Kendalikan “Game”, Bukan Sebaliknya

0
1070
Ratusan pemain game Pokemon Go berburu Pokemon di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (17/7). Mereka berburu di titik Pokestop yang diyakini muncul banyak Pokemon.Iqbal Basyari (C09) 17-07-2016

Pernah kecanduan ”game”? Mungkin banyak yang pernah ketagihan, tetapi tidak terlalu parah. Kecanduan itu kini bisa kambuh lagi gara-gara muncul Pokemon Go yang seru karena pemain harus keluyuran demi menangkap monster kecil menggemaskan.

Nah, si pemain harus rajin bergerak dan berpindah-pindah ini yang membuat game keluaran Niantic ini berbeda dengan game-game sebelumnya yang sering dimainkan dengan duduk diam di tempat. Permainan berbasis realitas berimbuhan atau augmented reality (AR) yang diluncurkan 6 Juli 2016 itu sukses menyihir jutaan orang.

Fenomena Pokemon Go pun memicu pro kontra. Mereka yang kontra menilai, game ini berbahaya karena pemainnya sering kali lalai dengan sekitarnya gara-gara keasyikan memburu si monster imut. Selain itu, tak jarang si monster muncul di tempat-tempat tak lazim untuk bermain game, semisal rumah ibadah, taman pemakaman, atau gedung dan area terlarang seperti markas tentara, kantor pemerintahan, dan museum.

Mereka yang pro beranggapan, game dapat membantu si pemain menjaga berat badan karena mengajak terus aktif bergerak. Permainan ini juga punya banyak istilah sehingga dapat menambah perbendaharaan kata. Game ini juga asyik untuk menambah teman karena para pemain sering berkumpul di suatu tempat yang banyak pokemon-nya.

Di Indonesia, mungkin dampak terlalu asyik menangkap pokemon belum separah di negara-negara lain. Tapi, sebenarnya juga sudah mulai menyerempet bahaya. Coba ingat kekonyolan Romain Pierre (27), warga Perancis, saat di Cirebon, Jawa Barat. Saking asyiknya berburu monster pokemon, ia hampir menerobos pintu gerbang Kodim 0614 Kota Cirebon, Senin (18/7), menjelang tengah malam.

Di negara-negara lain, banyak musibah akibat game ini. Di Amerika Serikat, ada pencari pokemon yang jatuh ke sungai hingga tewas, dibawa ke tempat sepi kemudian dirampok, hingga tersangkut di pohon di tengah pekuburan gara-gara kelewat heboh mengejar si pocket monster tersebut.

Di Bosnia, ada larangan bermain pokemon di area ranjau darat. Imbauan yang wajar. Ngeri, kan, gara-gara asyik berburu malah tewas terkena ledakan ranjau.

Lain halnya dengan Korea Selatan yang memblokir Google Maps di wilayahnya sehingga di negeri itu tiada pokemon, kecuali di kota Sokcho di wilayah Gangwon, bagian utara Korea Selatan dan berada di dekat perbatasan. Alhasil, banyak warga ”negeri ginseng” itu yang beramai-ramai berburu di sana. Banyak pula yang rela mengambil cuti ke sana hanya untuk menangkap si monster menawan itu.

Masih banyak orang menganggap lebih baik bermain game ketimbang mencicipi narkoba. Padahal, keduanya dapat menimbulkan kecanduan yang harus ditangani serius. Betul, pada porsi yang tepat, bermain game dapat mengasah otak, membantu menyusun strategi, dan meningkatkan motivasi.

Namun, ketika terus-menerus ingin menjadi nomor satu hingga menghabiskan waktu hingga belasan jam per hari hanya untuk game, efek negatif mulai muncul. Sebut saja, dapat mendorong perilaku agresif, terutama game dengan tema kekerasan dan mengabaikan kebutuhan lain, seperti makan, mandi, tidur, dan bersosialisasi.

Terlalu lama bermain game juga dapat mengganggu kesehatan berupa kram tangan, mata lelah, hingga serangan jantung. Sering kali keasyikan main game memicu amarah karena ditegur dan terobsesi untuk terus bermain. Banyak pula yang berbohong dengan menyembunyikan kecanduannya. Bukan itu saja. Pecandu game juga sering tak mampu mengendalikan diri dan permainan terus-menerus yang akhirnya memengaruhi otak.

Hiburan

”Hindari bermain game online apa pun di jalan raya, juga ketika turun naik tangga. Selalu pastikan keamanan sekitar,” kata Moh Luthfi Syamsudin, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Dia berpendapat, banyak manfaat dari bermain game, antara lain sebagai hiburan, melatih kekuatan logika, kecepatan berpikir, dan menyusun strategi. Namun, dia menyarankan agar pemain disiplin dalam mengatur waktu dan tempat. ”Tak ada gunanya lupa diri bermain gamejika akhirnya merugikan diri sendiri,” ujarnya.

Dicky Aditya (19) dan sejumlah temannya sedang berburu pokemon menggunakan gawai yang telah terpasang aplikasi pokemon go di Bandar Lampung, Kamis (14/7). Aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan permainan Nantic tersebut digemari masyarakat karena cara bermainnya yang unik. Kompas/Angger Putranto (GER) 14-07-2016
Dicky Aditya (19) dan sejumlah temannya sedang berburu pokemon menggunakan gawai yang telah terpasang aplikasi pokemon go di Bandar Lampung, Kamis (14/7). Aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan permainan Nantic tersebut digemari masyarakat karena cara bermainnya yang unik.
Kompas/Angger Putranto (GER)
14-07-2016

Pendapat senada disampaikan Mukhamad Hamid Samiaji, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. ”Game-game tertentu, seperti puzzle, bisa mengasah kecerdasan dan menghilangkan stres asal waktu bermain tepat,” katanya.

Selalu ingat waktu dan tempat serta tak melupakan tugas adalah cara untuk meminimalkan mudarat game. ”Jika bermain lebih dari 4 jam sehari, malah akan mendatangkan penyakit,” ujarnya.

Game ini dapat menyehatkan dan memicu interaksi sosial dengan terbentuknya berbagai komunitas. Akan tetapi, perlu kesadaran diri agar tidak mengganggu tugas pokok penggunanya,” kata Sarjoko, mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Mahasiswa lainnya, Alboin Christo Veri Samosir dari Program Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Simalungun, mengingatkan, jangan sampai permainan apa pun mengendalikan kita. ”Diri kita yang harus mengendalikan permainan tersebut,” ucapnya. (TIA)


ARGUMENTASI

Hiburan Bukan Kebiasaan

kholidia evening mutiara Arsip Pribadi 28-07-2016
Kholidia Efining Mutiara, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, (FB: Adinda Meutia)

Setiap manusia memerlukan hiburan. Salah satunya, bermain game online seperti Pokemon Go.Tidak masalah, asalkan permainan itu untuk hiburan diri dan menghilangkan kepenatan. Saat bermain, kita tidak boleh lupa dengan aktivitas lain sehingga kita tidak terjebak dengan keasyikan game yang menguras waktu.

Tentukan Porsi

VANBASTEN MELIALA Arsip Pribadi 28-07-2016
Vanbasten Meliala, Jurusan Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Keasyikan bermain game online, seperti Pokemon Go, membuat banyak orang mengunduh dan memainkannya. Apalagi, game ini menuntut pemainnya berburu dan berjalan ke sana kemari.

Namun, kita harus bijaksana memainkannya. Jangan sampai kita melupakan kewajiban sehari-hari. Caranya, tentukan porsi bermain game per hari, misalnya hanya saat waktu luang. Game adalah kegiatan saat senggang, bukan pekerjaan utama.

Bijak Bermain

Iwan Ridwan Arsip Pribadi 28-07-2016
Iwan Ridwan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. (Fb: Iwan Al’Wadi).

GamePokemon Go mulai mewabah di Indonesia. Penggunanya seolah tersihir. Game ini menuntut penggunanya berjalan-jalan. Mereka yang sibuk berburu tak sadar menabrak tiang dan akhirnya tersesat tak tahu jalan.

Sisi positif game ini bisa mempertajam kepekaan membaca peta informasi, menambah perbendaharaan kata dan mempererat pertemanan. Bahkan, game berpotensi meningkatkan daya literasi. Sisi negatifnya, game ini bisa memicu kecelakaan di jalan dan membuka peluang aksi kriminal karena pemainnya lalai memperhatikan sekitar.

Karena itu, orang mesti bijak memainkan game ini, yakni bermain saat senggang atau libur. Pemainnya juga mesti peduli lingkungan, dan jangan berburu monster Pokemon Go saat berkendara atau di rumah ibadah