Terdampak

0
41

Aku bergegas pulang ke asrama, ibuku menelepon. Aku bahagia, setidaknya, setelah sekian bulan aku tak mendengar suaranya, akhirnya aku bisa mendengar suara yang menenangkan itu.

“Assalamualaikum, bu, kenapa bu, telepon”

“Waalaikumsalam, wong ditelpon kok malah nanya kenapa kamu itu lho

“Iya, bu, iya, ada apa bu”

“Ya, kamu kapan pulang Jo, ini sudah berjalan minggu terakhir  ramadhan lho Jo”

“Nggak tahu bu”

Lho, nggak tahu gimana? Apa kamu nggak mau pulang? Nggak kangen ibu? Nggak krasan di rumah?”

“Nggak gitu bu, kan ibu yang bilang, kan, katanya aku suruh yang krasan di pesantren? Ibu belum jadi pelupakan, bu?”

“Oh, iya ya, sekarang kamu malah nggak krasan dirumah”

“Ibu, bukan itu maksudku bu”

“Ya udah, kapan kamu pulang, ibu sudah buat daftar menu buat kita buka puasa kalo kamu pulang lho ya. Ibu juga sudah bikin beberapa jenis kue. Nanti kamu kasih sebagian ke tetangga ya.”

Ibu mendesak untuk aku menjawab kapan pulang. Aku sungguh tak ingin pulang, bukan karena tak rindu rumah, atau tak rindu ibu. Tapi karena keadaan yang begini memaksa untuk tetap berada dalam satu tempat dan tak kemana-mana.  Negaraku yang terdampak virus, membuat pemerintah memberlakukan beberapa peraturan yang tak seperti  tahun dan bulan-bulan yang lalu.

“Jo, kapan kamu pulang jo”

“Iya bu, teleponnya nanti lagi ya, bu, Dirja harus ngaji sekarang. Assalamualaikum.” Ku tutup telepon tanpa menunggu jawaban dari ibu.

Ku berikan telepon genggam hitam jadul itu kepada penggurus pesantren  yang sedari tadi menungguku bertelepon.

Aku segera pergi meninggalkannya, tanpa satu koinpun ku berikan padanya. Ia tak berkomentar, mungkin karena ini bukan hari biasa.

Hampir dua bulan, pesantren tempatku menimba ilmu diliburkan. Beberapa anak dipulangkan dengan beberapa pertimbangan dari pemimpin yayasan pesantren ini. Aku sungguh punya banyak rencana tahun ini,. Dan sebelum aku berusaha menggapainya, ternyata sudah lebih dulu dicoba dengan adanya wabah yang melanda dunia.

Baru kali ini, ada kejadian yang efeknya hingga pondok pesantren diliburkan, hingga waktu yang sepanjang ini. Hingga sebagian besar anak harus dipulangkan dari pondok, meski tak menginginkannya. Bahkan, pondok pesantren yang santrinya ribuan, mereka diharuskan belajar dirumah, tanpa kawan sepermainan tanpa kawan bullyan.

Tidak pulang saat lebaran, sepertinya akan berat jika aku bayangkan dari sekarang,

Ini sungguh berat. Menggingat, beberapa di antara kami sudah terbiasa beramai-ramai di pondok, tiba-tiba harus menyendiri di rumah. Dengan tetangga yang mulai asing karena jarang di rumah. Dan harus mengakrabi kembali, kawan lama yang sudah terbiasa tak bersama.  Mereka yang dipulangkan, harus berusaha belajar daring.

Dan yang terberat adalah merindukan rumah bagi yang tinggal di pesantren, sementara yang di rumah merindukan pesantren dengan segala aktivitasnya. Diantara kami sama-sama merasakan kebosanan. Merasa tak nyaman hanya jadi generasi rebahan, anak pondok pesantren terbiasa berlomba dalam beberapa hal, yang tak bisa didapatkan jika hanya diusahakan dengan rebahan.

Semalasnya anak pesantren, ketika di pondok, aktivitasnya padat. Tidak mungkin untuk meninggalkan keseluruhan aktivitas dengan menjadi kaum rebahan, kecuali mereka yang sakit, atau memang berkeinginan untuk pulang tapi tak keturutan.

Aku berusaha menenggelamkan diri dalam kesibukan, berusaha tak rindukan rumah, tak rindukan ibu terlalu dalam. Aku menyusuri lorong asrama bercat arena balapan di bagian temboknya.  Ku sambar handuk, ember, dan peralatan mandi di kamar. Aku ingin membersihkan badan, menenangkan pikiran.

Tidak pulang saat lebaran, sepertinya akan berat jika aku bayangkan dari sekarang, itu akan membuatku tak bersemangat, tak bergairah dalam melakukuan aktivitas keseharian di pondok.  Biarlah ini berlalu dulu, lebaran masih beberapa hari lagi, aku harus menghabiskan bulan suci ini dengan semangat beribadah.

Saat aku baru meletakkan alat mandiku, aku di teriaki salah seorang anak yang melintas dengan tergesa.

“Ibumu, telpon

Aku mulai gusar, ia pasti akan bertanya lagi.

“Assalamualaikum, bu”

“Walaikumsalam, jo, udah selesai ngajinya kan? biasanya jam segini, kamu bilang udah selesai. Kapan kamu pulang ke rumah?”

Aku memikirkannya masak, aku harus bilang pada ibu sekarang, biarlah ia tak terlalu mengharapkan kepulanganku lebaran kali ini.

“Bu, aku nggak pulang”

“Lho, kenapa? Kakakmu juga nggak pulang lho Jo, masak kamu juga nggak mau pulang?”

“Dirja nggak bisa pulang bu, di sini lockdown bu. Nggak ada angkot yang bisa nganggkut Dirja pulang bu.”

“Oh…..” Suaranya terdengar bergetar, telpon mati sebelum ibu salam.

Kukirimkan pesan  ke nomor telepon ibu “Bu, kata seorang guru di sini, dengan atau tidak dengan orang tua, lebaran tetap hari kemenangan bagi kita. Dirja akan pulang bu, tapi nggak tahu kapan. Do’akan saja bu, semoga pandemi ini segera berakhir bu. Salam rindu Dirja buat ibu. Telepon aku malam lebaran ya bu.”.

Aku kembali ke kamar santri, menikmati luka yang melegakan ini. Aku tentu rindu rumah, masakan ibu, kawan lamaku, dan semua tentang tempat asalku. Tapi, aku harus belajar, untuk tidak melulu bersama kenyamanan itu. Pandemi, mengajarkan aku tentang berartinya mereka, sekaligus mengajarkan aku, untuk tetap tegar dalam kesendirian.

Tirta Danudirja