Cinta Kasih PPL

0
89

Aku Merindukanmu
Seperti kura – kura tanpa cangkang
Seperti langit tanpa awan
Seperti laut tanpa gelombang

Di antara pipa urat nadiku
Aku menemukan namamu mengalir dengan tenang
Menuju ujung muara yang mengalir ke samudra
Di samudra ada palung yang demikian dalam
Lalu, di tengah lautan, dua nelayan tengah membicarakan kisah kasih lampau

Aku membayangkan tengah duduk di suatu bangku taman di bawah pepohonan rindang tanpa peduli tentang “tik tok tik tok” yang ribut mengetuk jantungku dan katuk kelap yang lari kemana – mana. Diam–diam aku menunggu malam, menunggu bintang kelap kelip memutari tubuh ku. Bagaikan anak–anak, inik-inik, unik, kecil, imut, dan sayang.

Ada berita apa hari ini, non Risma? Ada yang bertanya? Ada kaki yang terontah antih, duduk, segelas susu, dan koran yang siap disantap. Pagi yang dingin menimbun berita – berita lama, berserakan di ruang kamarku. Tanggal 9 Februari, ku jejakkan kakiku diantara sebuah tempat antah berantah bersama sekelompok pejuang, gadis tangguh, gadis bumi Sholawat. Selamat pagi kak Risma, hai kak Risma, hai kakak PPL, Aneh, kata-kata itu terus menghantuiku melewati jendela – dela malam. Apa jendela bisa berbicara?

Apakah kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku? Bagai pertualangan, bagai hari itu. Kadang, kuselami palung, gelap dan hampir buta. Tapi yang kutemukan hanyalah laut kosong. Kutanya pada langit, angin yang melambai, sungai yang mengalir, pohon – pohon, mereka diam. Ternyata benar, kenangan akan selalu ada di hati.

Aku ingat, pada suatu pagi yang jeritannya bagai ombak, ketika perempuan itu datang sembari mengasihi sepucuk kertas. Kau hanya bisa tersenyum dan melahirkan sepotong memoriam. Apakah Kenangan yang selalu basah oleh hujan, yang warnanya seperti kelereng, yang terbang ketika angin turun – tak bisa meninggalkanmu? Apa kamu ingat hari indah itu?

Terima kasih, Sabtu. Kau telah mengajariku untuk mencintai Rabu – itulah yang dikatakan gadis itu setiap kali pulang seklah. Tetapi senjakala, milik kita satu-satunya, kenangan milik kita satu-satunya. Sayang, namamu jatuh bersama cahaya serupa hujan yang telah lama dikandung kelabu.

Arif Furqon Nugraha, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Staf Warta Kema Universitas Padjadjaran