Berdamai dengan Dendam ?

10
311

Dendam…

Dendam itu akan muncul ketika hati tersayat oleh ucapan

Dan perilaku manusia yang tidak ber-akhlak dan ber-moral

Marah? Itu pasti, karna diri ini selalu memberontak ketika mengingat semua yang sudah terjadi

Sedih? Itu pasti, karna kedua mata ini selalu meneteskan air untuknya

Kecewa? Itu pasti, karna hati ini benar-benar terbelenggu

Dendam? Itu pasti, karna hati ini selalu menyimpan api yang berkobar-kobar dalam hati

 

Hati ini selalu terselimuti oleh amarah dan dendam yang membabi-buta

Dan hanya keinginan untuk balas dendam lah yang selalu tertanam di dalam hati

Bahkan kebencian pun mampu membalut mata ini menjadi benar-benar buta

Mata ini sama sekali tidak bisa melihat sisi baik dari orang tersebut

Apapun yang Dia lakukan selalu terlihat salah oleh kedua mata ini

Karna yang ingin dilakukan oleh otak, hati dan fikiran ini hanyalah satu…

Melihat dia HANCUR…

 

Namun sayang…

Diri ini tak cukup nyali untuk mati!

Dan akan lebih baik jika diri ini BERDAMAI DENGAN DENDAM

Yaaahhh anggap saja itu istilah lain, dari kata “memaafkan”

Karna diri ini sadar…

Bahwa pemujaan dan penyembahan  terhadap Dendam

Hanya akan membuat diri ini menjadi terpasung

Dan lingkaran kehidupan ini pun hanya akan  stuck disini saja

 

Dunia ini tercipta untuk dinikmati keindahan dan keluasannya

Apakah diri ini akan tetap memilih untuk terpasung

Dalam sangkar kecil kelam yang bernama dendam?

Tentu saja TIDAK !!!

Memang berdamai dengan amarah, berdamai dengan kebencian, dan berdamai dengan dendam memang tidaklah mudah

Sulit rasanya berdamai dengan semua hal itu

 

Ku akui, diri ini tidak akan sanggup untuk lari dari semua masalah

Namun kuyakinkan pula diri ini untuk tidak terjerumus dalam kebodohan

Diri ini akan selalu berusaha derdamai dengan dendam

Dan akan menjadi rajawali yang  memiliki hati layaknya merpati putih

 

Kutatap birunya langit yang begitu indah, dan diri ini berjanji kepada-Nya

Bahwa diri ini tidak akan pernah membiarkan ruangnya

Terisi oleh hantaman dari kobaran api yang menyala-nyala…

 

Duwiana Puspita Sari 

 

10 COMMENTS

  1. Halo mb dwiana. Puisinya sangat bagus, dan menginpirasi saya juga untuk menulis puisi di sini. Tetapi saya bingung tatacaranya, apakah puisi yang kita tulis memang menunggu di up pihak kompas dulu atau bagaimana ya? Terimakasih

    • hallo kak Ilmi Aliya :). Iya kak biasanya setelah kita submit artikel atau puisi dikompas kita harus nunggu beberapa hari dulu. Jika pihak kompas menyetujui maka tulisan kita akan langsung di publish kak… Setahu saya seperti itu.

    • Jawaban Dwiana sudah betul. Jika semua syarat sudah dipenuhi dan tak ada antrean para pengirim tulisan, karya yang kami terima akan segera diunggah. Kalau mau dengan mudah tahu, puisi atau tulisan lain yang bisa cepat diunggah, Aliya bisa baca tulisan kawan lain yang sudah ada di web Kompas Muda. Terima kasih

      • hallo kak soelastri. saya mau bertanya. cara mengirim naskah cerpen bagaimana ya? apa harus saya ketik di word terlebih dulu? jika memang harus di ketik di word, lalu bagaimana cara mengirimnya?

        • Halo Irmansyah. Sama dengan tulisan lain. Bisa kau ketik dulu di word lalu dikopi ke halaman yang kau buka sesuai petunjuk sebagai kontributor. Oh ya, semua tulisan termasuk cerpen harus dilengkapi ilustrasi yang sesuai isi tulisan. Ilustrasi bisa foto, gambar, gratis tetapi harus karyamu sendiri. Tidak boleh mengambil karya orang lain.

  2. saya mau bertanya kak, untuk mengirim artikel ke kompas muda agar direview oleh tim editor apakah di page “Post” ? kemudian setelah itu menulis dan klik di submit for review ?
    maaf kak saya baru dan saya belu ]m tahu caranya
    terrimasih, semoga dijawab