Pada Titik Tak Terlihat Ini, Aku Hidup.

0
105

Malam itu, tepat pada pukul sembilan, aku berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh perkebunan teh dan bebatuan yang tertata sangat rapi. Sudah dua tahun lebih aku berkelana, tak pulang ke rumah, dan selalu melihat pemandangan seperti ini. Manusia mana yang bisa-bisanya memikirkan atau bahkan dengan relanya menghabiskan waktunya untuk melakukan sesuatu hal dan menjadikannya terlihat sesempurna ini, kataku.

Namun tidak bisa dipungkiri, pemandangan dari kesempurnaan yang dibuat oleh perkebunan teh dan bebatuan, suasana malam yang cerah dengan menyodorkan lukisan langit yang terdiri dari bulan dengan kebulatannya yang sempurna. Awan yang terlihat samar-samar dengan pelan bergerak seperti sedang digembala oleh angin, dan bintang-bintang yang berkelap-kelip secara abstrak seperti sedang dikendalikan oleh alien untuk meriahkan pesta tahunan itu, adalah pemandangan yang begitu menakjubkan untuk dinikmati.

Sedikit merasa lelah, aku kemudian terduduk di atas sebuah batu yang lumayan cukup besar. Mengeluarkan botol termos berisikan kopi hitam, kuseruput sedikit isinya, lalu merebahkan badanku sebentar, niatku.

Suasana saat itu terasa tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan sebuah alunan musik favoritku. Tanpa berpikir panjang, aku mengeluarkan smartphone dari saku, memasangkan sebuah earphone, lalu menyetel musik dari playlist yang berjudul “Mbuh” dengan suara penuh—kebiasaanku dalam mendengarkan musik dalam keadaan suara penuh sudah kulakukan sejak dulu, bahkan jika ada seseorang yang berada di dekatku memanggil, aku tak akan pernah sekali pun bisa mendengarnya dan mereka selalu berkata bahwa aku itu autis.

Musik mulai terdengar dan aku memutuskan untuk menutup mataku, membayangkan alur cerita seperti apa yang akan dibuat oleh otakku sendiri yang dikemas dalam bentuk imajinasi. Kau begitu ahli dalam hal ini, memanipulasi sebuah realita yang ada di kehidupan dan membawaku menuju ke dalam realita ciptaanmu adalah bakat yang kau punya. Otak sialan, kataku dalam hati.

Tiba-tiba, pikiranku sedikit terketuk oleh sebuah kalimat yang ada di dalam musik yang aku dengar. Aku dapat merasakan sesuatu yang membuat imajinasiku membawa diriku sendiri masuk ke suatu tempat dengan begitu pelan, dalam keadaan terjatuh.

“Not everything you hear should sound like the truth.”

Lirik dari suara nyanyian itu membuatku semakin jatuh ke dalam imajinasi dan membuatku setuju bahwa itu benar adanya di dalam kehidupan. Tidak semua yang terdengar itu tertuju pada sebuah kebenaran. Karena begini, apa yang terdengar akan dianggap benar jika sesuai dengan apa yang diinginkan. Semua akan terdengar salah jika tidak sesuai dengan apa yang sedang diinginkan.

Entah terdengar baik atau buruk, keras atau pelan, nyaring atau merdu, dan cepat ataupun lambat. Dari sini, aku setuju bahwa kita benar-benar hidup di alam serba relatif. Dan aku, secara pribadi, tidak akan bisa menolak sesuatu yang relatif. Dan mungkin, untuk beberapa orang, banyak yang tidak terima dengan sesuatu yang relatif, dan tetap bersikeras tentang hal yang mereka percayai berdasarkan egoisme dan kebahagiaan mereka sendiri.

Ternyata, imajinasiku terhenti di suatu tempat, begitu pun juga diriku yang ikut terhenti dan berada tepat di tengah-tengah tempat itu. Sebuah keluarga. Aku tersenyum sinis, sedikit tidak terima dengan apa yang imajinasi lakukan sehingga membuatku berada di tempat ini, lagi.

Dulu sewaktu kecil, kehadiranku disambut hangat oleh orang tua dan keluargaku. Para tetangga pun tak mau melewatkan momen kehangatan itu. Banyak sekali ucapan kepada kedua orang tuaku—yang sedang menggendongku sambil menyanyikan lagu anak-anak dengan harapan aku dapat mengerti apa yang mereka nyanyikan—yang terdengar perihal kelucuan, momen manis, kegemasan, ataupun kegantengan.

Berbagai macam doa pun dipanjatkan oleh banyak orang kepadaku. Mulai dari doa-doa agar aku menjadi anak baik, anak yang tidak durhaka kepada kedua orang tua, anak yang saleh, taat agama, anak yang beruntung, yang nantinya dapat mendapatkan pendidikan tinggi lalu dapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi pula sebagai bentuk membanggakan kedua orang tua dan keluarga.

Semua itu aku jawab hanya dengan senyuman kecil, sebagai bentuk bahwa aku siap menjadi tuyul yang dapat membuat kedua orang tuaku kaya, menjadi seorang budak bagi keluarga-keluargaku nanti, menjadi secuil sampah di dalam kerumunan masyarakat—tidak bernilai, tidak dipandang, namun tetap ada.

Kemungkinan akan dinilai dan dipandang hanya untuk diperjual belikan atau didaur ulang agar menjadi produk baru ataupun memang dibiarkan membusuk dan melebur bersama tanah, dan ditemani oleh cacing-cacing yang siap menjadikanku sebagai tempat beranak pinak—ataupun menjadi badut bagi orang-orang yang membutuhkan sebuah lelucon remeh.

Aku menatap bayi itu, sedang menangis di malam hari di pelukan sang ibu. Kau begitu perasa, dan kau sangatlah hebat. Di umurmu yang masih kecil ini, kau begitu tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depanmu nanti. Teruslah menangis, tak ada yang salah akan hal itu. Karena masa depanmu memang butuh kau tangisi, kataku kepada bayi kecil itu yang tak lain adalah diriku sendiri.

Tempat itu mulai bergetar, dan semakin lama semakin besar getarannya. Tiba-tiba, terjadi guncangan yang sangat besar. Mungkin gempa atau apalah itu, yang pasti, guncangan itu melebihi gempa yang pernah ada dan terjadi di dunia. Gempa di Chile pada tahun 1960, dengan kekuatan mencapai 9,5 magnitudo pun kalah dengan guncangan yang aku alami. Terdengar sebuah ledakan juga di sekitarku. Mataku terpejam karena cahaya silau tak bisa lagi aku tahan, dan aku seketika menjadi tuli. Aku berpikir bahwa waktu itu, aku sudah mati di dalam imajinasiku sendiri.

Ternyata pikiranku salah, aku belum mati, aku masih merasakan diriku mengambang konstan, tidak bergerak sedikit pun, hanya mengambang. Aku memberanikan diriku untuk membuka mata dengan penuh rasa takut. Bagaimana jika setelah aku berhasil membuka mata, tiba-tiba ada pocong di depanku, atau kuntilanak, atau genderuwo ?

Atau bahkan macan yang siap mencabik-cabik diriku, ataupun mungkin malaikat maut yang sudah bersiap menyapaku dan kemudian membawaku untuk bertemu dengan-Nya? Aku tak akan peduli nantinya seperti apa, aku hanya butuh untuk membuka mataku dan melihat apa yang ada di sekitarku, gumam diriku.

Ruangan itu memutarkan film pendek berupa kejadian yang mungkin sangat-sangat membuatku marah, kecewa, sekaligus sedih, dan mungkin membuatku akhirnya tertawa lepas.

 

Guncangan besar itu berubah menjadi sebuah tempat yang di dalamnya terdapat berbagai macam ruangan. Ruangan-ruangan itu berjejer sangat panjang dan sangat luas, dan di dalamnya terputar sebuah adegan seperti film pendek yang biasa kita lihat di YouTube atau di media sosial mana pun. Bajingan, aku lebih memilih melihat malaikat maut di depanku daripada harus melihat diriku sendiri di setiap ruangan itu, kataku dengan ekspresi sedikit tertawa.

Di sana, diriku bagaikan pemeran utama di film pendek itu sendiri. Aku dapat melihat apa yang sudah pernah kualami sejak aku kecil. Aku pernah hampir mati lebih dari tiga kali, jatuh dari sepeda di jalan yang menurun dengan kecepatan tidak normal sehingga mendapatkan luka mulai dari bibir sobek dan lidah yang berlubang, yang harus dijahit agar bisa menyatu lagi. Darah beku di kepala dalam bentuk benjolan yang harus dikeluarkan melalui jarum suntik.

Luka-luka lecet lainnya yang bersarang di bagian tubuhku, sesak nafas di malam hari yang membuatku segera dilarikan ke IGD berkali-kali dan mendapatkan bantuan alat pernapasan dari rumah sakit untuk sementara waktu. Dua kali hanyut di sungai di saat aku memberanikan diri untuk berenang. Berharap waktu itu juga aku tiba-tiba menjadi perenang profesional yang banyak prestasi, tapi realita memukulku keras, dan aku hanyut di sungai.

Malaikat maut menyelamatkanku dengan cara tidak mencabut nyawaku. Tetapi, di sisi lain, aku jengkel kepadanya sebab tak mau mencabut nyawaku dan membiarkanku menjalani hidup sampai sekarang ini. Jika nanti aku bertemu dengannya, aku yang akan lebih dulu mencabut nyawanya, kataku dengan nada meledek.

Sedikit demi sedikit, dengan perlahan, aku bergerak menjelajahi tempat itu, mencari-cari apa yang membuatku harus bergerak. Sekilas, terlihat ada tiga ruangan yang redup, dan membuat diriku tertarik untuk melihatnya. Ruangan itu memutarkan film pendek berupa kejadian yang mungkin sangat-sangat membuatku marah, kecewa, sekaligus sedih, dan mungkin membuatku akhirnya tertawa lepas. Dan ketiga ruangan itu sedikit berbeda dengan ruangan lainnya—karena temboknya bukan putih melainkan abu-abu.

Ruangan satu, memutarkan sebuah adegan pada saat ayahku sendiri sering melakukan kekerasan di dalam rumah tangga kami. Pulang dalam keadaan mabuk, lalu tanpa alasan yang logis langsung menghajar ibuku seperti menghajar seorang maling yang tertangkap basah karena ketahuan mencuri celana dalam seorang waria, dan aku berada di pojok kamar, terduduk kaku.

Alasan logis itu pun datang, kekerasan itu terjadi karena dipicu oleh keahlian ibuku dalam menangkap kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahku sendiri. Dan kemudian, hukum berlaku dengan semestinya. Seseorang yang main hakim sendiri itu berhasil dijebloskan ke penjara. Ayahku sendiri menjadi seorang narapidana dalam kurun waktu enam bulan, membiarkan kami berdua menikmati hidup tanpa ada sosoknya bersama kami.

Ruangan kedua, ruangan yang paling aku benci seumur hidupku. Dan mungkin jika adegan itu tidak berjalan dengan lancar, bisa saja aku membenci Tuhan dan bersumpah tidak akan pernah menyembah-Nya lagi. Aku melihat seorang wanita terkapar lemas di dalam kamar, dengan keadaan mulut penuh dengan busa. Tangan kanannya menggenggam sebuah gelas yang airnya sudah tertumpah di atas kasur, dan tangan kirinya menggenggam bungkusan kecil bertuliskan “Mao Wang” yang dapat dibeli di warung-warung kecil.

Ibuku, dengan mengikuti egoisme dirinya sendiri, meminum racun itu. Dengan sigap, tanpa basa-basi, aku memanggil bapakku dan langsung membopongnya ke atas motor dengan tujuan langsung ke IGD. Di jalan, dengan perasaan sedih bercampur bangga, aku bagaikan seorang presiden yang di mana semua jalan ditutup dan hanya bisa dilalui oleh aku dan keluargaku. Namun perasaan itu tak berlangsung lama.

Sesampainya di IGD, diriku tidak dapat merasakan apa pun selama beberapa waktu. Diriku hanya seperti orang yang menyisakan tubuh yang terduduk lemas, tidak ada nyawa di dalamnya, tidak ada kehidupan di dalamnya, namun masih saja bernafas. Perasaan itu hilang seketika berbarengan dengan sadarnya ibuku yang setelah sekian jam terbaring, dengan selang kecil—yang selalu diisi cairan susu putih tanpa henti oleh dokter dan kemudian ibu memuntahkan semua cairan itu secara terus menerus—yang masuk ke dalam hidungnya.

Oh Tuhan, kau memang tak mau untuk dibenci oleh orang sepertiku, dan dengan senang hati aku bersumpah. Aku akan selalu menyembah-Mu selamanya, kataku sambil menghela nafas panjang.

Ruangan ketiga, diperankan oleh diriku sendiri. Segala hal yang aku lakukan di dalam ruangan itu adalah hal yang mungkin kebanyakan tidak pernah aku sukai. Dengan keterpaksaan itu, tak tahu bagaimana caranya, diriku dengan santai dapat menikmatinya. Mulai dari keadaan di mana aku bersekolah, mengenal sebuah lingkungan yang baru, mengenal orang-orang yang baru, ataupun mengenal sebuah perasaan yang biasa disebut dengan cinta.

Terlepas dari itu semua, hidupku sungguh tidak bebas—terikat oleh sesuatu yang ada di sekitarku, keluarga, teman, ataupun orang-orang asing. Tertuntut sesuatu hal yang baik menurut mereka, yang bahkan sejatinya tidak baik untuk diriku, namun diriku memaksakan hal baik itu agar menjadi hal baik untuk diriku sendiri.

Nak, kapan kau pulang? Ibu sangat merindukanmu

Menyesuaikan segala hal yang datang berdasarkan egoisme mereka merupakan makanan sehari-hari bagiku. Rasanya ingin memuntahkan semua itu di dalam diriku, tapi tidak bisa. Makanan itu sudah tercerna menjadi protein dan energi di dalam tubuhku. Ingin rasanya untuk tidak hidup, dan juga tidak mati.

Apakah semua yang terjadi dan semua yang mereka lakukan terhadapku itu salah? Jelas tidak, karena itu juga termasuk bagian dari sesuatu yang relatif. Aku akan tetap mendukungnya, dan membiarkannya tetap mempercayai apa yang mereka percayai dan yang mereka ingin lakukan. Menurutku, kebebasan adalah hal yang harus diutamakan. Memilih area abu dari hidup yang mungkin hanya terdiri dari hitam dan putih adalah pilihan yang tepat bagiku, menurut versiku sendiri. Tidak tahu alasan mengapa aku bisa memilih itu, yang jelas, aku merasakan sebuah dorongan dari diriku sendiri menuju ke sebuah ketenangan yang utuh.

Dalam keadaan terpuruk, merasa kacau dan berantakan, kebanyakan orang merasa dirinya adalah orang yang paling tidak berguna. Tidak pantas untuk hidup, dan membayangkan kematian adalah sesuatu hal yang sangat-sangat indah—berharap bahwa kekacauan akan langsung seketika berhenti ketika sudah mati. Aku, sudah pernah berpikiran begitu ketika sedang berada di suatu tempat yang sepi, tenang, sejuk, dingin, dan gelap.

Tempat itu tinggi, menjulang ke atas bagaikan ingin menyentuh langit, lalu keluar melalui atmosfer dan mengambang di ruang hampa, menuju ke kerumunan benda langit yang mungkin sedang melakukan pertunjukan musik. Setelah berhasil menuju ke tengah kerumunan itu, ia ikut bernyanyi dan menari—bagaikan seseorang yang baru saja dan untuk pertama kalinya mendapatkan suatu anugerah indah dari Tuhan tentang rencana utuh yang berhasil dicapai dan harus dirayakan—bersama bintang-bintang dan galaksi yang mungkin sejak jutaan, milyaran, atau bahkan triliunan tahun sudah berada di atas sana.

Namun, itu semua sia-sia karena ia sudah ditakdirkan untuk tetap tertancap selamanya di bumi. Kemudian ia melihat ke sekelilingnya, tersadar akan suatu hal bahwa ia hanyalah sebuah gunung, yang tak pantas bersanding dengan bintang-bintang di atas sana. Padahal, tanpa adanya gunung, potret tentang keindahan yang selama ini dapat dilihat di bumi, tidak akan genap mendekati keindahan itu sendiri. Dan ia pantas mendapatkan pengakuan tentang keberadaannya di bumi, walaupun bintang tak pernah sesekali meliriknya dan selalu menganggap bahwa gunung itu tak pernah ada. Begitu pun juga diriku. Kita itu sama.

Samar-samar, terdengar suara kicauan burung jalak dan suara ayam hutan, diikuti oleh selesainya musik yang aku dengarkan sedari tadi, yang juga mengakhiri semua imajinasi yang terjadi. Aku segera berdiri, mengemas botol termos, air mineral, dan smartphone ke dalam tas ranselku. Aku sempat berbalik dan melihat puncak gunung itu yang di mana di atasnya terdapat cahaya terang berbentuk bulat sempurna yang juga menyinari awan-awan yang ikut menghiasi keberadaan puncak itu.

Sesuatu yang tidak ada itu sebenarnya ada, di dalam pandangan lain, di dalam realitas lain. Meskipun ada manusia yang tidak menyukaimu dan menganggapmu sebagai tempat yang mengerikan, banyak hantu, banyak hewan buas, atau mendefinisikan dirimu sebagai ladang kematian. Orang-orang sepertiku tak akan menganggapmu seperti itu karena mereka belum pernah merasakan apa yang aku rasakan. Kau tentu tidak perlu merasa bahwa dirimu sendiri, karena tanpa sadar bumi sudah memberimu tempat dan membiarkanmu tetap ada di sini.

Kau tentu akan dianggap sebagai ketiadaan bagi bintang-bintang di luar sana, karena mereka tidak tertarik dengan keberadaanmu. Entah mereka bisa melihat dirimu ataupun tidak, tapi aku melihatmu ada, kata diriku sebagai suatu salam perpisahan untuk sementara waktu kepada puncak gunung itu. Lalu, aku melanjutkan perjalanan ke basecamp yang jaraknya sekitar tiga kilometer lagi. Tak ada hal lain, selain udara dingin yang menyentuh lembut diriku, suara-suara ranting pohon yang bergoyang dengan lentuknya, dan kabut-kabut yang mulai membutakan mata.

Dan untuk Tuhan, aku tahu kau itu ada—entah bersembunyi di balik bulan, bersembunyi di balik bebatuan, bersembunyi di balik kabut, ataupun bersembunyi di dalam diriku—walaupun ada orang yang menganggap-Mu tidak ada. Dan Kau, sebagai Sang Pencipta, tentu tahu harus bersikap bagaimana tentang sesuatu yang relatif dan memaklumi segala bentuk dan sifat dari ciptaan-Mu sendiri tentang anggapan ketiadaan-Mu itu. Kau itu selalu baik, dan segala hal baik selalu menetap kepada-Mu, sambungku.

Tak beberapa lama, basecamp sudah terlihat di depan mata. Aku mempercepat langkahku, dengan menahan rasa lapar dan keinginan untuk merebahkan badan sebab setelah melihat basecamp, diriku merasa lega karena masih merasakan hidup setelah panjangnya perjalanan—dengan total empat belas jam untuk berjalan. Tiga jam untuk tidur, dan satu jam untuk duduk—yang aku lakukan di gunung itu. Smartphone-ku bergetar, menandakan bahwa sinyal berhasil masuk dan tertangkap olehnya.

Sedikit penasaran, aku langsung membuka tas ranselku dan mencari smartphone yang bergetar terus menerus. Ada enam panggilan keluar dan satu pesan dari ibuku. Firasat yang tidak enak pun berhasil dikuasai. Pelan-pelan, kubuka satu pesan singkat itu dan membacanya dengan lirih. Dan tanpa tersadar, tanpa terencana, air mataku berhasil mengalir tak terbendung.

Nak, kapan kau pulang? Ibu sangat merindukanmu.

Baik, Mah. Aku akan segera pulang.