Bertahan Hidup di tengah Pandemi, Seniman Beralih Profesi Jadi Peternak Ikan Cupang

1
371

Di masa pandemi banyak seniman yang kesulitan bertahan hidup, sebab segala bentuk aktivitas kebudayaan hampir berhenti sepenuhnya. Akhirnya banyak seniman yang memutuskan untuk beralih ke profesi lain. Salah satunya adalah Retna Efendi, seorang seniman yang beralih dari profesinya sebagai wiraswara (penyanyi lelaki dalam karawitan, kesenian khas Jawa), menjadi peternak ikan cupang untuk menyambung hidup.

Awan mendung masih bergelantung di angkasa dalam Kota Blitar, Jawa Timur, ketika saya menginjakkan kaki di Jalan Kelengkeng, Blitar. Nampak rumah sederhana nan kokoh berada di salah satu sudut gang. Ratusan botol bekas kemasan minuman berisi ikan cupang menjadi dekorasi rumah. Itulah rumah Retna Efendi (35).

Lelaki tersebut biasa panggil Pengky adalah wiraswara yang lahir dalam kondisi keluarga yang serba pas-pasan. Pengky mulai memasuki dunia seni ketika ia berada di jenjang pendidikan SMP. Bermula dari talentanya dalam bernyanyi, ia iseng-iseng mengikuti sebuah seleksi untuk mengikuti lomba pekan seni pelajar. Tanpa diduga ia terpilih untuk mewakili Kota Blitar dalam ajang lomba tersebut.

Berawal dari lomba itulah nama Pengky mulai dikenal dikalangan para seniman. Berkat suara merdunya Pengky mulai diajak ke berbagai pentas seni mulai dari pentas wayang kulit sampai sendra tari. Semua jenis pekerjaan yang berhubungan dengan seni olah vokal ia lakukan untuk mencari penghasilan tambahan. “Ya, lumayan lah mas, bisa buat sangu sekolah dan sekaligus bantu-bantu orang tua,” ujarnya pada awal Januari 2021.

Singkat cerita semua kegiatan tersebut ia lakukan sampai lulus sekolah menengah atas. Ketika lulus Pengky mulai merambah ke dunia tata rias, ia berniat memperluas peluang untuk mendapatkan penghasilan. “Saya nggak mau kerja ikut orang, mas, karena lebih enak kalau bisa kerja sendiri. Apalagi kalau bisa menciptakan peluang pekerjaan,” kata Pengky.

Berkat kemampuan di bidang seni olah vokal dan tata rias, ia mampu hidup dengan kondisi yang cukup layak. Pada bulan-bulan tertentu, Pengky  bisa mendapatkan pekerjaan merias pengantin atau orang yang punya hajatan pernikahan dan wiraswara  sampai empat kali dalam seminggu. Order pekerjaan sering terus berdatangan, tetapi ia sampai menolak tampil di beberapa acara karena mempertimbangkan tenaga yang ia punya.

Penghasilan Pengky bisa dibilang cukup menjanjikan. Ia bisa mendapatkan honor Rp 350 ribu untuk sekali tampil di sebuah pementasan. Belum lagi ditambah dengan honor yang ia dapatkan ketika merias, antara Rp 250 ribu bahkan sampai Rp 500 ribu bisa ia kantongi tergantung dari banyaknya jumlah orang yang ia rias.

Seniman yang rendah hati itu mengatakan, order pekerjaan yang ia dapat bukan hanya di wilayah Blitar saja, namun juga ke sejumlah kegiatan kesenian di luar daerah. Ia misalnya pernah menampilkan suaranya yang bagus  mulai dari pementasan seni di Jakarta, Prambanan-Klaten, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, hingga Bali.

Namun semua itu berubah ketika virus Covid-19 melanda. Pada awal peningkatan kasus Covid-19, semua kegiatan yang berkaitan dengan orang banyak diberhentikan secara total oleh pemerintah. Hal itu sangat berdampak bagi para seniman. “Semua job saya dicancel, mas. Orang-orang pada nggak jadi bikin acara karena dilarang pemerintah,” ujarnya menjelaskan keadaan yang ia alami.

Retna Efendi sedang merias pengantin. Foto : Dokumen pribadi

Ditengah keputusasaan, pemerintah memberikan bantuan kepada semua masyarakat yang terdampak pandemi, para seniman mendapatkan bantuan berupa sembako untuk menyambung hidup. Pemerintah berharap bantuan itu dapat menghidupi masyarakat yang terdampak pandemi.

Realitas media sering tidak selaras dengan realitas sosial, ini terbukti nyata dalam kehidupan Pengky. Ia tidak bisa hidup hanya dengan bantuan dari pemerintah. Sembako yang diberikan tidak cukup untuk bertahan hidup. “Meskipun bantuan diberikan sebanyak empat kali, tapi jarak pembagiannya terlalu lama. Sedangan bantuan dari pemerintah itu hanya cukup untuk dua minggu,” tutur Pengky.

Kondisi memaksa Pengky untuk memutar otak guna mencari penghasilan. Sempat kebingungan dengan sumber penghasilan, ia melihat sebuah peluang baru yaitu menjadi peternak ikan cupang.

Peluang tak sengaja terlihat ketika melihat postingan seorang teman yang menggunggah foto ikan cupang di media sosial miliknya. Bermodal uang Rp 3.5 juta, Pengky membeli empat pasang ikan cupang jenis burayak. Memang terlihat cukup mahal dibandingkan dengan yang biasa kita lihat di pasaran, namun harga tersebut terbilang murah dikalangan penggemar ikan cupang.

Beternak cupang lalu menjadi sumber penghasilan yang cukup untuk hidup sehari-hari. Ilmu beternak cupang ia dapatkan dari pengalaman berkat hobinya memelihara ikan sejak kecil. Tak disangka-sangka hobi yang sempat terlupakan malah menjadi solusi untuk bertahan hidup dimasa pandemi.

Hobi jadi solusi

Retna Efendi, seniman yang pada masa pandemi ini beralih profesi menjadi peternak cupang. Foto : Yusuf Wibawa

Menjadi peternak cupang tidaklah mudah, selain musti mahir dalam proses budidaya, para peternak cupang juga harus bisa memasarkan hasil ternak cupang yang ia miliki. Harga ikan cupang yang dipasarkan di tempat yang salah akan menjadi kerugian yang besar, beda lagi jika dipasarkan ketempat yang benar, harga ikan cupang bisa naik berkali-kali lipat.

Pengky menjual ikan hasil ternaknya pada para kolektor dan penghobi ikan cupang. Meskipun tidak setiap hari ikan cupangnya terjual, namun ketika ada kolektor yang membeli, ia bisa mendapatkan uang Rp 250 ribu sampai Rp 1,5 juta. Untuk memberi makan ikan cupang, dalam dua hari sekali Pengky hanya membutuhkan uang Rp 15 ribu saja untuk memberi makan 100 ikan cupang yang ia miliki. Dari hasil penjualan ikan cupang, Pengky dapat menutup seluruh biaya hidup yang ia perlukan.

Ikan cupang hanyalah salah satu jenis ikan yang pernah coba ia kembangkan, beberapa jenis ikan lainnya juga pernah ia coba kembang biakkan. Namun semua itu tidak selalu berbuah manis, sering kali ikan yang ia kembang biakkan mati karena kondisi lokasi peternakan yang kurang mendukung.

Kerugian hingga jutaan rupiah juga pernah ia alami. Kejadian ini berlangsung ketika Pengky mencoba untuk mengembang biakkan ikan koi. Nasib malang menimpanya, suatu hari terjadi pemadaman listrik di lokasi peternakan. Pemadaman terjadi pada bulan November lalu, akibat pemadaman tersebut kebanyakan ikan koi mati karena kekurangan oksigen.

Tren ikan cupang terus meningkat seiring berjalannya waktu, inilah yang membuat ternak ikan cupang menjadi sektor yag cukup menjanjikan. Apalagi cara budidayanya cukup mudah bagi seorang pemula, ditambah dengan harganya yang mampu mencapai angka jutaan rupiah membuat ikan cupang menjadi primadona bagi para peternak ikan hias.

Hari demi hari kondisi semakin membaik, berbagai peraturan mulai dilonggarkan dan Kota Blitar memasuki masa normal baru. Para pegiat seni mulai mendapatkan pekerjaannya kembali. Memang kondisi tidak kembali utuh seperti sediakala, namun perubahan ini dapat menjadi awal yang  baik kelangsungan hidup para seniman.

 

Yusuf A Wibawa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya