Pesona Santri

0
64

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Aku bakal dikirim ayah ke suatu tempat yang jauh di pelosok desa di Jawa Tengah. Alasannya, karena untuk memperbaiki akhlak, katanya. Selama ini perilakuku sehari-hari memang tidak berkenan dihati ayah. Sering keluyuran selama di SMA, sering mengabaikan  nasihat ayah dengan tidak melakukan apa yang ia arahkan, padahal saat ia bicara aku selalu berkata, “Iya, Yah” atau, “Oke Yah, nanti ku usahakan”.

Akhirnya, sebelum aku masuk kuliah, ayah mengharuskan aku mengikuti  pesantren kilat di sebuah tempat. Untuk kali ini, aku bilang pada ayah, “Baiklah, untuk kali ini aku ikut kata ayah. Nanti sore diantar Ibu kesana. Besok sore kata Ibu aku sudah sampai,”.

Senyumnya mengembang, dahinya mengeriput, sisi matanya berlekuk-lekuk, matanya menyipit,  lesung pipit yang agak dalam dipipinya lebih kentara. Senyumnya begitu lebar saat jawabanku mengudara. Seolah ada harapan baru dibenaknya.

Sore itu, aku benar-benar mengikuti arahan ayah, bersama ibu aku meluncur ke tempat yang dimaksudnya setelah tadi aku mengecup tangannya, berpamitan. Ia mengusap kepalaku dengan halus, dan mengajariku bedo’a, “nawaitutta’aluma………”.

Di jalan menuju tempat yang dimaksud, pikiranku kalut, membayangkan kejadian-kejadian yang akan terjadi, yang aku takuti. Aku sungguh tidak tenang, kulihat ibu, tertidur di tempat duduk belakang. Nampaknya ibu setuju saja dengan apa yang ayah putuskan, hingga ibu setenang itu. Aku menghembuskan napas dengan berat.

Subuh belum bergema, tapi tempat ini sudah bergeliat. Barisan santri mengantre kamar mandi, untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Merdunya bacaan Al-Qur’an dari pengeras suara menandakan bahwa santri harus segera bergegas. Bersiap diri untuk shalat berjamaah, walaupun adzan subuh masih sekitar satu jam lagi. Bagi yang bangun lebih awal, dapat lebih dulu melakukan solat tahajud dan solat fajar, lalu tadarus Al-Qur’an setelahnya.

sebenarnya berat melakukannya, hanya saja aku masih punya rasa malu, jika yang lain sudah bangun, tapi aku masih memejamkan mata

Bagi yang udzur, mereka tetap bangun,  wiridan dan mempelajari kitab kuning yang sudah dikaji sebelumnya. Sementara aku adalah santri baru disini, aku sungguh tidak terbiasa bangun sepagi ini, apalagi tidur larut seperti semalam. Tapi aku coba untuk menyesuaikan.

Aku tidak mengenal siapapun saat pertama kali tiba di sini, kemarin sore. Sekarang aku harus berbaur dengan orang-orang asing yang sama sekali berbeda dari penghuni rumahku di Karawaci, Tangerang, Banten. Aku bangun lebih awal dari biasanya, mengikuti mereka yang sudah lebih dulu tinggal di tempat yang mereka sebut pondok pesantren ini. Aku sebenarnya berat melakukannya, hanya saja aku masih punya rasa malu, jika yang lain sudah bangun, tapi aku masih memejamkan mata.

Ku langkahkan kaki mengikuti seorang santriwati yang oleh ibuku dimintai tolong untuk membimbingku selama disini. Ia berwajah galak, bicara seperlunya, bercelak tebal, berbibir pucat, wajahnya juga putih tapi pucat. Siapa sebenarnya santriwati ini?

Sejak aku datang  kemarin sore dia hanya mengarahkanku seperlunya, selebihnya ia tidak bicara, bertanya namaku saja tidak. Berbeda sekali ketika dia berbicara dengan ibuku kemarin, sangat ramah. Sudahlah, aku harus mengikuti segala apa yang di arahkannya, dengan diam dan tidak banyak tanya, aku takut ia melapor pada ibuku saat aku dijemput.

Aku mengikutinya seharian ini, mulai bangun tidur sebelum subuh hingga tidur kurang dua jam sebelum subuh, kecuali jika dia ke kamar mandi. Aku mengantuk berat, badanku bergetar, tidak terbiasa dengan kegiatan sepadat ini. Hingga pada pagi ketiga, aku merasa demam tinggi dengan badan  menggigil, aku jatuh sakit.

Aku ada di pojok ruangan sempit yang mereka sebut kamar ini,  mereka bilang aku harus tidur di pojok kamar agar tidak menghalangi aktifitas penghuni kamar. Dengan beralaskan karpet tipis berselimutkan selimut zebra yang biasanya ada di rumah sakit. Aku dirawat dengan baik oleh santriwati yang biasa ku ikuti, namanya Nuri. Dia begitu telaten, meski tetap dingin dan hanya bicara jika perlu saja.

Lidahku kelu, mungkin wajahku pucat sekarang,  liur dimulutku serasa begitu pahit, lebih pahit daripada brotowali. Aku terbaring lemas, tapi tidak bisa memejamkan mata, sakit kali ini nampaknya membuatku tidak bisa tidur karena terlalu sakit. Aku memandang aktifitas para santri di pagi ini, ada yang membaca Al-Qur’an, menghafal syair nadhom, solat dhuha. Tidak ada yang menganggur, semua yang sehat beraktifitas selayaknya pelajar yang belajar dengan sungguh-sungguh.

Mereka yang malas mungkin ada, tapi mereka yang rajin lebih dominan disini. Entah mengapa, ada rasa lain yang tidak biasanya di dalam diriku, rasa sejuk, rasa damai, rasa beruntung dan entahlah. Aku merasa nyaman berada dalam kumpulan orang-orang ahli ibadah daripada aku yang biasanya. Aku ingin seperti mereka yang dapat mencintai tuhannya dengan sungguh-sungguh, yang tulus mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk beribadah.

Zulayy Ambarwati