Mencari Nafkah dari Membuat “Beat” Musik

1
798

Setelah selesai menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Atas lalu melanjutkan ke jenjang berikutnya, dunia perkuliahan, sangat terasa ada perubahan jadwal. Jika semasa sekolah di SMA jadwal pembelajaran padat dan monoton, amat berbeda dengan jadwal di dunia perkuliahan yang lebih banyak libur dan lebih fleksibel.

Perubahan tersebut membuat mahasiswa akan merasa malas dan banyak menghabiskan waktu mereka di rumah masing-masing. Hal itu, menurut saya justru akan menghambat perkembangan mereka dalam mengasah kemampuan masing-masing.

Bagaimana kalau saya bilang bahwa bermalas-malasan dan menghabiskan waktu di rumah dapat diubah menjadi sesuatu yang menguntungkan. Salah satu cara untuk mengisi waktu tersebut adalah dengan membuat musik instrumental untuk diperjualbelikan seperti yang saya lakukan sekarang. Syarat untuk melakukan kegiatan itu hanya sedikit dan kegiatan itu dapat mengubah rasa malas tersebut menjadi keuntungan.

Saya sebagai mahasiswa yang masuk dalam kategori tersebut tentu merasa bangga  mendapatkan keuntungan dari jadwal kuliah yang fleksibel tersebut. Contoh hasil  yang hanya berawal iseng, saya bisa mempublikasikan hasil musik saya ke media sosial Instagram, tetapi siapa yang mengira bahwa keisengan tersebut membuahkan kebanggaan yang berkesan dengan adanya orang membeli hasil musik saya.

Menggali potensi

Setelah peristiwa tersebut, saya menjadi terpicu untuk menggali lebih dalam dan menyelidiki lebih lanjut hal-hal yang diperlukan untuk berkecimpung dalam profesi tersebut. Dari pencarian saya di internet saya menemukan ada anak muda Indonesia yang sudah sukses melakukan hal ini. Ia bernama Ricky, yang biasa dikenal dengan nama panggungnya Sihk. Ialah orang yang berjasa atas kesuksesan rapper Indonesia Rich Brian (Brian Imanuel)  yang berkarier di luar negeri.

Karier Brian dimulai dari keisengannya dengan Ricky yang mempublikasikan lagu mereka yang berjudul Who That Be yang membuat nama Brian viral dan membukakan pintu untuk bersaing dengan rapper-rapper internasional lainnya. Melihat kesuksesan Ricky dalam producing saya merasa yakin, bahwa sangatlah mungkin untuk berkecimpung dalam profesi ini dan dapat membuka jendela peluang untuk meraih kesuksesan di masa mendatang.

Cara-cara yang dapat dilakukan agar hasil musik kita dapat didengar oleh masa yang banyak adalah mempublikasikan musik tersebut di platform yang banyak penggunanya. Seperti Instagram, Beatstars, Soundcloud, dan Traktrain. Saya pertama kali menguggah hasil musik saya ke Instagram tanpa ada niatan untuk memperjualbelikan hasil musik saya.

Namun, siapa yang menduga kalau ternyata ada yang tertarik dengan musik saya dan akhirnya dapat menghasilkan uang. Sosial media seperti Instagram yang dikenal hanya bisa untuk melihat foto dan video sebagai hiburan semata, tanpa kita sadari ada fungsi lain yang mungkin belum orang sadari yaitu menghasilkan uang.

Beatstars, Soundcloud, dan Traktrain adalah situs-situs yang memungkinkan penggunanya untuk mendistribusi hasil musik mereka secara daring. Situs-situs tersebut sangat dikenal oleh beatmaker-beatmaker dalam maupun luar negeri sebagai wadah untuk mempublikasikan karya mereka.

Dengan sangat minim persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi beatmaker menjadi peluang dan salah satu alternatif untuk mengisi kekosongan waktu yang sangat bermanfaat. Setelah menjalani kegiatan perkuliahan maupun setelah melakukan pekerjaan yang membuat lelah, kita dapat membuat musik instrumental sembari merehatkan badan yang lelah ataupun sekedar mengisi kekosongan waktu di hari libur.

Rasa malas tentu saja bisa dimiliki oleh setiap orang, tetapi membuat musik instrumental untuk di unggah di media sosial untuk diperjualbelikan sembari bermalas-malasan dapat mengubah rasa malas menjadi sesuatu yang positif.

Devara Milleon Putra, mahasiswa Marketing Communication
Faculty of Economics and Communication Universitas Bina Nusantara Jakarta