Salah Tempat

0
1037

“Hei, Ta.”

Bersamaan dengan itu, tangannya spontan melingkar di bahuku. Tumben jam segini dia sudah ada di kampus.

“Ke kantin, yuk! Aku yang bayar,” ajak Dimas.

Biasanya kalau sudah begitu, anak itu pasti ada maunya.

Please, tolongin ya, Ta..,”

Nah, benar, kan! Sita menyeruput teh manis hangat sembari mencoba menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang. Perasaannya mulai tidak enak.

“Awalnya biasanya saja, sih. Tapi, semakin lama dilihat semakin manis. Bantuin aku biar bisa dekat sama Anggi, ya, Ta,” pinta Dimas.

Sita menghela napas berat kemudian mengangguk. “Nggak perlu diulang-ulang ngomongnya! Terus jangan lupa bayar bakso dan teh manis. Hmm, berhubung aku masih lapar, bayarin juga siomay seporsi.”

“Oke, Sita sayang.”

Sita lekas beranjak meninggalkan Dimas yang baru hendak menyantap bakso pesanannya. Terang saja, dari tadi dia nerocos terus. Kali ini Anggi yang menjadi “topic of the day”-nya Dimas. Sita sudah hafal dengan kebiasaan teman mainnya itu. Kalau dia sedang menyukai seseorang, mulutnya tidak akan pernah diam menyebut nama cewek beruntung itu.

Beruntung ya. Sita tersenyum getir.

Kalau saja waktu itu motor kak Tora tidak mogok, Dimas tidak akan bertemu Anggi di sanggar balet tempatnya berlatih. Dan sejak saat itu juga dengan sukarela Dimas menggantikan tugas kak Tora menjemput Sita.

Ini bukan pertama kali Dimas meminta bantuan Sita untuk mendekati gebetannya. Herannya, semua cewek yang Dimas taksir, Sita juga kenal. Untung belum ada satu pun yang jadian tetapi bukan karena Sita melainkan Dimas sendiri yang mendadak mundur.

Semoga kali ini juga begitu.

**

“Ta, kayaknya kali ini, aku bakalan nembak Anggi,” sahut Dimas pelan.

Mereka berdua tengah duduk di teras depan rumah Sita. Hal yang biasa mereka lakukan sejak dulu. Rumah Dimas tidak jauh dari rumah Sita, jalan kaki lima menit juga sampai.

Sita menatap teman masa kecilnya dengan nanar.

“Anggi berbeda, Ta,” ujar Dimas seakan menjawab pertanyaan Sita yang tidak terucap. “Dia asyik diajak ngobrol. Nyambung banget sama aku.”

“Bukannya saat ini kamu juga sedang berbicara lancar sama aku? Kemarin-kemarin juga sama. Selalu begitu, kan? Sita hanya berani bertanya di dalam hati. Sepertinya kali ini hatinya akan benar-benar patah.

Sita tidak menyadari kapan tepatnya perasaan itu muncul. Kalau boleh memilih ia ingin jatuh cinta dengan cowok lain bukan dengan sahabatnya sendiri. Tetapi rupanya panah cupid kali ini melesat di tempat yang tak terduga. Sudahlah ia harus susah payah mengatur detak jantungnya saat berhadapan dengan Dimas, kini ia juga harus setengah mati menahan perih mendengar curahan hati sahabatnya itu.

“Kok, tumben dari tadi kamu banyak diam? Sakit?”. Tiba-tiba tangan Dimas sudah mendarat di dahi Sita.

Cewek itu terkejut. Ia menepis tangan Dimas. “Cuma agak pusing sedikit. Aku masuk dulu, ya. Mau istirahat.”

Sita beranjak masuk meninggalkan Dimas begitu saja.

**

“Bengong aja!”

Lagi-lagi tangan itu masih dengan ringan mendarat di bahu Sita. Padahal statusnya sudah berubah jadi pacar orang sejak dua minggu yang lalu.

“Kak Tora belum datang?”

Sita menggeleng pelan.

“Mau aku antar? Anggi pasti nggak keberatan buat nunggu sebentar.”

Kali ini Sita menggeleng dengan keras. “Nggak perlu, paling sebentar lagi, kok.”

“Jangan-jangan motornya mogok lagi. Sebentar aku bantu telepon kak Tora.” Dimas bergegas mengambil ponsel dari saku jaketnya.

“Dim, udah nggak apa-apa. Kamu duluan aja. Itu Anggi sudah dateng, tuh,” sela Sita yang melihat Anggi keluar dari pintu sanggar tempat mereka berlatih balet.

Dimas mengangkat tangannya, menyuruh Sita diam.

“Nggak diangkat.” Dimas kembali melakukan panggilan.

“Berarti lagi di jalan. Sudah kalian duluan aja,” sahut Sita sambil bergantian melihat ke arah Dimas kemudian Anggi yang kini sudah berdiri di sebelah Dimas.

Kali ini gantian Dimas yang menggelengkan kepala. “Aku tungguin sampai kak Tora datang. Nggi, kita tunggu sebentar ya, kasihan Sita soalnya,” Dimas menengok pada Anggi yang mengangguk dengan sedikit keberatan.

Sita jadi makin tidak enak hati. Satu sisi ia senang Dimas masih perhatian padanya, tetapi jika mengingat kembali status Dimas, rasanya perhatian itu sudah salah tempat. Sita pura-pura mengecek aplikasi percakapan pada ponselnya.

“Ya, ampun! Ini kak Tora dari tadi sudah chat aku rupanya! Katanya aku di suruh tunggu di kafe Osterica. Kalau begitu aku duluan ya, Dim, Nggi.” Sita berpaling dan bergegas menjauh dari situ tanpa meninggalkan kesempatan Dimas untuk berbicara.

Sambil berjalan, buru-buru Sita mengirim pesan ke Kak Tora. Kak, aku di kafe Osterica. Besok-besok jemputnya di sini aja, ya. Thx. (Vin)

 

Vina Agustina,  mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Tangerang.