Tembikar

0
109

Baginya tembikar adalah sebuah bahasa. Sebuah medium antara dua dunia yang amat berbeda. Tempat jiwa dan raga saling bertemu. Mereka berkomunikasi seiring putaran roda, ketika sepasang tangan akan memelintir, memanipulasi, dan berkarya.

Tanah liat menjadi sebuah pena untuk mengekspresikan hal-hal yang menggeliat dalam dirinya, sehingga siapa pun dengan kasat mata dapat melihat wataknya yang asli.

Siang itu langit mendung. Gerimis menyapu jalanan dengan lemah lembut, menepis segala kemungkinan untuk bermain di luar. Sang mentari enggan menunjukkan diri, namun ia diwakilkan oleh kilat yang sesekali mengerjapkan cahayanya. Rintik yang melanda seantero kota juga jatuh pada sebuah studio. Ia menggoda kaca etalase di mana pot tanaman, tatakan keramik, dan pernak-pernik porselen ditampilkan.

Studio itu adalah bentuk kolaborasi antara pemuda-pemudi yang menjalin aspirasi tentang tanah dan air. Sebuah kesatuan yang mewujudkan mimpi yang sama dengan tujuan yang berbeda-beda. Dan siang itu, Narendra datang untuk mengunjunginya.

Berkunjung mungkin bukan kata yang tepat jika diaplikasikan beberapa bulan yang lalu. Berkunjung artinya datang untuk menjumpai, melihat dengan sekilas hanya untuk pergi pada akhir hari. Namun tempat ini—walaupun kecil—menjadi tempat persinggahan, sebuah suaka.

Rendra mengenal setiap sudut dan celahnya. Mulai dari ruangan dengan roda-roda tembikar yang beragam, hingga kamar terpencil di belakang studio, tempat ia menyembunyikan sekardus mi instan dan dua butir telur. Selalu dua butir. Tak kurang, tak lebih. Namun, berkunjung merupakan deskripsi yang tepat pada hari ini. Dia akan menjumpai, melihat sekilas dan pergi sebelum matahari terbenam. Tidak kurang, tidak lebih.

Jamnya menunjukkan pukul 15.07. Rendra tak sempat makan siang, maka perutnya keroncongan saat dia membuka pintu studio. Suara lonceng berdenting nyaring, menandakan adanya pelanggan atau perajin masuk ke dalam toko. Konsep studio mereka sederhana. Sebuah galeri dan toko di depan, tempat karya-karya diperjualbelikan dan dipamerkan lengkap dengan makna yang dituliskan di atas secarik kertas. Di belakang, melewati ambang pintu yang ditutupi tirai abu, adalah studio sesungguhnya. Itulah tujuan Narendra.

Rendra memejamkan mata, menarik napas, mengembuskan. Ia menyibak tirai dan seketika diserang oleh aroma tanah basah.

“Ini dunia lain.”

Pepatah yang diucapkan oleh kakaknya sekitar tiga tahun yang lalu, ketika Rendra masih duduk di bangku SMA. Siang itu tidak hujan, matahari terik menampi kulit. Untuk kali pertamanya, ia diajak kakaknya ke studio. Saat itu tempatnya masih baru—cat dinding masih bersih dan aroma bangunan lebih dominan dari tanah liat. Ia diperkenalkan dengan para pencetus studio yang nantinya akan menjadi rumah bagi Rendra.

Rendra yang berusia enam belas tahun, lusuh, dan berantakan tidak peduli dengan taktik kakaknya yang tidak jelas. Sering ia diajak seperti ini. Memancing, memanah, berkuda, dan banyak lagi. Alasannya bervariasi. Dari mulai menepis jenuh hingga mencarikan hobi baru bagi Rendra.

“Bolos sekolah tiap minggu bukan hobi sehat, Ren.”

Rendra seketika disodorkan dengan seonggok tanah liat. Dia mendelik ke arah kakaknya yang pada saat itu cengar-cengir tak keruan dan bahkan beralih untuk berbincang dengan yang lain. Terkadang Rendra bingung bagaimana kakaknya, yang menempuh pendidikan dokter, memiliki waktu untuk bergaul dengan orang-orang di seberang spektrumnya.

Rendra digiring ke salah satu roda tembikar—dipaksa lebih tepatnya. Tahap per tahap ditunjukkan padanya. Mulai dari melempar, mengikis, dan mengglasir. Tentu saja, Rendra gagal. Pot tanaman yang ia buat lebih mirip puing bekas yang biasa dijual di rumah terbengkalai. Sementara kakaknya, sempurna alamiah, dapat menyulap tanah dengan cukup baik pada kali keduanya.

Keesokan hari mereka kembali untuk mengambil hasil. Rendra mendengus kesal ketika membuai pot cacatnya dalam telapak tangan. Walaupun glasir membuat potnya mengilap biru, tampangnya tetap sehabis terlindas mobil.

Kakaknya yang cengengesan berkata, “Bagaimana? Nggak tertarik karena hasilnya begitu? Menyerah? Mau pindah?”

Rendra menggeram. “Nggak. Gue mau lagi.”

Akhir-akhir ini, hal kecil pun membuat Hakeu marah.

Waktu cepat berlalu. Lambat laun studio masuk ke dalam rutinitas mereka. Percumbuan dengan tanah, air, dan roda tembikar berputar menjadi suatu ritual yang Rendra dan kakaknya lakukan tiap minggu. Rendra tak berkutik lagi dengan pot. Melainkan ia memfokuskan diri pada ornamen dan pernak-pernik, sesekali cangkir.

Ia mendapatkan bahwa tak ada salahnya dengan hiasan keramik. Kau bisa membuat apa saja, seabstrak mungkin, tanpa melakukan kesalahan yang terlalu fatal. Tentunya tetap tidak mudah, namun Rendra menemukan kesenangan berkreasi di dalamnya.

“Ren?”

Rendra kembali pada sekarang. Ia menoleh ke arah roda-roda tembikar, tampak seorang pemuda sedang duduk dan mengikis pot. Pemuda tersebut—Wisnu, pencetus utama studio—lebih mirip pecandu narkoba daripada mahasiswa semester tujuh. Rambut keritingnya kumal, matanya nanar seakan selalu di bawah pengaruh arak, dan harum tembakau yang tak kunjung pudar. Ia berdiri, berjalan, dan saat di hadapan Rendra, tersenyum. Seringai mungkin lebih tepat. Matanya terlihat lelah, namun tatapannya tetap hangat.

Ngambil barang-barang?”

Rendra berkedip. Wisnu bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam satu hari. Dia terkenal keluyuran sampai pagi buta. Namun dia tidak pernah minum. Siang ini, alkohol tercium berat di napasnya.
“Iya, Bang.”
“Ada di belakang, ya. Tapi hati-hati ada kiln baru.”
Rendra bergeming, mengangguk. Dia baru saja menyalip dua langkah saat Wisnu berdehem.

“Soal Hakeu—”
“Iya nggak apa-apa, Bang.”

Rendra melanjutkan langkahnya ke belakang.

Hartanto Keusumo. Awalnya dipanggil Harto sampai akhirnya membentak, kesal. Panggilan Harto dianggapnya tua dan tidak atraktif. Sehingga ketika menginjak usia sebelas tahun, ia menamai dirinya Hakeu. Julukan yang aneh dan kaku, namun dinobatkan alternatif yang lebih baik dibanding Harto. Buat Rendra, Harto maupun Hakeu, ia tetap memanggilnya Abang. Kakak.

Suatu sore di bulan Desember, Rendra mendapatkan studio untuk dirinya sendiri. Itu tak masalah. Persiapan proses tembikar sudah sering ia lakukan sehingga setiap tahap bergerak berdasarkan insting. Sore yang lambat, sore yang baik. Ia tengah melahap mi instan yang ia rebus di dapur kecil ketika bel toko berbunyi..

Rendra berhenti bergerak ketika suara langkah sang pendatang mendekati area belakang. Tirai abu yang membatasi depan dan belakang terbuka, menampilkan Hakeu dengan muka kusut.

“Bang?”

Rendra terkejut. Hakeu mulai jarang menemaninya ke studio. Alasan tugas menumpuk dan kelelahan kerap digunakan olehnya. Lama kelamaan waktu yang dapat diluangkan kakaknya menipis, sehingga ia mulai bisa mandiri menjalani ketertarikannya. Selain itu, Rendra mulai enggan mengajak.

Akhir-akhir ini, hal kecil pun membuat Hakeu marah. Kegagalan yang kerap dihadapi pada proses pembuatan keramik merupakan campuran yang fatal dengan sumbu pendek Hakeu yang abnormal. Tak jarang Rendra harus mengindar. Gelisah ketika kakaknya mulai meluapkan amarahnya pada tanah liat. Takut ketika ia mulai melempar barang. Namun Rendra kira beban dan stres yang ditanggung kakaknya cukup besar sehingga membuatnya seperti ini.

Ketika melihat Rendra, muka Hakeu berubah cerah sebelum tersapu oleh bingung. Ekspresi kakaknya seperti kolam yang menampilkan segala hal di dalamnya. Mudah terlihat.

“Kok, lu makan mi?”
“Eh.”
“Kan nggak boleh makan di wheel.”
“Ya iya, tapi—”
Nggak ada tapi. Sana pergi.”
“Yah, Bang—”
“Hus. Bersihin jangan lupa.”

Intonasi Hakeu membuat Rendra bergidik. Dingin dan otoriter. Ia segera menghabiskan makanannya serta membersihkan tumpahan kuah di roda sebelum Wisnu datang dan melepaskan seisi neraka.

Waktu berlalu dan sekarang Rendra berada di pekarangan belakang studio. Ruang lapang itu cukup kecil namun tidak dapat dibilang sesak. Dengan kerikil sebagai lantainya dan atap terbuka yang memperlihatkan langit, tempat tersebut adalah kantung udara, bebas dari uap pembakaran. Suara gerimis lanjut menemaninya berjalan menuju kamar di sudut pekarangan.

Ekor matanya menangkap pembakaran baru yang Wisnu peringati, masih tertutup plastik. Dari posisinya di seberang lapang, Rendra dapat melihat bahwa kiln tersebut merupakan salah satu model terbaru. Aset yang berharga untuk studio.

Pintu kamar berderik nyaring. Cahaya dari luar membasuh kamar yang gelap. Rendra menapak maju, memasuki kamar. Udara terbuka dari pekarangan seketika menjadi pengap. Kamar—mungkin lebih tepatnya gudang—menyedot segala kesejukan, meninggalkan kehampaan. Napas Rendra tertahan oleh debu pekat yang mendominasi ruangan. Ia terbatuk, mengernyitkan dahi, sebelum melangkah lebih dalam.

Sebuah ranjang menempel pada ujung kiri kamar. Tanpa matras di atas, ranjang tersebut menampung kardus-kardus dengan isi yang beragam. Dari padatan glasir, berbagai pemahat, hingga kepingan karya gagal yang masih disimpan. Rendra berusaha menghindari tumpukan kardus lainnya yang memenuhi kamar. Matanya menyelidik, setengah lelah, setengah frustrasi. Akhirnya ia menemukannya, bersarang di antara sekotak piring dan lempengan kayu. Rendra menghela napas dan berjongkok.

Di hadapannya adalah kotak karton cokelat. Kotak itu tertutup. Tidak dengan selotip atau lakban, hanya dengan kelopaknya yang dilipat bersama. Rendra menatapnya—tak bersuara, tak bergerak. Ia merasa jika dia bergerak, mengambil kotak itu dan membukanya, maka semua ini benar-benar berakhir. Dia bisa saja membuangnya, membakarnya tanpa dibuka. Namun Rendra tak berani. Nyala apinya menciut.

Tanpa restu otaknya, tubuhnya bergerak. Seketika tangannya menyambar kotak itu, membukanya dengan paksa, dan berhenti. Di hadapannya adalah kreasi-kreasinya. Dengan gerakan patah, Rendra mengambil yang paling atas. Ia memutarnya sehingga benda tersebut tertangkap sinar dari luar. Seekor katak duduk di atas daun teratai lengkap dengan topi jamurnya. Atau lebih tepatnya, hampir lengkap. Rendra tertawa, meringis.

Tak ada bintang di kota. Semuanya padat, pengap, dan mencekik. Salah satunya tempat yang memberikan ia napas adalah studio ini.

Waktu tempuh dari kampus Rendra ke studio mencapai 40 menit dengan motor. Ditambah lagi dengan ongkos pulang pergi yang lumayan mahal, hal tersebut cukup membuat orang awam memandangnya dengan heran. Namun itu sepadan bagi Rendra yang sudah luluh lantak ke dalam dunia ini.

Malam itu sama pengapnya dengan malam-malam yang lain. Bisa dibilang hampir tak ada yang berbeda kecuali fakta bahwa Rendra dipercayakan dengan kunci studio. Kepercayaan ini baru berbunga akhir-akhir ini—ketika ia berhasil menjalani masa ospek di kampusnya tanpa mogok mental. Rendra bersiul di dalam studio, menikmati kesendirian dalam kegelapan. Hitamnya langit membuat tembikar-tembikar bersinar, seakan ini adalah kesempatan mereka untuk berseri dengan sendirinya.

Di saat Rendra mengeluarkan karyanya yang baru matang dari tempat pembakaran, terdengar bel toko berbunyi. Gerak-geriknya terhenti. Memang dia tidak mengunci pintu studio karena siapa pula yang akan masuk? Instingnya mengatakan maling. Namun ketika langkahnya tidak terdengar menuju kasir, melainkan ke belakang, ide kedua Rendra adalah kunti. Ia sudah siap untuk dibunuh malam ini ketika tirai pembatas tersibak.

“Lah, Bang?”

Tentu saja, hal itu mustahil untuk Rendra lupakan. Itu selalu di depan pikirannya, menghalangi akal sehatnya.

Hakeu sudah sejak lama berhenti mengunjungi studio. Dikarenakan studinya yang memakan banyak waktu dan ketertarikan yang mulai pudar, rutinitas untuk membuat satu karya setiap minggu menghilang. Hal tersebut hanya dilakukan oleh Rendra—yang alih-alih sekali seminggu, lebih sering menghabiskan hari-harinya membuat tembikar.

Kekagetan Rendra juga bertumpu pada komunikasi yang perlahan memudar seiring tiga tahun berjalan. Mungkin mereka sudah besar. Mungkin mereka memiliki kesibukan sendiri. Tapi Hakeu tak pernah mengontaknya lagi.

Sejujurnya, Rendra merindukannya. Ia tak mahir dalam memainkan emosi, apalagi menunjukkannya, namun ia ingin melakukan hal-hal tanpa tujuan dengan Hakeu lagi. Jika ia bisa memutar waktu, mungkin ia tak akan mengeluh ketika diajak memancing. Atau mengaduh saat menganyam. Atau kesal pada Hakeu karena telah menunjukkannya hal-hal baru hanya untuk meninggalkannya lagi.

Mata Hakeu mendarat pada Rendra. Ia tersenyum getir.
“Halo, Ren.”

Rendra terdiam. Gerah menekan studio, mendesak dan mengambil kemampuan untuk bernapas.
“Bang.”
“Sudah siap pindah?”
Nggak terima kasih, Bang. Ren sudah nyaman.”

Hakeu mendongak, melepas tawa lelah. Ketika pandangannya kembali menangkap Rendra, tak ada lagi kehangatan di dalamnya. Hakeu melangkah, mendekat, sampai ia berhenti tepat di depan Rendra. Bau tanah basah tercium kental.

“Saatnya pergi.”

Rendra menggeram. Di belakangnya, salah satu kiln masih menyala, bunyi gas yang menyemburkan api terdengar lantang.

“Tidak usah, Bang. Gue menetap.”
“Bohong. Kau masih merindu. Kau masih ingin berjalan.”
“Cukup. Rendra sudah aman.”
“Belum, Ren. Apa kau lupa?”

Tentu saja, hal itu mustahil untuk Rendra lupakan. Itu selalu di depan pikirannya, menghalangi akal sehatnya. Namun seiring waktu, Rendra belajar terbiasa. Seiring waktu, Rendra memang ingin melupa.

Nggak, Bang. Tapi gue memilih nggak mendengar. Nggak menurut.”
“Berhenti berbohong pada diri sendiri, Ren.”
Gue nggak berbohong—”

Dengerin gue,” Hakeu menyambar tangan Rendra, menancapkan kukunya ke dalam daging. Rendra meringis. Sakit. Takut. Hakeu melambaikan tangannya, mengindikasikan seluruh studio. “Ayo, pindah lagi. Sudah bosan, bukan?”

Rendra menghela napas, memejamkan mata. Tubuhnya bergetar. Butuh tiga tahun untuk mencapai ini. Butuh tiga tahun untuk melupakan. Tiga tahun untuk menghindar. Mungkin cukup tiga tahun untuk menerima.

“Sudah, cukup. Berhenti di sini. Gue berhenti di sini.”
“Ayolah, jangan—”

Rendra meraih benda terdekat dan melempar. Bidikannya telak menghantam kepala Hakeu, suara pecah keramik mengikuti. Cengkeraman pada tangannya terlepas dan Rendra melompat mundur.

Untuk sesaat, semua hening. Tak ada rintihan sakit, tak ada tanda kehidupan. Perlahan Rendra membuka matanya, setengah mengharapkan seringai getir dan mata dingin. Namun ia dijumpai oleh ruangan kosong.

Rendra membuang napas panjang, tersungkur. Pandangannya menangkap benda yang dilemparnya ke ujung ruangan. Ia berdiri, perlahan—karena semua langkah pertama dimulai dengan perlahan—dan mulai membersihkan. Ajaibnya, keramik kataknya hanya pecah menjadi dua keping. Topi jamurnya ia temukan cukup jauh, tersangkut di antara kaki meja.

Sekarang, Rendra memegang kedua kepingan tersebut. Ia tertawa, setengah mengejek. Cukup lama ia bermain di parade ini. Berpindah dari satu pelampiasan ke yang lainnya. Menghindar dari tujuan utamanya. Bergerak, menetap.

Rendra kembali ke dalam studio pada pukul 18.00—tepat setelah matahari terbenam. Di dekapannya adalah kotak penuh dengan kreasinya. Dan di atasnya, dua bungkus mie instan dan dua butir telur dalam kotak plastik. Ia mendapati Wisnu di tempat awalnya, mematung menatap vas yang dia kerjakan. Ketika Rendra memasuki studio, ia mendongak.

“Ren? Sudah semuanya?”

Rendra mengangguk. Untuk sesaat, mereka terdiam. Lalu Wisnu menghela napas dan berdiri. Ia melangkah mendekati Rendra, namun ketika berhenti di hadapannya, ia tidak tersenyum.

Rendra bisa saja membayangkan Wisnu adalah Hakeu. Tinggi mereka sama dengan postur tubuh yang tak terlalu berbeda. Suara mereka mengambang di tengah tenor dan bariton. Mereka berdua tersenyum dengan mudah. Namun mereka tidak bisa lebih berbeda.

Wisnu berambut keriting di mana Hakeu lurus. Kakaknya membawa dirinya dengan tawa dan lelucon. Sementara Wisnu penuh dengan senyum dan kalimat menenangkan.

Hakeu menatap Rendra seakan dia permainan, sebuah percobaan. Sekarang, Wisnu menatapnya dengan khawatir. Kakaknya tak pernah melakukan itu.

“Gue nggak akan melarang lu pergi. Tapi kalau mau cerita, lu tahu bisa cerita ke gue, kan?”

Rendra jarang menangis. Selalu berjanji untuk tidak. Namun sekarang, matanya terasa pedas. Ia tertawa, menatap Wisnu balik untuk kali pertamanya.

“Siapa bilang gue mau pergi? Terus mi ini buat siapa?”

Wisnu terdiam. Perlahan ia tersenyum, menyeringai. Raut wajahnya tak sebening Hakeu. Butuh waktu lama untuk Rendra melihat Wisnu meleleh.

“Oke. Ayo, kita makan di wheel.”
“Hah?”
“Jangan bilang yang lain tapi.”