke Universitas Indonesia ditempuh sekitar 1 jam dari Stasiun Palmerah. Saat di kereta, kami bertemu juga dengan Kelompok Bersimu yang kebetulan satu arah dengan tujuan kami. Namun, mereka terlebih dahulu turun di Stasiun Pasar Minggu.

Sementara itu, kami turun di Stasiun Pondok Cina setelah mencari sejumlah informasi melalui internet. Menurut informasi, di dekat Stasiun Pondok Cina terdapat banyak kedai kopi.

Tiba di Universitas Indonesia, kami bingung ingin pergi ke mana terlebih dahulu karena belum membuat jadwal kegiatan. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkeliling Universitas Indonesia sembari mencari narasumber yang akan kami survei seputar kopi.

Oh iya, tema liputan kami ialah seputar kopi. Menurut kami, zaman sekarang ini banyak mahasiswa yang menjadikan kopi sebagai bagian dari hidupnya. Kopi juga menjadi teman begadang bagi sebagian mahasiswa untuk mengerjakan tugas.

Kembali lagi ke cerita perjalanan liputan ini, kami bertemu dengan narasumber dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang dari jurusan Sastra Arab, Sastra Rusia, Komunikasi, Akuntansi, dan masih banyak lagi. Yang paling menarik, kami bertemu narasumber dari jurusan Komunikasi Vokasi UI 2014 bernama Zefanya Louis Pandia. Ia memberikan pandangannya seputar kopi. Usut punya usut, ternyata Zefanya Louis Pandia ini adalah Duta Wisata Tapanuli Tengah 2014. Hebat, bukan?

Fakta menarik kedua, kami melakukan liputan yang bertepatan dengan momen sidang para mahasiswa Universitas Indonesia. Kami pun bertemu dengan mahasiswa dari universitas lain yang ingin memberikan hadiah bagi temannya yang telah lulus sidang. Dari sini kami belajar bahwa walaupun berbeda universitas, berbeda tempat belajar, bukan berarti sebuah pertemanan harus putus. Justru dengan adanya perbedaan itu, kami harus bisa berbagi pengalaman dari sekolah masing-masing.

Ketika di kantin Fakultas Ilmu Budaya, kami bertemu dengan mahasiswa baru yang masuk melalui Seleksi Nasional Masuk Pergururuan Tinggi Negeri (SNMPTN) jurusan Sastra Indonesia. Ia bernama Ragil Putra Hadi Yanto yang merantau dari Kota Jambi. Ia juga mengutarakan pendapatnya dari sisi positif dan negatif seputar maraknya kedai kopi yang bermunculan baru-baru ini.

“Semoga bisa masuk sini, ya adik-adik,” ujar Mas Ragil yang tentunya sangat memotivasi kami untuk dapat menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia.

Setelah berbincang-bincang sekitar hampir 30 menit, kami pun pergi ke Bikun Coffee untuk mencari narasumber lain.

Bikun Coffee terletak tidak jauh dari perpustakaan Universitas Indonesia. Mengusung tema kafe yang berada di dalam sebuah bus, tempat ini punya daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Kami juga berhasil mewawancarai karyawan part-time dari Bikun Coffee yang merupakan mahasiswa Politeknik Negeri  Jakarta. Mba Viki, sapaannya. Ia mengatakan bahwa sebagai mahasiswa juga perlu praktik, tidak hanya mempelajari sebuah teori. Di samping mencari uang jajan tambahan juga.

Tepat di depan Bikun Coffee, terdapat Masjid yang sangat luas. Kami pun memutuskan untuk beribadah dan istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan berikutnya. Setelah 30 menit, kami segera pergi menuju stasiun karena harus melakukan liputan di tempat lain.

Liputan di Universitas Indonesia memberikan kami beberapa kesan mendalam yang mungkin saja tidak bisa ditemukan di tempat lain.

 

Alvito Abimanyu
Magangers Batch X – Kelompok Cakrawala