“E-Commerce” Mencari Profit atau Bakar Uang?

0
216

Di era Revolusi Industri 4.0 ini siapa yang tidak pernah berbelanja secara daring atau online? Tercatat di awal Tahun 2019 berdasarkan data yang dihimpun Global Web Index, sebanyak 86 persen pengguna internet Indonesia melakukan belanja daring lewat perangkat apapun.

Apakah kalian termasuk dari 14 persen pengguna internet yang belum pernah berbelanja daring? Saat kamu berselancar di dunia maya pasti pernah melihat iklan belanja daring. Dari situlah banyak penawaran yang diberikan, mulai dari harga miring, diskon besar, hadiah tambahan, cashback, dan penawaran menggiurkan lain, yang membuat para pengunjung internet tertarik untuk singgah di situs e-commerce tersebut.

Belanja daring lebih dipilih karena murah, cepat, lengkap, efisien, praktis, dan fleksibel daripada harus berbelanja secara konvensional ke toko, warung, atau pasar. Lalu, pernahkah terpikir olehmu mengapa banyak toko daring seperti Tokopedia, Bukalapak, Shoppe, BliBli, dan startup unicorn di Tanah Air berani menawarkan barang dengan harga yang lebih murah daripada merek dan kualitas yang sama dengan yang ditawarkan di toko konvensional ? Mengapa mereka rela bakar uang untuk para pelanggan ?

Jor-joran

Murahnya harga barang yang ditawarkan oleh toko daring karena banyak biaya yang dapat ditekan dari biaya-biaya yang biasa dikeluarkan oleh toko-toko konvensional. Misalnya biaya sewa gedung, biaya gaji pegawai, dan biaya operasional toko lainnya.

Ditambah dengan adanya cashback dan diskon besar-besaran, membuat para pelanggan di dunia maya semakin tertarik dengan produk yang ditawarkan. Tren perang cashback dan diskon-diskonan di dunia e-commerce sudah dimulai sejak pertengahan Tahun 2018, karenan toko online bermunculan dengan jenis yang sama di pasar.

Akibatnya persaingan yang amat tajam, setiap toko daring  harus memutar otak untuk menarik pelanggan. Salah satunya dengan memberikan cashback dan diskon yang jor-joran.

Tercatat hingga akhir Tahun 2019 sudah ada 47 pemain besar e-commerce tanah air. Dua diantarnya adalah startup unicorn Tanah Air yaitu Tokopedia dan Bukalapak. Toko-toko daring inilah yang sangat memanjakan para pelanggannya dengan menjual barang harga miring ditambah dengan cashback dan diskon tambahan.

Apa yang mereka lakukan itu memunculkan pertanyaan. Apa alasan yang membuat toko-toko daring tersebut masih terus bakar uang? Strategi mencari untung? Atau mencari pelanggan?

Tercatat 10 tahun belakangan salah satu startup unicorn, Tokopedia tidak pernah mendulang keuntungan. Bakar uang yang dilakukan oleh perusahaan tersebuti ternyata merupakan strategi untuk menarik pelanggan. Selain itu strategi tersebut dilakukan untuk memperkuat nama dan membangun perusahaan, sehingga akan menarik investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Strategi itu akan terus dilakukan hingga perusahaan dirasa cukup kuat untuk bersaing di pasar tanpa mengandalkan penawaran cashback dan diskon besar-besaran lagi.

Bakar uang berakhir

Tahun 2020 diperkirakan akan menjadi tahun awal mulai menurunnya aktivitas bakar uang. Beberapa startup yang rajin bakar uang seperti Tokopedia, Bukalapak, hingga OVO akan merubah haluan mereka untuk mengejar profit di tahun ini.

Bakar uang dinilai sudah cukup, perusahaan Tokopedia dan Bukalapak merasa sudah kuat untuk bersaing di pasar dengan mengutamakan inovasi. Bukan hanya membakar uang, bahkan Bukalapak memulai langkahnya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja 100 karyawan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kinerja perusahaan.

Contoh startup lain di luar toko online yaitu OVO bahkan sudah kehilangan sebagian suntikan dana dari Lippo Group, yang membuat OVO harus sedikit mengurangi aktivitas bakar uang dan kegiatan marketingnya. Selain itu, banyak startup dunia seperti Uber dan Zomato terpaksa ikut merampingkan perusahaannya karena tidak tahan bakar uang terus-menerus.

Apakah toko daring juga akan ikut-ikutan mengurangi kegiatan bakar uangnya di tahun ini? Hilangnya era bakar uang nanti apakah akan menurunkan antusias masyarakat dalam berbelanja online? Atau akan muncul tren baru yang akan menggantikan tren bakar uang? Kita lihat saja di Kuartal I Tahun 2020 ini.

Fandy Syahputra Lubis, Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN