Sakit itu Akan Hilang

0
145

Dari seberang rumahmu, aku hanya menatap jendela ruanganmu yang redup. Apakah kau sedang bergelut dengan pikiranmu? Oh, memang sudah sepantasnya kau lakukan di setiap malam. Berpikirlah dengan keras, pahamilah, dan berhentilah!

Napasmu sangat berat. Keadaan ruangan yang kau rasakan sudah pasti begitu sesak. Apakah kau kehilangan banyak harapan? Apakah kau kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali sampai kapan pun itu? Apakah sekarang kau sudah menyadarinya?

***

Apakah ini saatnya aku berhenti? Apakah hari yang sangat aku takuti akan terjadi? Aku begitu lelah tentang semua ini. Menampung segala sesak di dada ini, sendiri. Tidak ada yang peduli. Tak ada satu pun yang peduli kepadaku. Apakah menjadi naif selalu saja seperti ini?

Ah Tuhan, Kau di mana? Apakah Kau tidak melihatku? Apakah Kau sudah mati?
Lemas. Tubuhku begitu lelah. Aku lelah, pun rasa kantuk begitu kurasakan. Tetap saja, mataku terasa begitu segar. Tak mau terpejam, lalu tertidur.

Aku lelah. Pikiranku rusak. Neuron otakku masih bekerja dengan cepat. Hatiku berdegup kencang tak karuan. Tiga gelas kopi hitam dan dua bungkus rokok yang kuhabiskan benar-benar sudah tidak dapat membantuku lagi.

Sialan, apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang sedang aku rasakan? Setiap malam selalu saja seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?

***

Pertanyaan yang kau lontarkan terperangkap di ruanganmu. Tak ada jawaban yang akan masuk. Kau harus menyerah sekarang. Jika tidak, kau akan mati perlahan.

Ruang dan waktu yang kau habiskan akan terus berkurang. Kau membuangnya secara percuma. Sia-sia. Kau tidak boleh mengabaikannya lagi. Lepaslah, berhentilah sekarang. Atau hidupmu benar-benar akan mati, seperti sebuah mayat.

Rebahkan badanmu. Pejamkan matamu. Paksakan matamu untuk tetap terpejam. Paksakan untuk beberapa saat. Lihatlah, lihat! Suar merah di langit malam merekah dengan indahnya. Apakah kau sudah melihatnya?

***

Nikotin tak berfungsi lagi untuk hormon dopamin di otakku. Kafein yang aku minum tak dapat lagi mencegahnya. Depresi ini tak mau pergi walau sementara. Sialan. Apakah aku harus mulai meminum beberapa obat tidur lagi?

Tubuhku kembali terjatuh di kasur. Ah, begitu nyamannya. Kupaksakan untuk memejamkan mata agar bisa tertidur, harapku.

Gelap yang kulihat, gelap yang kecepatannya melebihi cahaya dengan cepat mengisi seluruh pandanganku. Gelap, sungguh gelap. Sekarang, apa yang harus kubayangkan?

Gelap. Masih saja gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa. Namun pikiranku mulai kosong. Neuron di otakku mulai terasa ringan, melambat. Detak jantung pun tak mau kalah lambat. Sedikit lebih tenang, syukurlah.

Namun tiba-tiba ada suara ledakan yang terdengar lirih. Cahaya silau mulai terlihat. Buta. Aku buta sejenak. Cahaya itu, cahaya merah yang aku lihat menerangi gelap yang sedari tadi menyelimuti pandanganku, melayang di atas langit-langit.

Aku melihatnya. Cahaya merah itu masih mengambang di langit. Di bawahnya masih terlihat jelas bekas lintasan cahayanya. Cukup dekat, sangat dekat.
Cahaya apa itu? Apakah itu suar? Kenapa aku melihatnya? Apa maksudnya?

***

Sudah jelas kau pasti mempertanyakannya. Lihatlah dengan seksama! Lihatlah! Suar itu terbang dan mengambang di udara. Oh, matamu. Kilauan merah terjebak di dalam matamu. Asap merah memenuhi bola matamu. Kau menyukainya?

Hey, cukup! Sudah cukup! Asal kau tahu, di saat matamu terpaku ke arah cahaya itu begitu lama, ada seseorang meringkuk lemas di seberangmu.
Tengoklah, Berengsek! Kau tidak sendiri! Ada seseorang menembakkan suar itu. Ada seseorang di sana! Sudah lama ia mencoba menembakkan suar itu. Beberapa kali ia mencoba, namun kau tak pernah mau melihatnya. Itu suar terakhirnya. Temui dia, Berengsek!

***

Cukup lama aku memandang suar itu. Kepulan asap merah merekah dengan begitu cerah dan indah. Jalur lintasan cahaya suar itu masih terlihat. Aku mencoba mendekat ke arah ujungnya. Siapa yang menembakkannya ke atas?

Jalan yang kupijak sedikit diterangi oleh cahaya suar yang masih bersinar di atas. Aku berjalan lurus, berjalan dengan pelan menuju ujung tembakan.

Aku melihat seseorang sedang meringkuk kaku. Tubuhnya terlihat lemas membatu. Aku perlahan mendekat. Oh sungguh, wajah malang itu terlihat jelas. Kenapa aku melihat diriku sendiri di sini? Kenapa diriku seperti ini? Kenapa dia? Apa yang sudah terjadi?

***

Asal kau tahu, apa yang kau lihat adalah jiwamu sendiri. Kau berhasil membuatnya sekarat, meringkuk karena kesakitan tak berujung yang sudah lama kau lakukan.

Apakah kau sekarang sadar? Kau membunuh jiwamu secara perlahan. Kau tak pernah sesekali mendengar ucapannya. Kau tak pernah sesekali memahaminya. Kau tak pernah sesekali melihatnya begitu tersiksa. Kau tak pernah sesekali pun menemuinya. Kau tak pernah sekali pun menolongnya. Tak pernah. Sekali pun tak pernah. Itu semua ulahmu. Kau pembunuh! Dasar pembunuh! Berengsek!

Berhentilah sekarang juga. Berhentilah menjadi naif dan menerima semua beban yang seharusnya tak kau terima. Kau tidak sendiri. Ada jiwamu di dalamnya. Jika tidak kau lakukan, jika kau tidak berhenti sekarang juga, jiwamu akan benar-benar mati! Berhentilah menyakiti jiwamu yang sudah sekarat!

Benda di tangan kanan ditempelkannya di bawah dagu. Ia dengan cepat menarik pelatuknya.

 

Mungkin, dari setiap ketukan musik yang terdengar, dari setiap gelombang suara yang melayang dan dengan pelannya masuk ke telinga, hanya itulah hal yang menenangkan pikirannya. Namun dengan hatinya? Tidak benar-benar berfungsi dengan baik. Atau mungkin, memang sudah tidak berfungsi lagi.

Ia hanya terdiam, diam membatu dan tak merasakan apa pun dari apa yang seharusnya ia rasakan. Pikirannya hanya mengikuti suara musik yang ia dengar. Jika musik sudah mulai memasuki bagian akhir, ia mulai panik. Dengan sesegera mungkin ia bersiap memutar ulang musik yang sudah satu jam lamanya ia dengar semenjak rintik hujan menyerbu atap rumahnya.

Apakah diriku sudah serusak ini? Apakah benar hatiku sudah tak bisa lagi merasakan apa pun? Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang harus aku lakukan?

Bagi sebagian orang, hal ini adalah hal yang lumrah dirasakan oleh seseorang ketika menginjak umur 20 tahun. Namun baginya, bagi seorang laki-laki sepertinya, apalagi anak pertama dari keluarga yang sangat-sangat jauh dari batas mampu dalam hal ekonomi dan jauh dari kata keluarga harmonis. Tuntutan kehidupan yang ia jalani sungguh tak kenal ampun. Menghardik Tuhan mengapa ia telah dilahirkan dengan dunia yang seperti itu adalah satu-satunya cara yang sedikit menyenangkan dan menenangkan baginya.

Ia berpikir, mungkin sudah saatnya ia ke psikolog untuk konsultasi tentang kesehatan mentalnya. Akan tetapi ia sadar, ke psikolog juga butuh biaya yang mungkin tidak sedikit karena harus terus-terusan berkonsultasi.

Namun di sisi lain, ia juga berpikir apa yang akan ia terima nantinya hanya berupa sebuah template kata-kata bijak, kata-kata motivasi, kata-kata mutiara tentang bagaimana mencintai hal-hal kecil di kehidupan agar bisa menjalani hidup yang lebih baik, yang sebenarnya dirinya sudah membacanya beratus bahkan beribu-ribu kali di buku ataupun di internet. Sebuah omong kosong, katanya.

Berbagai cara sudah ia lakukan, tapi hasilnya tetap nihil. Kecuali hanya satu hal, mendengarkan musik. Dan hanya musik.

Ia kemudian tersenyum. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba tersenyum, jika ditanyakan maka jawabannya sudah pasti tidak tahu. Tidak benar-benar tahu. Tak ada orang yang tahu dari apa yang dirasa dan dipikirnya.

Dengan sebatang rokok di tangan kirinya, ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Berdiri menatap foto kecilnya di dinding kusam itu. Ia mulai bergerak, menari tak tentu arah. Musik yang ia dengar, membuat dirinya bergetar hebat. Ketenangannya menggetarkan tubuhnya. Hebat.

Lalu, tanpa disadari olehnya, tangan kanannya tiba-tiba saja sudah memegang benda yang sudah ia buang dan ditanam di belakang rumah. Tak ingat kapan ia kembali mengambilnya, yang jelas, perasannya senang tak karuan. Kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yang selama ini ia rasakan hilang begitu saja ketika memegang benda itu.

Ia kembali menari. Tubuhnya menggeliat ke segala arah dengan lenturnya. Sungguh tenang. Rokok di tangan kirinya ia hisap perlahan, dan membuang asapnya ke langit dengan damai. Benda di tangan kanan ditempelkannya di bawah dagu. Ia dengan cepat menarik pelatuknya.

Musik mulai memasuki bagian akhir, dan kemudian berhenti dengan sendirinya. Apakah aku sudah mati? tanyanya dalam hati.

“Kau mencari ini?” Suara perempuan, diikuti suara benda terjatuh ke lantai—yang tak lain adalah satu buah peluru- tiba-tiba saja menyapanya. “Kau begitu bodoh. Tak henti-hentinya kau sadar tentang apa yang terjadi di hidupmu. Tak akan kau kubiarkan mati seperti kematian ayahmu dulu, Nak. Sekarang, kau tidak akan kubiarkan hidup sendiri dan terus seperti ini lagi.”