Mengoptimalkan Keindahan Wisata Rajegwesi di Era Digital

0
117

Lentera Desa merupakan organisasi yang bergerak dalam pembangunan masyarakat yang memiliki beberapa program bermanfaat seperti pemberdayaan, pendidikan, dan pelatihan. Organisasi itu memiliki program kerja rutin bernama laskar ekspedisi. Laskar ekspedisi adalah kegiatan pengabdian yang mengajak segenap pemuda Indonesia untuk terjun membantu pengembangan desa dengan membagikan pengalaman dan pengetahuan dalam wujud pelatihan.

Lentera Desa telah melaksanakan kegiatan dua kali. Pertama, sosial ekspedisi dan pelatihan pengolahan biji karet. Kedua, laskar ekspedisi. Laskar ekspedisi yang dilaksanakan pada 27 Desember 2021 sampai 1 Januari 2022 itu dilaksanakan di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pelaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Sarongan oleh Lentera Muda (yang punya julukan pegiat Lentera Desa) dibagi menjadi dua divisi, pendidikan dan ekowisata. Divisi ekowisata merupakan divisi yang akan memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai pengembangan wisata. Pada kesempatan itu divisi ekowisata membagikan beberapa pengalaman mengenai pentingnya promosi wisata melalui media sosial di era digital pada saat ini.

Media sosial yang digunakan seperti Instagram, Facebook, dan Blog karena penggunaannya cukup mudah sehingga dapat mendukung kegiatan promosi wisata Desa Sarongan. Pelatihan dilakukan melalui dua langkah, berupa pemaparan materi dan praktik. Pelatihan dihadiri para pengurus organisasi Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (MER) yang mengurus beberapa wisata yang ada di Desa Sarongan, diantaranya pantai Rajegwesi, Teluk Ijo, dan Muara Mbaduk.

Desa Sarongan merupakan desa yang kaya potensi keindahan alam. Tak heran wisatawan kerap mengunjungi wisata tersebut meski harus menempuh perjalanan jauh sekitar dua jam dari pusat kabupaten Banyuwangi dengan akses jalan cukup mudah. Pantai Rajegwesi selain memiliki pemandangan indah juga menjadi dermaga bagi nelayan sebelum dan setelah melaut dengan hasil tangkapan utama, ikan lemuru. Hal itu membuat pemandangan pantai Rajegwesi dipenuhi  puluhan kapal layar milik nelayan.

Pelatihan divisi ekowisata terutama menyasar organisasi Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (MER) yang bertanggung jawab dalam mengelola wisata di Desa Sarongan. Pelatihan sosial media memiliki tujuan utama untuk membangun citra atau image destinasi wisata sehingga meningkatkan keinginan wisatawan untuk berkunjung.

Peningkatan citra sebuah destinasi wisata juga akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar berupa peningkatan roda perekonomian. Adanya tempat wisata akan menumbuhkan kreativitas dan inovasi bagi masyarakat sekitar sehingga akan muncul usaha-usaha baru yang melengkapi sebuah destinasi wisata.

Saat ini MER sedang mengembangkan produk khas yang bisa menjadi buah tangan bagi wisatawan. Salah satunya, kerajinan dari batok kelapa, kaos khas Wisata Rajegwesi, dan lain-lain.

Sementara pelatihan sosial media yang dilakukan divisi ekowisata menjadikan inspirasi bagi  MER untuk memanfaatkan kecagihan teknologi dan sistem informasi yang ada guna mempromosikan semua potensi di Desa Sarongan. Arifin, salah satu dari pengurus  MER berharap semakin banyak anak muda bersinergi dan bergotong-royong dalam pengembangan potensi desa sehingga bersumbangsih dalam peningkatan perekonomian. Salah satunya melalui sektor pariwisata. Pengabdian yang dilakukan oleh Lentera Desa diharapkan terus berkelanjutan dan menghadirkan dampak yang nyata sehingga berkontribusi dalam pembangunan desa.

Selain Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan juga memiliki wisata lain yang tak kalah indah. Pantai Teluk Ijo merupakan salah satu wisata di Desa Sarongan yang menakjubkan dan kerap kali disebut dengan ‘surga yang tersembunyi’ karena letaknya yang cukup tersembunyi. Pasir putih, air pantai yang hijau segar, serta suasana pantai yang asri dan rindang merupakan nilai jual dari wisata ini. Sebelum menikmati suasana asri di pinggir pantai, wisatawan harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.

Perjalanan panjang tidak akan terasa rugi karena akan terbayar oleh keindahan pantai Teluk Ijo. Sebelum sampai pantai Teluk Ijo, wisatawan juga akan disuguhi oleh keindahan pantai Batu, yang menjadi salah satu saksi sejarah terjadinya tsunami Banyuwangi tahun 1994. Batu-batu yang ada di dalam laut terbawa oleh air tsunami sehingga terseret menuju bibir pantai menjadi pantai Batu seperti saat ini.

Selain itu terdapat pula Muara Mbaduk yang merupakan pantai dekat muara sungai Buyuk. Muara Mbaduk bukan hanya sekedar pantai karena wisatawan dapat menikmati beberapa fasilitas menarik seperti area berkemah, matahari terbit dan matahari tenggelam, suasana pantai, sungai, dan bukit sekaligus.

Saat ini MER sedang mengembangkan area berkemah baru bernama Kebo-keboan. Seperti namanya, Kebo-keboan dahulu merupakan padang rumput yang menjadi tempat kerbau untuk mencari makan. Sekarang penduduk di sana tidak lagi memelihara kerbau sehingga padang rumput kosong, ditumbuhi tanaman liar. Oleh karena posisinya cukup dekat dengan pantai Rajegwesi dan tidak dimanfaatkan dengan optimal, maka MER ingin kedepan wisatawan yang datang mau berkemah di kawasan itu.

Silvia Mayningrum, mahasiswa Jurusan Agribisnis, Universitas Jember, Jawa Timur