Asa Pelosok Negeri

1
92

Aku rasa bumi memang berputar. Cukup kencang. Kakiku goyah. Ada dorongan kuat dari perut yang menuntut keluar. Aku ragu gravitasi dapat menahan tubuhku. Harus kuakui, antimo atau obat anti mabuk perjalanan tidak sepenuhnya bekerja sekarang. Penyeberangan dari pulau Jawa ke pulau Sumatera memberikan dampak yang luar biasa padaku.

“Kamu baik-baik aja?” tanya Rey kepadaku.

“Sedikit mabuk, tapi ga papa,” ucapku.

Mini bus yang aku tumpangi berhenti. Menempuh perjalanan dari Jakarta ke Lampung menggunakan mini bus adalah gagasan yang luar biasa.  Aku tidak pernah mabuk perjalanan selama ini. Aku pernah menempuh perjalanan Jakarta ke Surabaya dengan jalur darat pun tidak masalah. Namun, medan yang dilewati saat ini membuat ketahanan tubuhku goyah. Belum ditambah perjalanan menggunakan kapal menyeberangi Selat Sunda.

Aku bersama teman-teman turun dari mini bus. Kami menuju ke belakang bus untuk mengambil barang-barang. Saat ini kami menginjak wilayah Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Pesisir Barat adalah kabupaten baru, hasil pemekaran Lampung Barat.

“Hai, Anak UI! Sini-sini, duduk dulu!” seorang bapak berpakaian rapi melambaikan tangan ke arah kami.

“Pak Peratin! Pagi, Pak!” seru Faiz. Peratin adalah sebutan untuk kepala desa di Pesisir Barat ini.

Aku mengatur keseimbangan tubuhku. Tas gunung yang kubawa lumayan berat dan akan membuatku jatuh apabila tidak berhasil menyeimbangkan tubuh. Aku berjalan menghampiri teman-temanku yang sudah lebih dulu duduk di warung.

“Ini namanya Tasya, Pak” ucap Syifa memperkenalkanku kepada Pak Peratin.

“Tasya, Pak”, aku mengulurkan tangan untuk bersaliman.

“Duduk dulu, silakan”. Pak Peratin menunjuk kursi kosong di ujung kanan.

Aku meletakkan tasku dan menarik kursi. Bumi sudah berhenti berputar rupanya.

Pak Peratin memperkenalkan rekan-rekannya satu per satu kepada kami. Aku sibuk meneguk teh hangat dihadapanku. Teh hangat ini membuat perutku lebih tenang.

Aku menyimak pembicaraan rencana perjalananku melakukan survei lokasi ke salah satu titik Gerakan UI Mengajar 9. Aku tahu titik tempatku adalah yang terpelosok. Tidak ada ketakutan di benakku, meskipun aku harus melakukannya sendiri. Aku menantikan ini. Berinteraksi dengan masyarakat yang tidak pernah kukunjungi pasti menyenangkan.

****

Hari ini aku mendapat kesempatan menemani salah satu pengajar Gerakan UI Mengajar untuk berkunjung ke rumah seorang siswa kelas lima. Katanya, rumah yang akan kami kunjungi cukup jauh dan menanjak. Titik aksi Gerakan UI Mengajar yang kutempati berada di wilayah perbukitan. Wilayah ini bernama Pekon (desa) Pagar Dalam dan terdiri dari beberapa pemangku (dusun). Pagar Dalam berbatasan langsung dengan Palembang dan dikelilingi bukit barisan. Hamparan lautan akan tampak dari titik atas, tepatnya di Pemangku Way Kerkai.

Jalanan yang kami lalui berupa bebatuan. Terkadang kami menemukan genangan air berisi lumpur bekas hujan semalam. Pilihan tepat kami berangkat pagi, karena udara tidak begitu panas. Anak-anak kelas lima dan seorang anak kelas empat antusias melihat kami berjalan menahan linu di kaki. Sekolah sedang ada renovasi, sehingga jam masuk anak-anak kelas empat sampai lima masih nanti siang. Mereka berlomba mengampiri kami.

“Pagi, Bu Dian dan Bu Tasya!” sapa anak-anak.

“Pagi!” jawabku dan Dian serentak.

“Mau ke mana ini, Bu?” tanya Zahra yang menggandeng lengan Dian.

“Mau ke rumah Fauzi. Kalian tahu rumahnya di mana?” tanya Dian.

“Tahu, Bu!” jawab anak-anak kompak.

“Boleh tolong temani Ibu dan Bu Dian ke sana?”

“Ayo, Bu!” seru Zahra diikuti anak-anak lainnya.

Aku pun melanjutkan langkah. Mendengar anak-anak yang bernyanyi membuat rasa lelah hilang. Aku merasa ada seseorang yang mengamati dari belakang. Aku menengok dan melihat seorang anak laki-laki yang bersembunyi di balik pohon jambu. Selama satu minggu berada di Pagar Dalam, aku belum pernah melihat anak itu.

“Zahra, yang di belakang siapa?” aku bertanya dengan setengah berbisik.

“Ibu, itu Kiki. Dia engga punya teman, Bu. Nakal.” Aldo tiba-tiba menyahut.

“Kiki? Anak kelas berapa?” tanya Dian tidak kalah penasaran.

“Dia dikeluarkan dari sekolah, Bu. Dia harusnya sudah SMP, tapi saat kelas empat dia udah dikeluarkan sekolah.” ucap Zahra.

“Kenapa dikeluarkan? Kalian tahu tidak?”

“Dia tidak bisa berhitung dan membaca padahal sudah kelas empat. Nakal juga, sering berantem” jelas Aldo.

Aku memikirkan separah apa kondisi Kiki hingga teman-teman dan guru memberinya label sebagai anak nakal. Melihatnya berjalan sendiri tanpa teman, jelas bahwa ia tidak memiliki teman. Anak seusianya yang seharusnya menikmati masa sekolah dan bermain justru menjadi orang terbuang dari masyarakat.

Aku menghentikan langkah di depan sebuah rumah panggung dari kayu. Seorang wanita paruh baya tersenyum ke arah kami. Ia pasti orang tua Fauzi.

“Assalamualaikum”, ucapku.

“Waalaikumsalam. Ayo, masuk sini, Bu!”

Hanya ada tiga ruang di rumah panggung ini. Udara di dalam rumah terasa dingin, tapi nyaman. Bagian bawah rumah tampaknya digunakan sebagai dapur. Aku kagum melihat televisi kecil yang menayangkan acara kartun. Meskipun warna gambar televisi tidak stabil, suaranya terdengar jelas. Seekor kucing hitam-putih mengamatiku. Sepertinya ia bertanya dari mana orang asing ini.

Aku melihat ibunya Fauzi menaiki tangga. Ia membawa beberapa jagung rebus di sebuah baskom plastik. Aku berdiri untuk menerimanya. Kebetulan aku belum sarapan.

“Silakan jagungnya, Bu. Asli dari kebun sendiri”.

Mengunjungi rumah orang tua murid bertujuan untuk mengetahui kondisi setiap murid dari pandangan orang tua sekaligus bersilaturahmi. Tampak ibunya Fauzi sangat dekat dengan anaknya. Ia mengenal semua kegemaran Fauzi.

Aku tertarik untuk mencari tahu mengenai kegiatan orang tua Fauzi. Tentu saja hal itu penting untuk mengetahui selama apa interaksi orang tua dengan anaknya.

“Saya dengar Ibu biasanya bekerja di kebun membantu Bapak, ya?”

“Benar. Fauzi memberi tahu kalau Bu Dian akan datang ke rumah, jadi hanya Bapak yang pergi ke kebun hari ini”.

Aku mengangguk. “Kebunnya jauh, Bu?”

“Lumayan, Bu Tasya. Sekitar dua sa.mpai tiga jam berjalan ke atas”.

“Wah… Jauh juga, ya, Bu”, ucap Dian.

“Iya. Rumah kami dulu dekat dengan kebun, tapi harus pindah karena digusur”.

Aku mengerutkan dahi, “Digusur siapa, Bu?”

Ibu Fauzi menghela napas sejenak. Ia meneguk air putih sejenak. Ia pun mulai bercerita bagaimana penggusuran itu terjadi.

Fauzi dulu masih kecil. Mereka memiliki rumah sederhana yang sangat dekat dengan kebun. Namun, itu semua tidak bertahan lama. Mereka adalah salah satu dari beberapa penduduk yang bermigrasi ke wilayah bukit barisan. Hanya berbekal nekat dan mimpi untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, mereka pun membuka kebun dan membangun rumah di kawasan hutan lindung bukit barisan. Peng

gusuran tidak hanya berlangsung sekali, sudah tiga kali keluarga mereka hidup nomaden. Tentu saja tidak hanya kehilangan tempat tinggal saat digusur, kebun pun juga digusur.

“Mau gimana lagi, Bu. Namanya juga kita tidak ada surat kepemilikan. Numpang diam-diam di kawasan lindung.” Ibunya Fauzi membelai kepala anak keduanya. “Waktu itu saya sedang hamil adiknya Fauzi ini. Setelah digusur, tentu saja tidak ada tempat tinggal. Ya, terpaksa tidur di gubuk kebun atau menumpang di rumah warga selama mencari tempat tinggal lain”.

Aku membayangkan saat-saat sulit yang telah dilalui keluarga ini. Tanpa pengetahuan apa pun tentang kawasan yang mereka tuju, memberanikan diri untuk mengadu nasib. Makna rumah bagi mereka bukan lagi bangunan berpintu, tetapi tempat mereka bisa merebahkan diri untuk bermimpi sejenak.

Hari semakin siang. Aku dan Dian harus bergegas kembali untuk bersiap ke sekolah. Kami berpamitan kepada ibunya Fauzi. Fauzi ingin berangkat sekolah bersama kami.

“Bu Dian dan Bu Tasya, ini saya bawakan jagung mentah. Lumayan bisa buat sayur”.

Aku menerima kantong plastik yang lumayan berat berisi jagung-jagung besar. “Wah, terima kasih, Bu”.

“Sama-sama.” Ibu Fauzi melangkah lebih dekat, “Bu, hati-hati sama Kiki. Nakal anaknya”.

Aku menengok ke arah pandangan ibunya Fauzi itu. Kulihat Kiki memang mengikuti kami hingga di sini. Hal itu membuatku penasaran. Pasti ada yang ingin ia sampaikan. Mungkin juga tertarik dengan kami.

****

Aku menceritakan tentang Kiki kepada panitia Gerakan UI Mengajar yang berada di sekolah. Mereka juga sama penasarannya denganku. Anak itu terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Ia bahkan mengikuti kami hingga sekolah. Ia menatap setiap interaksi kami dengan anak-anak di sekolah.

Kisah tentang Kiki adalah misteri yang baru bagi anggota Gerakan UI Mengajar di Pagar Dalam. Panitia sudah melakukan tiga kali survei di tempat ini, tapi tidak ada hasil survei yang menyebutkan adanya anak yang putus sekolah. Ketertarikan Kiki kepada kami menimbulkan interaksi tersendiri.

Hari silih berganti. Satu per satu misteri di Pagar Dalam mulai terungkap, termasuk tentang Kiki. Kiki adalah anak seorang petani kopi. Ia tinggal bersama ayah kandung, ibu tiri, dan saudara tirinya. Setelah putus sekolah, Kiki ikut bekerja di kebun. Label Kiki sebagai anak yang bodoh dan nakal tidak hanya diungkapkan oleh anak-anak seusianya, masyarakat sekitar, guru di sekolah, bahkan orang tuanya pun berpikir seperti itu.

Kiki semakin dekat dengan kami. Ia selalu ikut membantu pekerjaan kami di sekolah. Terkadang ikut belajar, bermain, dan mendengarkan dongeng. Kami bahkan tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan Kiki jika nanti kami kembali. Masalah Kiki berada di luar jangkauan kami, karena fokus pengabdian kami di sekolah. Namun, kami yakin kedatangan kami membuatnya merindukan sekolah.

“Kiki mau sekolah lagi?” tanya Ardi sambil merangkul pundak Kiki.

Kiki terdiam. Jemari tangannya bergerak gelisah.

“Ibu dan bapak di sini tidak lama, Kiki. Kami akan pulang setelah dua puluh lima hari. Nanti kalau bapak dan ibu pulang, Kiki mau sekolah untuk belajar lagi?”. Tsasa berlutut menyejajarkan tingginya dengan Kiki.

Kiki mengangguk, “Iya”

Mendengar Kiki masih memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah adalah hal yang luar biasa. Anak seusianya sudah sepantasnya mendapatkan pendidikan yang layak, belum saatnya untuk bekerja di kebun. Hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah berbicara dengan orang tua Kiki.

****

Langit mulai mendung. Sebentar lagi pasti hujan akan turun. Anak-anak yang berjalan di depanku mulai berhenti. Terdengar napas mereka memburu. Hari ini aku menemani Akhmal dan anak-anak kelas lima untuk jalan-jalan bersama di hari terakhir mengajar. Aku menengok ke arah Akhmal. Ia pasti tahu kalau anak-anak sudah mulai lelah menaiki medan.

“Kuat tidak?” tanya Akhmal, kepada anak-anak.

“Sebentar, Pak. Capek”, ucap Widy.

“Kalau tidak kuat, jangan dipaksa. Kita bisa turun lagi aja. Sudah mau hujan juga.” aku menyarankan.

“Gimana? Mau turun lagi aja?” tanya Akhmal.

“Iya, Pak”. Akhirnya anak-anak setuju.

Kami kembali menuruni bukit. Hujan yang turun semalam membuat jalanan becek berlumpur. Aliran sungai juga terdengar deras, meskipun kami sudah memasuki hutan. Kami melewati jembatan kayu gantung yang cukup panjang dan cantik. Aku mengagumi tempat ini. Sudah lama aku tidak jalan-jalan di tempat seperti ini.

Langit sudah tidak mau berkompromi dengan kami. Tiba-tiba hujan turun di tengah perjalanan. Anak-anak berhamburan panik, karena hujan yang turun cukup deras. Untung saja kami sudah sampai di kawasan pemukiman, sehingga bisa mencari tempat berteduh sementara.

“Mari, Pak, Bu, mampir dulu saja!” ucap seorang warga.

Aku dan Akhmal memutuskan untuk berteduh di rumah salah satu warga. Anak-anak juga mengikuti kami.

Rumah tempat kami berteduh terbuat dari perpaduan kayu dan gubuk. Sebagian besar memang tidak ada rumah yang terbuat dari semen dan batu bata. Rumah ini tidak memiliki alas lantai, hanya tanah tanpa polesan apa pun.

Kopi hangat dan pisang disajikan di meja hadapanku. Aku antusias menyambut pisang di hadapanku, karena lama menahan rasa lapar. Mungkin aku akan memakan tiga pisang atau lebih.

“Itu kopi gula aren. Gula arennya buat sendiri dan kopinya juga. Pohon aren dan kopinya dari kebun kami” ucap Pak Untung.

Aku meneguk kopi gula aren itu. Rasa pahit khas kopinya masih sangat melekat dan dipadukan dengan rasa gula aren yang manis.

“Biasanya Bapak menjual kopinya dalam bentuk bubuk atau mentahan, Pak?” tanya Akhmal.

“Biasanya mentahan. Masih biji”

“Bapak jual sendiri ke pasar atau ada yang mengambil nanti, Pak?” tanyaku antusias.

“Kadang saya antar, kadang juga ada yang ambil.”

“Berapa per kilo, Pak?” tanya Akhmal.

“Ya, sekitar sepuluh ribuan. Tergantung harga pasaran”.

“Bapak tahu tidak nanti kopi Bapak dihargai berapa saat dijual bentuk jadi?”.

“Tidak tahu”.

Ironi. Petani kopi bahkan tidak bisa membayangkan jika kopi yang mereka jual perkilo sepuluh ribu itu dapat dijual seharga puluhan ribu secangkirnya.

Perbincangan kami terus berlanjut hingga hujan reda. Tidak terasa aku sudah menghabiskan enam pisang raja.

****

Tidak terasa perjalanan Gerakan UI Mengajar sudah mencapai hari ke-23. Sebentar lagi kami akan kembali ke kampus dan menjalani rutinitas mahasiswa seperti biasa. Namun, sebelum itu ada satu hal yang ingin kami coba, yaitu menemui orang tua Kiki.

Tsasa dan Iko berniat menemui orang tua Kiki. Sebelum pergi, mereka membawa seragam merah-putih dan perlengkapan sekolah lain untuk diberikan kepada Kiki. Semua perlengkapan tersebut diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harapannya, dapat bermanfaat bagi anak-anak yang kurang mampu.

Aku menunggu kepulangan Tsasa dan Iko dengan cemas. Ayah kandung Kiki dikenal galak. Keluarga mereka cukup tertutup dari tetangga. Selain itu, hubungan Kiki dengan ayahnya dikenal tidak baik. Kiki adalah korban dari keluarga broken home.

Aku melihat lampu senter berkedip di depan rumah. Tsasa dan Iko pasti. Aku berlari menghampiri mereka. Tampaknya mereka tidak berhasil. Aku melihat seragam dan perlengkapan sekolah masih dipegang Tsasa.

“Gimana?” tanyaku pelan.

Tsasa mulai bercerita bagaimana mereka bertemu dengan orang tua Kiki.

“Kalau mau bawa anaknya, bawa aja, Mbak, daripada menyusahkan di sini”. Ucapan tersebut keluar dari ayah Kiki. Tentu ucapan tersebut di luar ekspetasi. Seorang ayah yang tega secara tidak langsung membuang anaknya.

“Ayahnya sudah tidak mau Kiki sekolah. Katanya, biar saja bekerja di kebun. Toh, Kiki bodoh” ucap Tsasa sambil meremas seragam sekolah yang ia bawa.

“Sepertinya kita tidak bisa mengusahakan lebih dari ini, karena Kiki tetap di bawah orang tuanya” ucap Iko.

“Ini bukan ranah kita. Kita sudah mencoba, tapi ayahnya tetap keras kepala. Kita takut jika berbuat lebih justru membuat Kiki terluka atau kita yang terluka.” ucap Tsasa.

Aku merasa sesak. Bagaimana mungkin seorang anak mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang tuanya sendiri? Anak wajib mendapatkan haknya. Anak wajib memperoleh pendidikan dan hidup yang layak. Paling penting, anak tidak memiliki pilihan untuk dilahirkan di bumi atau tidak.

****

Aku merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang. Aku juga memastikan rumah yang ditinggali panitia sudah bersih. Sangat berat akan meninggalkan Pagar Dalam. Dua puluh lima hari memang waktu yang singkat.

Aku melihat anak-anak berangkat sekolah. Mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbelok ke arah rumah.

Aku memutuskan keluar rumah untuk menemui anak-anak itu. Mereka terdiam melihatku. Aku tahu, mereka sama sedihnya denganku.

“Hai, nanti terlambat kalau tidak segera berangkat,” ucapku.

“Bu Tasya, nanti ke sini lagi ‘kan?” tanya Roni.

Aku terdiam. Ini pertanyaan yang sulit. Aku takut membuat janji yang bahkan ragu untuk bisa kutepati. “Doakan Ibu dan Bapak semua bisa ke sini lagi ya!”

Tiba-tiba aku melihat Kiki berlari ke arahku.

“Bu Tasya, ini gelang untuk Ibu.” Kiki menyodorkan gelang berwarna merah muda kepadaku. Gelang itu terbuat dari kain dan bertuliskan “Kiki sayang Bu Tasya”.

“Bagus gelangnya Kiki. Ibu dan Bapak yang lain dapat juga kah?” suaraku tercekat menahan tangis.

“Iya, Bu. Bapak dan Ibu yang lain masih di dalam?”

“Iya. Ayo, masuk dulu aja semua!” aku akhirnya mempersilakan anak-anak masuk untuk menemui teman-temanku.

Aku menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir. Pagar Dalam memberikanku banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga. Aku bersyukur dipertemukan dengan anak-anak dan semua masyarakat di sini. Pagar Dalam membuka mataku untuk melihat lebih jauh bagaimana kondisi Indonesia sesungguhnya. Aku menghadapi berbagai masalah nyata yang tidak kutemui di tempat yang pernah kusinggahi sebelumnya. Melalui Pagar Dalam, aku menemukan apa itu Bhinneka Tunggal Ika. Pagar Dalam adalah rumah. Pagar Dalam adalah tempatku untuk kembali suatu saat nanti.

SELESAI

Catatan: Cerita ini dipersembahkan untuk manusia-manusia hebat Gerakan UI Mengajar Angkatan 9, Anak-Anakku di sekolah yang sekarang sudah besar, Bapak-Ibu Guru SDN 110 Krui, dan Masyarakat Pagar Dalam yang mengajarkanku makna kehidupan

Cerita terinspirasi dari Gerakan UI Mengajar Angkatan 9. Nama dan beberapa peristiwa dalam cerita merupakan imajinasi penulis

Salsabila Isha, mahasiswa Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia