PARVIZ

0
95

Di masa sekarang, semua orang menyebut bahwa kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Tapi, yang namanya gagal tetaplah gagal, kalah tetaplah kalah, pecundang tetaplah pecundang. Apa bedanya?! Kalau begitu, bagaimana jika sesuatu yang membuat keberadaan menang dan kalah itu tidak pernah ada? Semua yang ada di dunia hanya mengalir tanpa harus ada predikat menang atau kalah, sukses atau gagal, nomer satu, nomer dua, nomor tiga, nomor satu miliar, dan seterusnya.

Sudah jelas bukan, keinginan yang bodoh jika dilihat dari kerangka acuan para pencari tantangan yang tidak akan pernah puas akan apapun, atas pencapaian apapun, akan posisi apapun. Orang yang terus berpegang teguh dengan pertanyaan “Apa lagi yang akan aku lakukan selanjutnya?” Memang apa? Ya, putuskan sendiri.

Di sisi lain, banyak juga orang yang memutusan untuk ‘merasa cukup’. Entah bagaimana mereka mendefinisikannya, ‘cukup’ setelah berusaha sekuat tenaga atau ‘cukup’ walaupun belum satu langkah pun terlampaui. Beberapa golongan menganggap sementara yang lain aneh. Begitu juga sementara yang lain menganggap beberapa golongan itu aneh. Dan tentu saja kita tahu, tidak ada yang benar atau salah. Sungguh membingungkan.

***

Hari ini adalah hari yang sangat penting untukku. Ini kedua kalinya aku mengikuti ujian masuk Akademi Parviz. Aku hanya seorang Elf biasa yang datang dari daratan Selatan. Aku menempuh jarak ratusan kilometer ke ibukota Alixir, Monfon, untuk menjadi seorang pelajar di tahun ini. Jangan berangan tinggi atasku, karena seperti halnya para kapitalis lainnya, semua ini hanya untuk menunjang kemakmuran hidup kedepannya. Di luar untuk mencari wawasan yang jelas tanpanya kita hanyalah ciptaan yang tidak ada nilainya.

Hasil ujian akan diumumkan pada hari ini juga. Ujian telah selesai beberapa waktu lalu. Sekarang, aku mendudukkan tubuh di sebuah tempat datar yang ada di lorong akademi beserta peserta ujian yang lain. Di samping kananku, namanya Daisy, anak ibu kota. Seorang peri yang datang untuk untuk ujian masuk jurusan arkeologi. Dan di samping kiriku, ada Ezra, sahabatku sejak kecil yang datang ke sini bersamaku untuk mengikuti ujian. Untungnya, kita tidak mengambil jurusan yang sama, atau dia akan menjadi musuh terberatku di sini, dan sebaliknya. Berbincang dengan mereka membuatku sedikit lupa akan seberapa membosankannya menunggu sesuatu yang tidak pasti.

“Hasil ujian akan diumumkan sepuluh menit lagi oleh kepala sekolah,” ucap salah seorang siswa Parviz. Lebih tepatnya, yang kami tebak adalah siswa karena dia memakai seragam dan lencana Parvis di dada kirinya.

“Waw, jantungku seperti mau copot,” kata Ezra.

“Lihatlah jari-jariku yang cantik sudah tampak sepucat jari orang mati.” Yah, memang seperti itulah Daisy, penampilan harus selalu oke.

Sejujurnya, aku tidak begitu peduli akan cuatan mereka. Aku hanya tidak ingin lagi gagal tahun ini. Aku benci kegagalan dan aku benci menjadi pecundang. Siswa tadi, orang yang memberikan pengumuman, adalah temanku… “dulu”. Dia masuk akademi ini tahun lalu. Dan itulah alasan orang egois sepertiku untuk tidak mau lagi bicara dengannya. Konyol, memalukan, dan tentu saja benar-benar pecundang.

Sebuah kenangan kecil terbesit di kepalaku, saat aku dan Leona -nama “mantan” temanku itu- masih sama-sama duduk di bangku sekolah yang sama. Kami berdua bertekat masuk jurusan herbologi pada awalnya. Kami ingin meneliti ramuan-ramuan herbal yang ada di Alixir, bahkan kekaisaran lain. Di sini, seorang herbolog setara dengan seorang tabib. Kami menyembuhkan orang dengan kemampuan kami, menunjang ilmu pengetahuan dengan penelitian kami, memberi kemajuan dengan rasa ingin tahu kami. Mungkin karena itulah awalnya kami ingin jadi demikian.

Aku tidak pernah melirik jurusan lain, aku tidak peduli apa kata orang, aku tidak peduli meskipun aku tahu 99.9 persen aku akan gagal. Aku hanya peduli dengan apa yang aku inginkan. Aku akan melakukan segala cara dan kupikir, “aku punya seorang teman seperjuangan?”. Itulah yang kupikirkan waktu itu. Namun, ternyata Leona berbeda dariku. Saat hari pengumuman ujian kami tahun lalu, aku kaget setengah mati saat kulihat nama Leona terpampang di tempat pengumuman sebagai salah satu peserta yang lolos. Dan aku, seperti yang bisa kalian tebak, tidak.

“Kenapa?…” ucapku sambil melirik ke arahnya.

Aku melihatnya tersenyum tipis melihat pengumuman itu, tapi aku tahu, dia juga kecewa sepertiku. Setelah itu, dia mengarahkan pandangannya kepadaku dengan senyum tipis yang telah hilang seluruhnya. Aku langsung sadar, “Ah… dia menyerah, apapun alasannya”.

“Maaf Shana, aku tidak bilang padamu kalau aku tidak memilih Herbologi. Orang tuaku ingin aku masuk akademi tahun ini bagaimanapun caranya. Aku daftar ke jurusan aksara kuno.”

Aku tidak tahu kenapa aku merasa dikhianati. Itu keputusannya, hidupnya, jalan yang dia pilih. Tapi tetap saja, dia Leona. Dia temanku yang sekaligus juga musuhku, tapi aku tidak pernah merasa tertekan olehnya.

“Oh…” hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirku, bahkan aku tidak bisa sekadar mengucapkan selamat padanya. Aku tidak tahu apa yang membuatku marah, aku yang gagal, Leona yang diterima dan aku tidak, atau sebenarnya sama sekali tidak ada, tapi harga dirikulah yang membuatku merasa seakan keluruh dunia meninggalkanku. Aku tidak tahu. Setelah itu, aku hampir tidak pernah melihat Leona, setelah pindah ke Monfon dia jarang sekali pulang sedangkan aku tetap di Povion dengan segala hal yang bahkan jarang sekali kusadari keberadannya.

***

Tidak lama kemudian, semua peserta ujian yang awalnya menunggu berdiri serempak. Terlihat seorang kakek tua dengan rambut beruban dan janggut putih menaiki podium. Dia adalah  Albus Vermin, Kepala Akademi Parviz sekaligus guru besar jurusan herbologi -orang hebat pastinya. Dia mendapatkan gelar profesor di umur 28 tahun dan berjasa besar atas penanganan wabah di Alixir sepuluh tahun lalu. Tidak mungkin ada orang di kekaisaran ini yang tidak mengenalnya.

“Selamat kepada para peserta yang telah menyelesaikan ujian masuk Akademi Parviz hari ini. seperti yang kalian tahu, Parviz adalah sekolah dengan sejarah yang panjang bahkan sebelum kekaisaran ini berdiri. Kami berterima kasih atas usaha dan kerja keras kalian untuk Parvis dan kami tahu kalian semua adalah orang-orang hebat dari penjuru negeri. Namun, sayangnya Parvis tidak bisa menerima kalian semua karena jika Parvis melakukan itu maka sudah dari dulu Parvis lepas dari Alixir dan mendirikan kekaisaran sendiri.”

Hahahah… Rupanya Kakek ini juga bisa bercanda, meskipun jujur, tidak menghibur sama sekali. Bagiku.

“Sekarang, saya akan langsung mengumumkan siapa saja murid yang diterima tahun ini. Bagi Anda yang namanya ada di list ini maka saya ucapkan selamat sekali lagi karena berarti Anda diterima di Parviz. Namun, bagi Anda yang namanya tidak ada di sana, jangan berkecil hati karena itu berarti Tuhan telah menentukan jalan lain yang lebih baik atau lebih cocok untuk Anda”. Setelah itu, kepala Albus mengayunkan tangan kanannya dan muncullah daftar nama peserta ujian di langit.

“Waw… ternyata seperti inilah sihir” gumamku. Jumlah penyihir masih jarang dijumpai di Alixir, apalagi di daerah pinggiran seperti Povion, hampir tidak pernah.

Langsung kuperhatikan list nama itu, sedikit silau karena teriknya matahari di siang hari, tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah menemukan namaku di sana. Aku memulainya dengan kata-kata di bagian atas. Bagian nama jurusan.

Dan tulisan jurusan herbologi ada di kolom kedua dari kiri. Kutelusuri nama-nama peserta yang ada di bawahnya dengan teliti. Nama itu diurutkan berdasarkan abjad. Di pertengahan daftar, di sanalah aku melihatnya. Namaku, Shana de Katerina dengan nilai 820 poin menempati peringkat kedua ujian masuk jurusan herbologi.

Waw, aku tidak pernah membayangkan ini. Peringkat kedua? Apakah mesin koreksinya rusak? Tapi yang penting adalah aku lolos. Aku tidak gagal lagi, tidak lagi menjadi pecundang. Aku senang, bahkan lekukan senyum terlihat jelas dari bibir dan kedua pipiku tanpa kusadari. Terima kasih Tuhan.

Setelah larut dengan kegiranganku sendiri, kulihat ekspresi kedua temanku itu. Ezra dengan ekspresi kaget di wajahnya. “Selamat!” ucapku.

“Shana lihat itu, aku akan jadi siswa kriminologi.”

“Iya, terlihat jelas di wajahmu.”

“Hahaha, separah itu?!”

“Hei, semua orang pasti bisa melihatnya kecuali jika mereka buta, huh! Jangan bersikap seperti orang bodoh,” Daisy.

Memang hanya Daisy yang bisa menghadapi Ezra. Mereka sangat cocok. Dari sana aku juga sudah bisa menilai, Daisy dengan ekspresi datar yang mengatakan dia tak terkalahkan. “Kau memang hebat.”

“Yah, kamu baru tahu?!” ucapnya sambil menyilangkan tangan dan membuang pandangannya.

Tiba-tiba, banyak kelopak punya berjatuhan di halaman Parviz. Sangat cantik, seperti musim semi telah tiba secara ajaib. Aku langsung tahu, ini adalah sambutan untuk para calon pelajar baru Parviz. Terdengar beberapa pengajar menyampaikan sambutan dan selamat kepada para siswa. Namun itu hanya terdengar seperti dengungan bagiku yang sudah sangat hanyut dengan suasana musim semi buatan ini.

Dan begitulah berakhirnya hari yang sangat berat tapi juga penuh kejutan.

***

Senin, 11 Juni tahun ke 456 kekaisaran.

Hari pertamaku di akademi. Aku menuju bagian bagian barat kampus, gedung Azzaira. Di sanalah kampus jurusan herbologi. Setelah melangkahkan kaki melewati pintu masuknya yang kira-kira setinggi enam belas kaki, aku menuju lantai tiga tempat perkuliahan akan dimulai. Lebih ramai dari yang kukira. Kalau tidak salah, ada sekitar seratus siswa yang masuk tahun ini.

Aku langsung menuju baris keempat, kursi paling kanan. Aku hanyut dalam lamunanku sendiri, sampai aku terkaget karena tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

“Hai, bukankah kita dulu sempat kenalan. Maaf, tapi siapa namamu?”

“Shana.”

“Oh… anak kedua. Aku Reina, senang bertemu denganmu.”

Apa katanya, anak kedua? Argh! Rupanya pengumuman itu.

“Maaf, tapi kenapa anak-anak berkumpul di sana?” sambil menunjuk arah kerumunan yang telah ada bahkan sebelum aku datang.

“Di sana ada orang terkenal,” sahut salah satu anak yang entah dari mana datangnya.

“Kenalkan, dia Hellen,” begitulah Reina mengenalkannya padaku.

“Senang bertemu denganmu Hellen, tapi siapa orang terkenal itu?” tanyaku.

“Anak menteri perdagangan. Dia masuk ke sini dengan rekomendasi tinggi. Kau tahu kan, akademi ini juga bekerja sama dengan orang-orang berpengaruh. Ku tebak dia salah satu yang beruntung.”

Aku tidak paham, bukankah seharusnya anak-anak membenci orang yang masuk dengan jalur khusus. Kenapa mereka malah seakan ‘memujanya’.

“Tentu karena mereka membutuhkannya.” Bisik Reina.

“Maksudmu, koneksi?”

“Yak! Aku tidak tahu kamu sepolos ini.” teriaknya padaku. “Kita tahu kalau Kepala Albus adalah pemimpin yang bijak, tapi ingat kalau sekolah ini juga dipimpin oleh banyak orang dibaliknya. Meskipun tidak sepenuhnya terlihat. Tapi jangan kaget, masih banyak yang akan kamu temui.”

“Oh, terima kasih.”

“Apa ini, kau sungguh berterima kasih karena aku memberitahumu hal konyol seperti itu? Yang benar saja.”

“Haha.” Karena kita sama-sama tahu kalau hal konyol itu adalah kenyatan.

Lalu, seseorang berjalan memasuki ruangan kelas sambil membawa setumpuk kertas putih di gendongan tangannya. Anak-anak mulai meninggalkan kerumunan dan kembali ke tempat duduk mereka.

“Selamat pagi semuanya. Kenalkan, saya John, salah satu asisten dosen di sini. Saya membawa kertas ujian titipan Profesor Harly untuk kalian.”

“Apa, ujian?” kami saling menatap satu sama lain. Ujian apa lagi yang dilakukan di hari pertama siswa baru. Tentu saja tidak ada yang menduga.

“Tidak usah khawatir, Profesor hanya ingin mengetahui seberapa kemampuan dasar kalian di bidang ini. Kerjakan saja semampu kalian masing-masing. Kalian punya waktu sampai istirahat pertama. Jika sudah, tolong kumpulkan sendiri ke ruang profesor. Silahkan ambil lembar ujiannya ke depan.”

Hah, apa ini cara main di sekolah terkenal. Aku memang tidak akan pernah mengerti apa yang ada di pikiran orang-orang pintar.

Benar saja, isinya adalah lima puluh soal pertanyaan seputar dasar-dasar herbology. Dan di bagian atas kertas itu tertulis dengan jelas “Kerjakan sendiri, dilarang mencontek jawaban siswa lain”.

Hah, aku tidak punya pilihan lain selain berusaha mengerjakan soal dengan pertanyaan yang bahkan tidak bisa kucerna apa maksudnya. Waktu pengerjaan kurang lebih satu setengah jam dan itupun serasa kami berduel satu sama lain lagi. Berduel siapa yang lebih pandai diantara yang terpilih.

Ayo, tinggal lima soal lagi dan aku berhasil menyelesaikan tes yang tujuannya masih kupertanyakan ini. Tapi karena merasa jenuh, kuluruskan kepala dengan leher, kuluruskan kedua tangan, dan kumenatap lurus ke depan. Namun betapa kagetnya aku. Aku melihat beberapa anak yang saling bertanya satu sama lain, saling berlempar kertas yang entah apa isinya, saling bertukar pandang yang isyarat yang aneh. Lalu aku menoleh ke samping kanan dan kiri, menoleh ke kebalakng, dan ternyata sama saja. Aku menemui kejadian yang sama meskipun hanya beberapa. Tapi beberapa yang kumaksud di sini tidak bernilai sedikit dan di kisaran yang dapat ditoleransi.

“Apa hanya aku yang sendirian di sini? Hanya aku yang menganggap tes ini serius? Tidak, ada anak lain yang tetap diam dengan kertas ujiannya. Lalu?…” gumamku.

***

Itulah secuil kisahku di Parviz, sekolah yang kuperjuangkan sejak detik yang bahkan aku sudah tidak mengingatnya. Di hari hasil tes aneh itu diumumkan, aku mendapati nilaiku sangat jauh dari rata-rata. Ditambah lagi si anak terkenal mendapatkan nilai yang sangat jauh lebih memuaskan dariku. Aku kecewa dan sedih. Tapi itu bukan satu-satunya.

Aku menjumpai lagi kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang terjadi di sini. Anak yang mengumpulkan tugas kelompok melebihi tenggat waktu, anak yang menilai teman dari keluarganya, anak yang tetap mencontek saat ujian, dan masih banyak lainnya. Bahkan sampai di suatu saat aku muak dengan jalan yang kupilih di awal dan aku mengikuti jalan mereka. Jalan yang awalnya kuanggap…salah.

Namun jangan mengira kalo semua orang memilih jalan yang salah pada akhirnya. Banyak juga orang yang terus berpegang pada prinsipnya yang benar. Jujur dan pantang menyerah. Orang-orang seperti itu yang katanya akan memperoleh ‘anugrah’ dari jerih payah mereka.

Sayangnya, dunia ini benar-benar tidak bisa ditebak. Tuhan memang tidak pernah berbodong, tapi anugerah di sini seringkali terlihat seperti fatamorgana. Hanya ilusi dari apa yang terlihat mata.

Aku mengakui bahwa Akademi Parviz adalah tempat yang terkenal dan seringkali diagungkan. Tempat orang-orang hebat, pintar, dan punya kekuasaan. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Seperti makna yang dapat didekonstruksi, citra juga dapat dibuat.

Parviz hanyalah suatu media, bukan pencapaian. Media dengan label citra yang baik di masyarakat. Kita masuk ke dalamnya melalui berbagai jalan. Bahkan satu jalan dianggap lebih tinggi daripada yang lainnya. Kenyataan itu sering dinilai sebagai suatu bentuk ketidakadilan, tapi menurutku itu ada benarnya.

Aku dan teman-temanku memiliki waktu keberangkatan yang berbeda, privilege yang berbeda, cara berpikir yang berbeda pula. Tapi harusnya itu tidak boleh dijadikan suatu alasan. Kita sama-sama kebetulan memilih dan diberikan kesempatan melewati jalan itu sehingga tidak ada kegagalan maupun kemenangan di dalamnya. Semua sama saja.

Apa yang membuat kita istimewa adalah apa yang akan kita lakukan setelahnya. Bagaimana Parviz membuat kita menjadi jiwa yang lebih adaptif dan bisa menghadapi segala masalah kedepannya. Bagaimana peran kita di masa depan, kita sendiri yang menentukan.