Lenyap

0
125

Hari ini hujan tak henti-hentinya mengguyur. Air memercik riang ke arahku, ku putuskan untuk sedikit menggeser tubuhku lebih masuk ke dalam warung. Suara para orang tua yang sedang berbincang di sebelahku seakan berlomba dengan gaduhnya atap seng yang dihujam rintik hujan dengan derasnya, teramat deras bagaikan tiada lagi yang lebih deras.

Sesekali ku tengok bangku di sebelah kananku, sepasang kekasih duduk berhimpitan saling bercerita penuh canda. Tak dihiraukannya orang-orang yang ada disekitar mereka. Senyum tersungging dari wajahku, bukan karena melihat mesranya pasangan tersebut, melainkan saat kunikmati kopi hitam pahit pesananku yang memang benar-benar pahit, “Ah, Mak lupa nambahin gula lagi ini.”

Di Sabtu sore yang tak biasanya sesendu ini, ku putuskan untuk “ziarah” ke warung kopi langgananku, Mak Kah panggilan akrab ibu pemilik warung ini, janda beranak lima yang baru dua bulan lalu ditinggal mati suaminya, seorang yang juga sudah kuanggap sebagai ibu keduaku. Hujan yang tak kunjung reda memaksaku untuk menghabiskan waktu sore cukup lama di tempat ini.

Terhitung sejam lebih aku berada di situ. Dari sebelum begitu ramai pelanggan Mak Kah karena hujan belum turun tadi, hingga begitu penuhnya warung yang tak begitu luas ini oleh mereka yang mungkin mencari tempat berteduh sambil menghangatkan tubuh, memesan kopi atau teh panas sebagai penawar hawa dingin. Kutengok ke arah luar, tiba-tiba ku teringat, bodohnya aku.

“Mak minta kreseknya,”. Ku ambil kantong plastik hitam di bawah meja sambil berteriak

“Iyaa,” jawabnya.

Ku hela nafas sejenak, terngiang pikiran mau kemana aku setelah ini

Aku lupa menutup karbu motorku yang telanjang, kuatir motor tua warisan kakekku itu ngambek lagi. Sesegera mungkin aku menghampirinya, yang masih saja berdiri dengan gagah tak perduli hujan membasahi. Tak kuhiraukan hujan yang terlanjur deras, langsung saja kututup bagian yang rawan kemasukan air dengan kantong plastik yang kuminta dari Mak Kah tadi.

Motor tua keluaran honda inilah yang senantiasa menemaniku kemanapun aku pergi. Tak terhitung sudah berapa kali motor itu mogok. Susah memang, tapi bagian itulah yang menurutku sebuah keasyikan tersendiri memiliki motor yang terkesan antik tersebut.

Setelah selesai, kembali lagi aku masuk ke warung, ku lepas jaketku. Ku hela nafas sejenak, terngiang pikiran mau kemana aku setelah ini. Ah tidak, lebih tepatnya mau kemana lagi. Sudah dua minggu lebih ku mencari keberadaan seseorang yang begitu berpengaruh kepadaku, yang “hilang” entah kemana.

Risha namanya. Seorang gadis yang berhasil membuat hatiku tumbuh rasa untuk pertama kalinya. Yang memaksaku merasakan bagaimana cinta itu bekerja, sejak aku masih duduk di bangku SMP bahkan hingga saat ini aku menjadi seorang mahasiswa. Harus kemana lagi aku mencarimu.

Telah ku tanyakan kepada kakakmu, yang menjadi satu-satunya saudaramu, tetapi jawaban nihil dan rasa kuatir tentang keadaanmu yang ku terima. Kuputuskan ‘tuk bertanya pada semua teman dekatmu, tetapi lagi-lagi jawaban sama kudapatkan, “Aku tak tahu dimana Risha. Aku juga kuatir tentangnya.”

Risha, andai orangtuamu masih ada, pasti mereka tahu dimana kau sekarang berada. Tanpa sadar air mata membasahi pipiku. Tak tahu mengapa aku begitu cengeng. Bukan karena rasa lelah yang sangat kurasakan, melainkan pikiranku tentang apa jadinya aku bila kau tak lagi ada menemaniku. Walau tubuh ini meronta memaksaku untuk berhenti untuk mencarimu, tapi hatiku teguh melawan, menuntut agar bisa menemukanmu.

Bermacam pertanyaan berputar di kepalaku, mengapa kau menghilang? Kemana kau pergi? Apa tujuanmu sebenarnya pergi meninggalkanku tanpa permisi, tanpa satupun kata pamit terucap.

Adzan magrib mulai terdengar, hujan pun reda seperti mempersilahkan lantunan suci dikumandangkan. Ku beranjak dari tempat duduk. Ku seka airmataku sambil berjalan ke arah Mak Kah. “Belum ketemu?,”. Ku jawab pertanyaannya dengan gelengan kepala. Ku berikan lembaran dua ribuan padanya, “Sabar ya nak, pasti kau bisa temukan dia,” ucapnya kepadaku.

Terucap istighfar dari bibirku, ku pacu motor melawan dinginnya hawa kota ini. Sengaja kuberkendara perlahan, agar aku bisa menikmati rasa yang begitu sesak di dada. Ku berbelok kearah masjid di samping alun-alun kota. Tulisan masjid agung An-Nur terpampang penuh cahaya.

Tanpa menunggu lama langsung ku menuju tempat wudhu lalu segera ku laksanakan sholat magrib berjamaah yang baru saja dimulai. Begitu ku nikmati setiap gerakan sholat kala itu, seakan kuleburkan juga segala keluh kesah tentangmu yang entah ada dimana, ku mohonkan kepada Sang Pencipta agar kau selalu diberi perlindungan kapanpun dan di manapun berada.

“Dan untukmu, jika kau rasa pilihanmu sudah tepat, lanjutkanlah. Jangan biarkan rasa bimbang menghalangimu,” tambahnya.

Ku ambil hp dari tasku. Sudah jam enam lebih. Ku raih Alquran di sebelah lalu membacanya. Setengah jam berlalu, ku akhiri bacaanku sambil berdoa pada Ilahi, “Bila memang dia benar jodohku, pertemukan lagi aku dengannya, Engkau tahu mana yang terbaik untuk kami berdua.”

Area masjid mulai ramai oleh mereka yang akan melaksanakan sholat isya’.  Anak-anak berlarian dengan riangnya di halaman. Malam yang cerah memang, sekedar untuk berkumpul bersama keluarga menikmati libur di akhir pekan. Menghilangkan penat setelah seminggu penuh beraktifitas, entah yang sedang bersekolah atau juga yang bekerja.

Setelah jamaah isya’ tuntas, ku beranikan diri untuk menghampiri seorang lelaki tua yang tadi menjadi imam sholat.  Ku salami dia. ”Ada apa anakku?, ”.  Senyum mencuat dari wajah tuanya. Tanyanya seolah-olah tahu akan keadaanku saat ini. Tanpa malu ku ceritakan panjang lebar kisahku selama ini, dengan tujuan meminta nasehat padanya tentang hilangnya seseorang yang ku cinta.

Lelaki bersorban coklat dihadapanku mendengarkan dengan seksama, lalu tersenyum saat aku selesai berbicara. Setelah itu, hal yang mengejutkan ku ketahui darinya. Ia menceritakan kehidupannya terlebih dahulu sebelum menanggapi permasalahanku. Lelaki itu bernama pak Arif, sudah 15 tahun lebih hidup sendiri. Bukan karena belum menikah melainkan karena istrinya sudah terlebih dahulu meninggalkannya menemui Sang Ilahi.

“Pasti kau heran mengapa aku tak mencari istri lagi, bukannya aku tak mau, aku sama sekali belum bisa. Rasanya Tuhan hanya menciptakan dia seorang. Dan menurutku tak ada lagi yang bisa seperti istriku,”. Matanya mulai berair. Lelaki yang malang, dia menikah di usia yang cukup tua menurutku, 35 tahun. Baru seminggu hidup bersama sang istri, kabar buruk datang menghampiri. Istrinya mengidap penyakit yang serius, yang hanya memungkinkan dirinya untuk hidup tidak lebih dari sebulan. Pak Arif bercerita sambil sesekali menyeka kedua matanya yang sedikit basah,

”Apa kau tahu anakku. Tak ada sedikitpun rasa sesal menghampiri saat kupilih dia sebagai teman hidupku, walau ku tahu usianya tak akan lama. Telah ku rasakan betapa tulusnya dia mencintaiku, menerimaku dengan segala bentuk kekurangan yang ada padaku,” pungkasnya dengan berlinang air mata. Lalu dia menatapku serius, “Dan untukmu, jika kau rasa pilihanmu sudah tepat, lanjutkanlah. Jangan biarkan rasa bimbang menghalangimu,” tambahnya.

Malam dingin khas kota ini mulai terasa. Suara seorang pemuda melantunkan ayat suci dari pojok masjid terdengar lantang, mengiringi kami berdua bertukar cerita. Dengan sedikit sisa senyuman di wajahnya, pak Arif berkata padaku, ”Anakku, teruslah kau cari kekasihmu itu. Jika kau yakin bahwa Rishamu masih hidup sampai kini, tunjukkan pada Allah keseriusanmu dalam mencarinya. Yakinkan Dia bahwa pilihanmu hanya pada perempuan itu. Jika Allah berkenan, pasti pertemuan akan segera kau dapatkan,”.

ku rasakan kata-kata itu seperti terucap dari bapakku sendiri. Lagi-lagi aku menangis, keras sekali saat itu.  Ditepuknya pundakku sambil mencoba menenangkanku. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya. Hampir satu jam lebih kuhabiskan waktuku di masjid dengan seseorang yang begitu hebat dimataku.

Tak mau lagi aku bertanya lebih jauh tentang istrinya. Aku takut membuatnya kembali bersedih. Darinya aku belajar untuk tak patah harapan dan darinya pula semangatku untuk terus mencari Risha semakin menggelora. Setelah kurasa cukup, aku pamit undur diri seraya berterimakasih pada pak Arif yang telah memantapkan niatku. Kuminta nomor teleponnya, berharap diberi kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.

Rasa lapar mulai mengingatkan, sedari pagi aku belum makan sama sekali.  Ku nyalakan motorku, tetapi segera kumatikan lagi karena melihat warung makan di seberang jalan tepat di depan masjid. Tiba-tiba saja kuteringat ucapan Risha, waktu dia baru saja menyelesaikan kuliahnya lebih dulu dariku, masih begitu hangat di ingatan, “Mas, jangan dulu kau pikirkan tentangku, selesaikan kuliahmu. Entah seberapa lama pun engkau, aku tak akan lelah menunggumu datang ke rumah sambil kau minta izin pada keluarga untuk meminangku,”. Suara yang begitu ku rindukan saat ini.

Ingin rasanya aku pulang ke rumah, akan kupeluk ibuku dan menangis sepuas hati. Ku adukan padanya segala keluh kesahku. Ingin sekali kudengar kata-kata ibu tentangmu yang seakan-akan dia sangat bahagia dengan pilihan putranya.

Sesampainya di warung, aku memesan makan malam. Terlintas dalam benakku, betapa beruntungnya diriku ini dengan adanya Risha, walaupun aku tak tahu dimana dia saat ini. Setelah bapakku tiada, aku seperti kehilangan nyawa, seakan tak sanggup lagi menatap cerahnya dunia karna seorang yang menjadi panutan sekaligus penafkah hidup di keluargaku telah tiada.

Saat itu Risha datang ke rumah. Didekatinya diriku sambil terus menghiburku, memberitahuku bahwa hidupku masih panjang, masih ada keluarga yang sekarang menjadi tanggung jawabku. Dia berjanji akan selalu menemani, takkan pernah meninggalkanku sendiri.

Hingga saat ini tak tahu lagi diriku akan keberadaanmu. Setelah berakhir acara wisuda, tiga hari kemudian tiba-tiba tak kudengar kabarmu. Teleponku tak pernah terangkat, berkali-kali pesan yang kukirimkan tak pernah terbalas, ku putuskan untuk mendatangi kosmu tapi kau telah tiada. Ku tanyakan pada teman kosmu tapi tak ada yang tahu menahu tentangmu. Kabar yang sama ku terima dari kakakmu saat ku bertanya padanya. Sejak saat itu ku putuskan untuk mencarimu.  Kemanapun itu, walau aku tak tahu pasti di manakah engkau.

Hari ini, bersama gelapnya malam dengan bulan yang menemani, ku sematkan doa pada Ilahi, tentang seorang kekasih yang telah pergi tanpa tahu apakah akan kembali. Satu hal yang bisa kupastikan, tak akan pernah hilang tekadku untuk temukan dirimu.

Bila engkau masih hidup, kekasihku, sedangkan tubuhku sudah tak mau lagi untuk ku ajak berlari, bahkan tak sanggup merangkak untuk mencarimu, akan tetap kupaksa tubuhku menuruti kata hatiku. Atau bahkan bila Tuhan telah memanggilmu, ku berharap akan ada temu di akhirat kelak,  karena ku yakin Dia menciptakanmu hanyalah untukku semata.

Akhlis Aufalana, mahasiswa Sastra Arab Universitas Islam Negeri Malang