Lukisan Hari Ini

0
106

Gedung sekolah berdiri dengan logo besar sekolah kami terpampang. Ribuan murid SMA sekolahku memulai hari dengan masuk sekolah. Aku menaiki tangga, kelasku berada di lantai ketiga.

Aku tidak melihat orang-orang itu, biasanya mereka nongkrong di depan kelas. Mungkin mereka ada di kelas, “Hello Hana!” Saat menapakkan kaki di lantai kelas, aku disambut oleh sahabat penaku. Yup mereka ada di sini. Kawan kupu-kupu. Itu adalah nama grup pertemanan kami, terdiri dari tiga orang. Aku [Hana], Tsabita, dan Ninis. Aku bersyukur memiliki mereka.

“How’s your week?” Tsabita lebih dulu bertanya padaku dengan logat bahasa Inggrisnya yang lancar seperti air mancur.

Aku menarus tas di samping kursi, “pretty good I guess,” jawabku, “Kalian enggak nongkrong di luar kelas?” Aku menatap mereka,

“Enggak, lagi males,” jawab Tsabita.

“Rencana kamu bulan ini apa Han? Kali ini Ninis yang bergantian bertanya padaku, aku berpikir. Dalam hati aku menjawab, “Emangnya ini bulan apa?”

It’s February, Hana,” ujar Tsabita seakan-akan bisa membaca isi pikiranku.

“Hm, aku belum ada rencana sih,” jawabku.

“Bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi ke Clare Waterpark? Aku dengar waterpark itu lagi terkenal. Hitung-hitung sekalian refreshing dan senang-senang, gimana?,” Ninis memberi usulan, Ninis hobinya jalan-jalan. Dia yang paling tahu nama, lokasi, dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi, “Boleh, kayaknya aku bisa kalau akhir pekan,” jawab Tsabita. Aku mengangguk, pertanda sependapat dengan Luna.

Kami terus berbincang-bincang seru. Mulai dari hal-hal yang sepele dan konyol, sampai pada topik yang sangat serius dan intens. Pembahasan apa saja, jika dibicarakan dengan orang-orang ini, akan selalu seru.

Tiba-tiba, seorang gadis yang rambutnya terikat menghampiri kami, “Permisi, perkenalkan nama aku Ayu. Aku boleh ikut duduk di sini enggak?” tanya dia.

“Boleh dong, silahkan,” aku tersenyum. Ada kursi kosong disampingku, lagipula sepertinya dia orang yang baik-baik.

“Makasih ya,” jawabnya.

Dia duduk disampingku. Aku memerhatikan dia. Rambutnya hitam tebal, alisnya tipis, matanya hijau, bulu matanya lebat, tidak terlalu tinggi. Dia memakai ikat rambut berwarna hitam, gelang hitam, dan sepatu kets warna putih. Gayanya secara garis besar sangat unik. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang bergaya sama denganku.

“Hohoho, apa ini? Kalian kembar ya? Kulihat mulai dari wajah, tinggi, style, kalian seperti saudara kembar,” ucap Ninis bergurau, mereka berdua tertawa. Aku tidak berkomentar. Tapi dalam batin, aku setuju, Ayu memang sangat mirip denganku. Kami tidak jauh berbeda, 11 12.

“Cuman kebetulan saja paling,” jawab Ayu. Dia langsung sibuk membaca bukunya. Kalau dilihat ya, Ayu ini pendiam, sedikit yang dekat dengannya.

Kali ini pelajaran yang kutunggu-tunggu. Melukis. Aku sedang sibuk melukis di atas kanvas, aku suka melukis sejak kecil. Melukis bukan hanya sebuah seni yang seseorang goreskan secara abstrak, yang dijual dengan harga yang membuat manusia terheran-heran. Tapi ini adalah soal di saat kita memaknainya. Kita bisa merasakan sesuatu. Seperti ada sebuah filosofi atau perasaan yang dicurahkan si pelukis dalam lukisan tersebut.
Itulah mengapa aku suka melukis, rasanya aku mencurahkan segala suka dukaku di kebasan kuas.

Di saat aku melukis, aku sering menangkap Ayu melirik kanvasku. Dan itu sedikit membuatku tidak nyaman, dia duduk tidak terlalu jauh dariku. Aku memutuskan untuk memulai percakapan dengannya, “Hei, kamu lagi melukis apa?” aku bertanya.

“Hai juga. Aku enggak tahu sih ini lagi lukis apa,” Ayu mendeham.

Aku melihat karyanya yang baru setengah jadi. Lukisan Ayu adalah tipe lukisan yang mempunyai komposisi sentral. Obyeknya ada di tengah. Di tengah itu ada sebuah pohon sakura. Di batang pohon sakura tersebut, ada lima burung yang berbeda-beda. Ada semacam cahaya kabur di sekitar mereka. Masing-masing cahaya berbeda warna, setiap warna berpasangan dengan burung-burung itu. Misal burung biru, maka cahaya yang menyinarinya adalah cahaya yang berwarna biru.

Aku tergemap, lukisan Ayu sama dengan lukisanku! Walau tidak terlihat begitu sama, punya Ayu lebih berantakan dari punyaku. Tapi aku bisa mengatakan bahwa kami melukis sebuah hal yang sama.

“Kenapa?” Ayu bertanya.

“E-eh, enggak kok! enggak kenapa-kenapa. Hehe,” aku berusaha bereaksi biasa saja.
Aku berteori sambil melukis. Kok lukisan kita bisa sama?

“Enggak, gak mungkin! Pasti cuman kebetulan aja,” aku dilirik orang-orang yang berada di sekitarku karena kelakuanku yang aneh, berbicara sendiri.

“Em. Sorry, kamu lagi ngomong sama siapa?” Siswi di sebelahku bertanya.

“Bukan apa-apa, ehehh,” wajahku memerah menyembunyikan malu. Suasana menjadi canggung. Siswi tadi hanya manggut-manggut dengan mimik wajahnya yang bisa kutebak, [Ini anak aneh banget.]

***
Aku melanjutkan lukisanku, aku masih penasaran tentang tadi. Rasanya semakin aku memikirkannya, secara natural aku berbicara sendiri, menyambung-nyambungkan teori. Memberi pertanyaan, menjawabnya sendiri. Tapi mengingat kembali saat aku dilihat bagai orang gila yang aneh membuatku jera. Sudah. Cukup Hana!

Dua jam berlalu, tak kusangka waktu berlalu begitu cepat. Aku cukup bangga dengan hasil akhir lukisanku, “Uwah, bagus banget sis! Keren,” ujar Tsabita memuji.

“Makasih,”.

So? Tell me about it,”. Tsabita menanyakan makna di balik lukisan yang kubuat. Dia adalah orang yang juga paham akan dunia melukis ini, aku respek dengannya.

“Jadi, kali ini sebetulnya enggak dari perasaan aku, tapi enggak tahu kenapa, aku pengen ngelukis ini. Saat aku menutup mata, yang aku bayangin adalah orang yang ragu dengan mereka sendiri, ragu sama potensi mereka, kemampuan mereka. Dan juga orang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri, mereka sibuk melihat kehidupan orang lain dan berpikir bahwa kehidupan orang lain itu lebih enak dan sempurna.”

“Padahal, kehidupan manusia itu tidak ada yang sempurna. Pasti ada sisi negatif di baliknya. Hanya saja, mereka tidak menunjukannya di depan orang,” aku menjelaskan dengan antusias.

Tsabita bertepuk tangan, “Wih, sahabat aku bijak banget,” aku terkekeh, jago sekali dia memuji orang.

Setelah pelajaran melukis selesai, aku bersama kawan kupu-kupu pergi ke kantin. Kami duduk bersama, aku menyantap batagor terenak di sekolah, “Rasanya…Seperti anda menjadi ironman,” Kami semua tertawa terbahak-bahak.

Di pintu masuk kantin, aku melihat Ayu. Wajahnya, gayanya membuatku teringat kembali tentang kejadian melukis tadi. Ninis menyapanya lebih dulu, “Hai Ayu, ayo duduk sini bareng kita!” Ayu tersenyum manis, dia duduk di depanku.

“Kamu beli apa?,” Aku bertanya pada Ayu.

“Aku beli cireng, kwetiau, makaroni, sama jus jambu,” jawabnya.

Aku terdiam, “Lah kalian berdua kok samaan mulu sih,” ujar Ninis.

“Iya, tuh Hana belinya juga sama,” timpal Tsabita. Aku mencoba untuk menghiraukannya, aku lanjut saja menikmati jajananku.

“Han,” Ninis mengodeku dengan menunjukkan ujung bibirnya sambil menatapku. Itu artinya ada noda di ujung bibirku, aku mengambil serbet biru dari kotak makan, dan mengelap nodanya.

Beberapa detik kemudian, Ayu pun mengeluarkan serbetnya yang sama persis dengan milikku. Aku merasa ganjil, “Em… Aku mau buang sampah dulu,” aku berjalan mendekati tong sampah terdekat, lalu membuang sisa jajananku. Lalu aku membalikkan badan dan terkejut. Ayu sudah ada di belakangku. Aku menyingkir memberikan dia jalan.

Lalu Ayu dengan berjalan santai kembali menuju meja. Aku mematung, “Han, kenapa?” Tsabita bertanya heran.

“Eh enggak apa-apa,” aku berbicara gagap, semakin mengundang kecurigaan.

“Serius?” Tsabita memastikan, “Iya serius Tsabita cantikkk,” ujarku.

Waktu berlalu, saat di kelas. Aku sempat menangkap basah Ayu yang beberapa kali melirikku, saat aku melihatnya, dia salah tingkah. Ada yang tidak beres dengan anak ini. Mengerikan, dia sudah seperti stalker saja.

Aku merasa jengkel, dari tadi apa yang kulakukan, Ayu juga melakukannya.

Pertanyaanku terjawab di saat waktu istirahat kedua, kami sedang bercakap-cakap ringan di taman sekolah. Seketika, aku kebelet, “Aku ke kamar mandi dulu ya,” aku langsung berlari secepat mungkin ke kamar mandi. Tidak ada kamar kecil di area taman sekolah, jadinya aku berlari tergopoh-gopoh masuk ke gedung sekolah.

Fiuh, aku merasa lega. Untung kamar mandinya sepi.

Saat aku buang air kecil, aku mendengar ada seseorang yang masuk. Dia melewati pintuku, dari sela bawah pintu kamar mandi, aku bisa melihat sepatunya. Sepatu itu adalah sepatu yang dipakai Ayu.

Setelah selesai, aku membasuh muka. Lalu, suara pintu terbuka. Aku melihat Ayu yang baru selesai menggunakan kamar mandi. Aku merasa jengkel, dari tadi apa yang kulakukan, Ayu juga melakukannya. Bahkan, kalau dipikir-pikir, aku tak tahu apa gayanya itu hasil dari meniru orang lain atau tidak.

Tanpa basa-basi, aku langsung ke intinya, “Kamu dari tadi meniru aku ya?” Ayu menatapku datar.

“Kalau iya, emangnya kamu mau ngapain?” Ayu tersenyum licik, “Kamu kenapa meniru aku?” Aku bertanya lagi.

“Sejujurnya, aku iri banget sama kamu. Kamu selalu bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu punya segalanya, kamu bahagia, kamu punya sahabat, semua hal kamu punya. Urusan akademik pun kamu punya,” Jawab Ayu tanpa ba-bi-bu. Dia langsung jujur begitu saja.

“Sebelumnya aku itu cuman anak biasa yang sering diejek, aku dijadiin target penindasan banyak orang setiap hari, aku selalu direndahin. Sampai kamu datang kesini, aku bisa liat baru sehari aja. Kamu sudah jadi bahan pembicaraan semua orang, semua orang suka sama kamu. Semua orang ingin menjadi teman kamu. Aku iri.” Ayu tersenyum lagi.

“Tapi kok kamu kenapa meniru aku sih?” ujarku tak terima.

“Aku udah jelasin kan, kesimpulannya aku juga mau mendapatkan apa yang kamu punya. Sekalipun itu berarti aku harus mencurinya dari kamu,” Ayu menatapku sinis.

Amarah bergejolak dalam hatiku, “Kamu jangan berani-beraninya nyuri temen aku,” aku menatapnya tajam.

“Maaf, tapi aku enggak bisa janji,” Ayu tersenyum, sangat menjengkelkanku.

Aku mencoba untuk mengendalikan diri. Jangan sampai emosi dan amarah menguasai pikiranku. Aku menarik napas, kubalas Ayu dengan komentar pedas, “Sekeras apapun kamu jadi aku. Kamu enggak bakalan sama kayak aku, karena tetap saja. Aku yang asli.” Komentar itu berhasil membuat percikan api meyala-nyala di mata Ayu.

“Benarkah? Baiklah. Kita lihat saja, seberapa lama kamu bertahan di kamar mandi ini sendirian,” kata Ayu. Ia pergi meninggalkanku, dia mengunci pintu, dan jahat sekali dia mematikan lampu. Aku menggedor-gedor meminta agar aku dikeluarkan dari sini. Aku berteriak minta tolong. Dalam hati aku menyumpah-nyumpah Ayu. Dasar! Kukira dia anak baik-baik. Ternyata bermuka dua.

Dua jam berlalu, aku kedinginan dan ketakutan. Aku berharap ada yang membebaskanku dari sini. 

“Hanaaa?,”. Ada suara yang memanggilku, aku kenal suara itu, Ninis!

“Nis, tolong aku. Aku dikunci di kamar mandi,”.

“Kok bisa sih Han? Kita nyari kamu dimana-mana tahu!” Jawab Ninis, astaga, betapa menyebalkannya dia. Sudah tahu aku ini ketakutan setengah mati di sini, “Keluarin aku dulu dari sini! Nanti aku jelasin,” ujarku.

Ninis membuka kamar mandi dengan kunci yang diberikan petugas kebersihan. Dia langsung menghampiriku, aku dan Ninis keluar dari kamar mandi bersama-sama. Aku sangat lega. Bayangkan bagaimana jika tidak ada yang menolongku? Aku pasti sudah berubah menjadi telur gulung.

Aku menceritakan semuanya ke Ninis, seperti perkiraanku. Dia sangat terkejut, Ayu itu memang sering jadi bahan penindasan. Tapi tak disangka dia bisa berbuat seperti itu. Kami menghampiri Ayu yang sedang duduk bersama Tsabita.

Ayu yang melihatku bebas dari kamar mandi terkinjat. Tsabita dan Ninis menanyakan alasan mengapa aku lama sekali di kamar mandi. Bahkan sampai sekolah sudah hampir berakhir, mereka sedang menunggu untuk dijemput, “Sekelas terheran-heran mengapa kamu belum kembali, hingga aku disuruh guru untuk mencarimu Hana! Lelah sekali aku menyusuri sudut-sudut sekolah, tahu-tahunya kamu ada di kamar mandi. Ngapain pula kau di kamar mandi? Ganti kulit? Hah? Merepotkan kau ya!” Ujar Ninis.

Well, aku tak mungkin berbohong pada sahabatku, jadi aku menceritakan semua perbuatan Ayu.

Setelah aku menjelaskan, mereka menatap Ayu tak percaya kemudian aku sudah tak sabar lagi menghampiri Ayu, “Kok kamu begitu sih? Kelakuan kamu aku bilang ke orang tua kamu ya!” ujarku yang sudah tak memasang wajah ramah lagi.

Ayu berdiri di depanku, “Maaf, maaf aku janji hal seperti itu enggak bakalan terjadi lagi. Please jangan lapor ke orang tua aku,” pinta Ayu memelas.

“Aku enggak terima permohonan maaf kamu,” ucapku dengan datar. Ayu semakin resah, dia berlutut di hadapanku. Aku membantu ia berdiri, aku tak suka melihat orang sampai berlutut begitu.

“Maksud aku, aku enggak terima permohonan maaf kamu yang kayak begitu,” ucapku menatap Ayu.

“Maksudnya?” Ayu terheran. Aku tersenyum, tenang saja. Aku bukan pendendam. Kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya.

“Aku maafin kamu kalau… Kamu bisa mencintai diri kamu sendiri,” ucapku.

“Kamu bilang kan tadi, katanya kamu iri sama kehidupan aku. Ayu, kamu itu cantik apa adanya. Kamu itu hebat, menakjubkan sesuai jalan kamu sendiri. Jangan jadi orang lain, kamu harus terima diri kamu apa adanya.”

“Kita semua ada kekurangan dan kelebihannya Ayu. Cuman enggak keliatan aja, aku ada kekurangan kok. Buktinya aku enggak jago bahasa inggris kayak Tsabita. Buktinya aku juga enggak tahu banyak tempat kayak Ninis. Tapi setidaknya aku bisa menerima diri aku sendiri. Dan itu bikin aku bahagia. Ayu, aku percaya kalau kamu punya potensi yang enggak semua orang miliki.”

“Kamu itu hebat, keren, berhentilah jadi orang lain,” Aku melanjutkan.

Ayu memelukku dengan erat, dia menangis, “Maafin aku,” ucap Ayu. Aku tak menjawab.

“Makasih, baru pertama kali ada orang yang bilang gitu ke aku,” aku tersenyum sebagai tanggapan. Tentunya, aku tidak melaporkan perbuatan Ayu ke kepala sekolah, dia berjanji akan berubah. Dia berjanji akan mencintai dirinya sendiri dan berhenti menjadi orang lain. Sebetulnya itu hanyalah trik aku saja.

Aku tak mungkin langsung memberi tahu kepala sekolah dan berharap Ayu akan diberi hukuman dengan perihal seperti ini. Ditambah lagi, ucapan Ayu mungkin membuktikan bahwa ia mempunyai masa lalu yang kelam, entah dengan temannya atau orang tuanya…

Tsabita merangkulku, “Ternyata lukisan kamu ada hubungannya juga sama hari ini,” kami tertawa. Setelah kejadian itu, Ayu menjadi salah satu dari kawan kupu-kupu, mereka adalah sahabat yang tak akan pernah terpisahkan.

 

Aqila Ghania Syaakirah