Usil Berujung Nyata

0
67

“Halo semuanya. Balik lagi sama aku, Semesta, penyiar radio Malam Jumat. Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 23.59, mari kita lihat, cerita apa yang akan aku sampaikan malam ini. Nah! Aku sudah menemukan cerita yang cocok untuk malam ini. Kali ini, kita akan mendengar cerita dari Rabel, kisah ini dialaminya saat duduk di bangku SMP, namun, kejadian ini bukan dari dirinya sendiri, melainkan sahabatnya, Mira. Rabel dan Mira bersekolah di SMP Z.

Sekolah ini adalah sekolah khusus perempuan. Kedua sahabat ini memiliki sifat yang berbeda sangat jauh. Rabel dengan sifat lemah lembutnya, ramah, dan juga murah senyum. Sedangkan Mira, ia adalah perempuan tomboi, dengan muka yang judes, hingga dengan mulutnya yang tidak tahu-menahu batasan. Jangan berlama-lama lagi, bagi para pendengar yang setia, siapkan telinga, hati, pikiran, dan jangan lupa untuk melihat sekitarmu, kemungkinan… akan ada yang menemani kalian.”

***

Kring… Kring… Bunyi bel yang menandakan waktu istirahat telah tiba. “Eh Mir, nanti kan kita ada acara penyeleksian anggota OSIS, di vila yang ada di deket hutan AZ, kamu tolong jangan bicara yang aneh-aneh ya! Jaga omonganmu disana nanti, aku cuman khawatir sama kamu, oke?” ujar Rabel. “Aduh Bel! Mulutmu bisa disandingi sama bunyi bel sekolah loh, nyaring banget. Lagipula santai aja kali! Mana ada hantu-hantu gituan! Mitos aja tau, masa juara 1 seangkatan percaya sama yang gituan. Udah yuk ke kantin aja.” Balas Mira.

Rabel yang sudah menduga respon Mira akan seperti itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga berharap bahwa Mira akan mengikuti sarannya itu. Namun, semua itu sia-sia, karena bagi Mira, hantu dan semacamnya adalah mitos yang tidak akan pernah nyata, dan karena dari semenjak kecil ia tidak pernah dilarang, maka sifat liarnya itu semakin lama, semakin berkembang.

Hari Selasa telah datang. Pagi yang sejuk menjadi saksi ketika aku, Mira dan calon anggota OSIS lainnya berdiri di lapangan basket, agar para guru dapat mengabsen kami dengan cepat. Dalam perjalanan dari sekolah menuju vila, aku sudah memiliki firasat buruk dengan perlakuan Mira saat di vila nanti.

Khawatir jika ia tidak bersikap baik, apalagi lokasi vila ini berdekatan dengan hutan, yang kata orang tidak boleh mengucapkan maupun melakukan hal yang aneh-aneh dan juga tidak baik. “Mir, inget ya kata gue, janga-” Ucapan Rabel terputus dengan balasan “Aduh Bel! Cerewet banget sih, udah diem aja aku mau main dulu!” dari Mira.

Banyak kegiatan sudah kami lalui, mulai dari melatih bekerjasama, kekompakkan, hingga kuis-kuis yang sangat menyenangkan. Namun, seperti biasa, Mira tetap bersikap tidak sopan dan mengatakan hal-hal yang tidak baik untuk diucapkan. Kami sudah lelah untuk menegurnya, bahkan guru-guru pun sudah dalam tahap menyerah untuk menghadapi muridnya, Mira.

ia merasakan ada sebuah tangan kasar yang memegang kakinya

Malampun tiba. Kami berada di halaman belakang vila tersebut, berkumpul membentuk lingkaran, guna melakukan evaluasi. Namun, tiba-tiba… “Eh Bel, kamu tahu enggak? Hutan ini katanya ada hantu berkuku panjang loh, dia itu seorang pelajar yang habis dibunuh sama beberapa pelajar lainnya, katanya gara-gara sok pinter di depan guru loh! Haha, hati-hati, kamu kan pinter. Terus katanya ada kawat  yang menembus kepalanya, terus juga banyak luka di sekujur tubuhnya. Dan dia suka muncul di kolong kasur, terus nanti dia megang kaki kamu. Dan door! haha..”.

Itulah pesan dari Mira yang dikirimkan kepada Rabel dengan ponsel pintarnya. “Apaan sih Mir, hati-hati, kamu malah ngomongin gituan, nanti kamu yang didatengin, oh iya sebelum tidur cek kolong kasurmu ya haha…” kata Rabel membalas.

Kegiatan evaluasi berjalan dengan lancar hingga berakhir pada pukul 11 malam. Semua anggota OSIS balik ke kamarnya masing-masing. Sayangnya aku dan Mira tidak sekamar, maka, karena aku ingin membalas perbuatannya, aku berkata kepadanya “Mir, jangan lupa cek kolong kasur ya! Selamat malam!” Setelah itu aku langsung menutup pintu kamarku dan langsung tidur bersama rekan sekamar ku yang lainnya.

Mira yang hanya memiliki satu rekan sekamarnya berusaha acuh tak acuh terhadap cerita rekayasa yang ia buat. Mira berusaha untuk tidur, namun tetap saja tidak bisa, walaupun ia sudah memejamkan matanya pun, karena imajinasinya yang kuat. Ia terus membayangkan rupa dari makhluk yang ia ceritakan tadi. “Duh, kok jadi kepikiran ya? Besok harus bangun pagi lagi, masih banyak kegiatan, minum dulu kali ya?”.

Mira bangkit dari kasurnya dan beranjak ke meja dekat pintu untuk mengambil minum, namun karena ketakutannya, ia menyalakan lampu terlebih dahulu, lalu minum, dan mematikan kembali lampu tersebut. Saat ia ingin naik ke kasurnya, ia merasakan ada sebuah tangan kasar yang memegang kakinya. Sontak ia langsung menaikan kakinya dengan paksa.

Ia memaksa tidur dirinya. Namun di tengah tidur nyenyaknya ia merasakan ada yang menindihnya dan memaksa untuk mengambil selimut yang ia pakai. Saat membuka matanya, ia melihat sosok dengan mulut yang terbuka lebar hingga pipi, kawat yang tersangkut di kepala, tak lupa badan sosok tersebut yang dipenuhi luka.

Dengan kekuatan yang tersisa, Mira berteriak sangat kencang hingga kami semua dapat mendengarnya. Namun setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi pada Mira, lalu saat kita sampai ke dalam kamarnya, Mira sudah pingsan dengan kasurnya yang terdapat goresan-goresan, dan yang paling menakutkan, di jendela tertuliskan “KAMU GIMANA?”.

Setelah itu Mira dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan tubuh yang penuh luka. Dan selepas ia pulih dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Mira berubah total, ia menjadi anak yang memiliki trauma, ketakutan, bahkan ia sekarang menjadi pendiam dan tidak banyak bicara.

Berhati-hatilah dalam mengucapkan suatu hal. Karena, ingat, omongan adalah doa. Jika kalian berbicara yang tidak pantas atau berbicara buruk, siapa tahu, omongan tersebut malah balik ke dirimu sendiri. Jagalah ucapanmu, sebelum “mereka” benar-benar nyata.