Di Kala Hujan Sore Itu

0
91

Hujan mengguyur di sore hari, aroma petrichor menabur bumi turun menapaki. Menjelajah permukaan pijakan yang terdengar semakin bergemuruh besar akibat benturan dengan atap loteng tempat berteduh. Tetes hujan berjatuhan hikmat, sumber air kehidupan manusia. Meskipun begitu, seringkali dicaci maki karena hadir tak tepat pada waktunya. Namun, bagi seorang Rania, hujan ialah teman setia yang tak pernah berdusta.

“Belum pulang, Ran?” tanya seseorang di samping kanan Rania, membuat tubuhnya tersentak kaget menoleh. Pandangan mereka bertemu, lalu terjeda beberapa detik.

“Belum, At. Mungkin sebentar lagi tunggu hujan reda. Kamu sendiri nggak pulang?” imbuh Rania balik dengan nada bicara sebiasa mungkin layaknya seorang teman pada umumnya.

“Oh gitu, aku juga lagi tunggu hujan reda,” kata Atha.

Dia adalah sosok bernama Atha, manusia kelahiran bulan Desember. Laki-laki friendly dan senyum manis yang membuat nafas Rania kerap kali memburu, jika berkaitan segala hal tentang Atha. Mimpi indah yang selalu didambakan, dirasakan, dan diinginkan.

<Flashback on>

Mata pelajaran fisika membuat bulu kuduk seorang Rania berdiri. Ketakutan belum mengerjakan PR membuat dirinya memutuskan izin ke toilet. Lantas, belum sempat sampai di toilet, ia memutar arah berjalan menuju ruang perpustakaan sekolah.

“Akhirnya terbebas dari dunia rumus-rumus,” ujar Rania kepada diri sendiri. Perasaan senang menyelimuti seolah beban yang sedari tadi menghantui hilang. Entah, bagaimana kelanjutannya nanti, ia belum mau memikirkan.

Dengan kesenangan luar biasa dan tersenyum rekah, ia memperhatikan tiap tata letak buku yang berjejer di rak-rak penyimpanan. Namun, tak sengaja melihat seseorang sedang serius membaca di sudut ruangan perpustakaan.

“Pilih yang ini deh,”.

Setelah memutuskan akan membaca buku apa, Rania duduk tepat di depan seseorang yang tengah bergelut dengan bacaannya. Rania pun membuka buku yang tadi ia ambil di rak penyimpanan dan mulai membaca.

Tiba-tiba terdengar,

“Kisahnya mengesankan, agak dramatis sedikit cuma masih recommended-lah,” ujar seseorang yang kini menatap Rania sambil tersenyum ramah.

Rania, malah diam ketika melihat sang lawan bicara.

“Senyumnya manis banget,” batin Rania.

“Btw, aku Atha. Rania kan?”

Atha menjulurkan tangan kanannya kepada Rania. Kemudian, Rania pun membalas dengan uluran tangan Atha.

“Lho kok bisa tahu?” tanya Rania bingung.

“Se-angkatan masa nggak tahu.”

“Aku nggak tahu kamu.”

“Makanya, jangan di kelas mulu Rania,” ucap Atha penuh penekanan tiap katanya sambil diiringi kekehan kecil.

Rania menghembuskan nafasnya panjang, perkataan itu menyergap dalam benaknya. Benar juga kata Atha.

“Kamu kenapa di sini, bolos?”

Pertanyaan Atha membuat Rania membeku. Ia mencoba berpikir alasan lain, namun tak ditemukan.

“Iya,” mesti terdengar pelan, Atha masih mampu mendengar dan tertawa ringan.

Begitulah pertemuan awal mula Rania dan Atha.

<Flashback off>

“Ran..Ran..Raniaa,” suara Atha membuat Rania tersadar dari lamunan.

“Ehh..iya ada apa, At?” ujar Rania kikuk.

“Kamu melamun, ya?”

Meski bingung, Rania berusaha keras untuk mengontrol fokus dan debaran di jatungnya.

“Hmm..nggak,” dalih Rania.

“Kok aku tanya diam saja.”

“Ohh hehe,” kekeh Rania.

Kemudian, Atha melangkah untuk memeriksa hujan dengan mengulurkan tangan.

“Kamu mau pulang sekarang?”

Rania ikut maju dan turut mengulurkan tangan ke arah rintikan hujan sembari menatap langit.

“Iya At, sudah berhenti hujannya.”

“Ayo bareng saja,” ajak Atha.

“Tumpangan gratis sih, tapi dibayar pakai mental,” pikir Rania.

“Ihh ga usah repot-repot, aku mau pesan ojek online,” ujar Rania akhirnya.

“Ga papa sekalian, Ran”

Rania pun berkata “Boleh, At.”

Semesta selalu punya cerita, seperti kisah singkat hujan sore itu. Hujan akan jadi pengingat baik dalam memori Rania, Atha yang membungkus warna pelangi hadir. Setidaknya, Rania pernah merasakan momen untuk berada di dekat Atha, memang bukan lebih dari teman. Tetapi, itulah sebuah kenangan, tak selalu harus seperti keinginan.