Komunitas Baraloka Banawa Sekar, Memelihara Budaya dan Alam di Semarang

0
118

Komunitas Baraloka Banawa Sekar Semarang berkomitmen untuk menjaga budaya dan alam dengan cara yang menarik dan unik. Di komunitas ini mahasiswa belajar budaya Jawa menari sekaligus  melestarikan alam dengan cara menanam bibit pohon dari hasil penampilan manggung mereka. Mereka menggandeng anak-anak muda, terutama mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Para anggota komunitas berlatih setiap hari Jumat-Minggu. Jenis latihannya, menari dan drama. Tarian itu diberi nama Bumishoddana yang menceritakan tentang penyucian bumi. Maksudnya manusia dan bumi saling menjaga satu sama lain.

Kegiatan selain berlatih menari adalah berlatih di bidang musik dan literasi. Komunitas ini memainkan tari dan juga drama dengan adat Jawa saja. Siapapun tanpa batasan usia dan dari universitas manapun boleh masuk dan belajar bersama tentang kebudayaan Jawa.

“Anggota kami sekitar 15 orang, kadang-kadang bisa nambah bisa kurang. Karena kita memang tidak mengikat para anggota. Yang mau bergabung silahkan bergabung,” tutur Danang Diska Atmaji, ketua Komunitas Baraloka Banawa Sekar pada Kamis (23/1/2020).

Danang Diska Atmaji, mahasiswa Jurusan Sisiologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang merupakan salah satu perintis komunitas itu.  Kawan lain sesama pendiri komunitas Muhammad Falah, jurusan tasawuf psikoterapi, Ahmad Shidiq Muafi, jurusan hukum pidana Islam. Mereka juga berasal dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Jawa Tengah. Satu pendiri lagi, Muhammad Haris, jurusan arsitektur asal Universitas Diponegoro Semarang.

Dari kegelisahan

Awal mula terbentuknya komunitas itu karena kegelisahan Danang dan teman-temannya berkait minimnya wadah bagi anak muda untuk mengetahui dan melestarikan kebudayaan mereka sendiri yaitu kebudayaan Jawa.

“Kadang-kadang saya tidak tahu apa itu Jawa. Bagaimana filosofi orang Jawa. Toh saya yang di sini semua lahir sebagai etnis Jawa, tapi lupa dengan Jawa,” ujar Danang.

Dari peristiwa itu Danang dan teman-temannya mulai merintis satu komunitas di tahun 2018 guna melestarikan kebudayaan Jawa, komunitas itu adalah Baraloka Banawa Sekar. Danang dan teman-temannya berharap, komunitas tersebut dapat menjadi wadah bagi anak muda yang mau belajar dan mengetahu kebudayaan Jawa.

Baraloka Banawa Sekar memiliki arti yang sangat dalam yaitu, bara sebagai api semangat, loka adalah dunia, tempat untuk belajar, becerita dan bercita-cita. Banawa itu kapal dan sekar adalah bunga atau kembang.

Banawa Sekar merupakan penyatuan bumi dan air, antara darat dan samudera. Maka Baraloka Banawa Sekar artinya semangat hidup di dunia ini ada yang namanya penyatuan antara pikiran, hati dan tindakan.

“Tidak boleh sembarangan kita asal hidup, juga tidak boleh terlalu ngotot untuk hidup. Secara luas dapat dimaknai sebagai perjalanan dan laku batin untuk kembali menggali akar kesejarahan, kebudayaan agar jatidir kita temukan kembali untuk menjadi modal penentu arah kapal menuju masa depan. Dari mana, di mana, dan kemana langkah perjalanan hidup ini akan kita bawa,” urai Danang.

Berbagi Ilmu

Dengan waktu latihan di setiap hari Jumat-minggu membuat anggota tidak kesulitan untuk berkumpul dan berlatih. Pelatih tari dipegang oleh Ulfy Sanatin yang lulusan Universitas Negeri Semarang Jurusan Pendidikan Tari.

Ulfy juga yang memberi masukan untuk mengembangkan kebudayaan Jawa dalam bentuk tarian Bumishoddana. Untuk musik dan diskusi tentang budaya Jawa diadakan tidak serutin latihan menari.

“Memang kami lebih fokus pada tarian Bumishodanna. Cara kami berlatih juga dengan berkumpul, dan sharing aja sih,” kata Danang.

Komunitas memberikan pelatihan secara bertahap kepada anggotanya. Dimulai dari pengenalan sejarah budaya Jawa dalam bentuk tarian lalu mengetahui makna tarian tersebut, teknik menari, hingga akhirnya mulai mahir dan ikut dalam pementasan.

Ayu dan Danu adalah anggota baru di komunitas tersebut. Keduanya berasal dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Jurusan Hukum Pidana. Ayu dan Danu masuk pada awal tahun 2019, tetapi sudah ikut andil memenuhi undangan untuk mengisi acara ulang tahun Mahasiswa Pecinta Alam di MAHUPA (Mahasiswa Hukum Pecinta Alam) Universitas Soegijapranata pada 3 Mei 2019 lalu. Waktu itu mereka menampilkan tarian Bumishoddana yang membuat para penarinya merasa senang.

“Ini adalah panggung pertama kami berdua setelah masuk menjadi anggota kemarin. Kami senang sekali setelah latihan rutin akhirnya bisa menampilkan tarian Bumishoddana ke depan temen-temen mahasiswa di Unika Soegijapranata,” tutur Danu

Komunitas Baraloka Banawa Sekar saat tampil dalam acara HUT MAHUPA Unika Soegijapranata Semarang pada 3 Mei 2019

Pada setiap pertunjukannya, komunitas hanya ingin menerima upah  bibit tanaman yang nanti akan ditanam di mana saja yang menurut mereka perlu ditanam.

Soal upah berupa bibit tanaman, Danang kemudian memberi penjelasan. “Memang itu yang kami mau, sebab kami punya produk namanya Bumishoddana (mengambil dari kisah Syekh Siti Jenar saat melakukan penyucian tanah yang akan ditinggali oleh para mubaligh) dalam bentuk tari. Intinya kami hidup dunia ini harus menjaga kelestarian alam serta penyucian bumi yang kita tinggali,” jelas Danang lagi.

Tak hanya menerima bibit pohon saja, mereka juga menerima “upah” biji-bijian seperti biji bunga, pohon, dan biji buah-buahan. “Dari hasil usaha itu akan kami sebar biji tersebut ke beberapa tempat di kota Semarang sepeti tempat-tempat yang tandus. Menebar biji adalah cara nandur (bertanam) orang Jawa pada zaman dahulu,” kata Danang.

Berkait dengan besarnya biaya pementasan, Danang dan kawan-kawan menyatakan sekarang masih menggunakan peralatan seadanya seperti properti untuk manggung. Tetapi prinsip untuk melestarikan kebudayaan dan menjaga alam menjadi dorongan bagi mereka untuk terus melestarikan kebudayaan Jawa sekaligus menjaga alam kota Semarang.

“Keterbatasan dana untuk manggung bukan berarti bisa melunturkan upaya melestarikan kebudayaan sekaligus memelihara alam. Saya percaya bahwa usaha yang baik akan diberikan kemudahan,” tutur ketua komunitas itu.

Komunitas Baraloka Banawa Sekar terus mengajak mahasiswa manapun, anak muda manapun untuk belajar mengenai tarian dan musik, sekaligus memberikan edukasi tetang Kebudayaan Jawa. Mereka berharap, komunitasnya bisa menjadi wadah yang lebih besar lagi untuk mengetahui literasi kebudayaan yang ada di indoneisa.

Yoshi Bagas Raharjo, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Hukum dan Komunikasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang