Revolusi Negeri Yang Terkhianati Korupsi 1

0
64

Aku adalah Pram. Seorang yang tidak tahu mengapa akan menjelajah bangsa ini. Ketika kemarin, negeri ini heboh soal korupsi, aku melihat dengan teliti. Nampaknya, mereka lupa akan revolusi yang terjadi pernah terjadi. Demi bangsa ini, pendahulunya berjuang hingga mati. Namun, kenapa generasi selanjutnya malah menghianati. Ku tulis cerita soal revolusi agar mereka sadar demi bangsa ini berapa juta orang harus meregang diri!.

“Negeri Diperjuangkan Revolusi, Dihancurkan Korupsi”

Suatu sore ditepi danau bekas pertempuran, ku duduk sambil makan ubi dan ku teguk air kelapa. Di sana kulihat banyak tenaga medis yang menolong para kawanku dan musuhku. Begitu berat rasanya melihat para kawanku yang terluka. Hingga akhirnya aku merasa harus menulis sesuatu. Kemudian aku meminta kertas dan pena di tenda perlengkapan. Setelah itu, aku pun mulai menulisnya.

Kusuma Bangsa.

Sebuah baju kusut bertenteng peluru.

Membawa senjata dan granat di tangannya.

Kulihat mereka bersemangat.

Sambi berteriak ketakutakan dalam hati mereka.

Di mulut mereka berdendang, “Merdeka”.

Di dalam hati mereka bertanya.

Apakah ada hari esok untuk kita.

Nampaknya pertempuran melupakan pikiran itu.

Hingga akhirnya semua menjadi kusuma bangsa.

Ku lihat banyak tenaga medis yang berteriak histeris. Melihat luka yang ada begitu parahnya, terkadang mereka pun pingsan melihatnya. Tangan berdarah hingga kaki yang terputus, sungguh menakutkan pada saat itu. Mereka berfikir tentang orang yang mereka tolong harus menanggung beban sebegitu beratnya.

Saat itu aku menjenguk kawanku, Kijo di ruang medis. Dia masih beruntung karena peluru yang masuk dikaki dan bahunya masih bisa diambil. Walaupun untuk sementara ia menjadi pincang dan memakai penyangga. Aku melihat temanku yang bekerja disana, Inayna namanya.

Inayna adalah seorang putri bangsawan yang mengabdi pada perjuangan. Ia bertekad untuk menolong para korban perang. Saking mulianya dia sebagai bangawan, banyak pejabat yang menaksirnya. Sebenarnya aku pun juga menaruh rasa padanya.

Aku bertanya kepadanya soal perasaanya sebagai tenaga medis.

“Ina, bagaimana perasaanmu saat menolong para kawanku lainnya?.”

“Perasaanku sulit dijelaskan saat ini, Pram, bisa bantu menuliskan sesuatu untuk menjelaskannya?,“ jawab Ina sambil sedikit meneteskan air mata.

Lalu aku membantu Ina untuk menulis. Merangkai kata demi kata untuk menyuarakan hati Ina dan para kawannya. Sebuah prosa puisi yang indah, sedih, dan bermakna.

Segeralah Usai .

Kenapa ini harus terlaksana.

Pertempuran yang memakan perasaan.

Banyak orang kehilangan jiwanya.

Jiwanya sendiri ataupun keluarganya.

 

Aku melihat darah dan luka.

Dari mereka yang berjuang sepenuh raga.

Tak sampai hati melihatnya.

Melihat para pejuang menangis dan tak berdaya.

 

Para tim medis

berkeliling sambil tersedu.

Menangis sambil mengangkat dengan tandu.

Kapan ini semua akan berlalu.

Sebuah pertempuran yang menyentuh kalbu.

Setelah ku selesai bertemu dengan Inayna, aku berkeliling ke masyarakat. Melihat bagaimana kondisi mereka dan membantunya. Pihak rakyat akan selalu dirugikan jika terjadi sebuah perang. Aku memahami itu dan mencoba memahami mereka. Bertanya dari hati ke hati kepada mereka.

Aku bertemu pimpinan kelompok masyarakat itu. Aku berbincang dan disambut dengan ramah. Bapak itu bernama Kasno, tetua desa yang aku kunjungi. Aku pun mengajaknya berbincang.

“Bapak, bagaimana kondisi masyarakat saat setelah terjadi penyerangan oleh Kolonel Van Oranje?,” tanyaku kepadanya.

“Sedikit susah tapi harus tetap bersyukur mas, kondisi sedang revolusi kemerdekaan kita sebagai masyarakat harus siap menghadapinya.” Pak Kasno menjawab dengan tenang dan berwibawa.

“Apa saja dampak negatif yang ditimbulkan, serta bantuan yang diperlukan dari markas untuk desa ini Pak?”

“Banyak lahan pertanian hancur akibat penyerangan ini, ternak yang ada pun tak luput dari tembakan. Pakaian dan rumah pun terkena penghancuran,” Pak Kasno menjawabnya.

Mendengar beliau berkata, perasanku campur aduk didalamnya. Perang memang menimbulkan dampak besar bagi rakyat. Tak berselang lama, aku pamit untuk kembali ke markas besar dan meminta bantuan. Pak Kasno berterimakasih karena aku telah mengunjungi desanya.

Setelah sampai di markas, aku lekas menemui Mayor Ponwage. Disana aku melaporkan apa yang terjadi. Mayor Ponwage kemudian memerintahkan pasukan zeni untuk datang ke desa Pak Kasno. Aku mengucapkan terimakasih kepada Mayor, setelah itu aku kembali ke barak.

Sesampainya aku di barak, kuambil buku catatanku. Aku mulai menulis mengenai penderitaan rakyat selama perang. Hatiku yang mudah rapuh ini menulis sambil berkaca-kaca. Akhirnya sebuah sajak pun terlahir

Rakyat Sang Kusuma Bangsa

Aku hanyalah rakyat pertiwi

Di zaman revolusi negeri

Berjuang demi bangsa ibu pertiwi

Tempat kami menambatkan hati

 

Maju ikut maju

Mundur ikut diburu

Tertinggal jika tak mampu

Tersiksa jika terkena buru

 

Kami sepenuh hati untuk ini

Mengikuti jalan revolusi

Demi satu jiwa satu hati

Agar merdeka menjadi hal pasti.

Fajar Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta