Kampus Mengajar Perintis, Memberdayakan Guru dan Siswa di Tengah Pandemi

0
322

Halo teman teman semua, Perkenalkan Nama saya Eka putri melania, saya adalah mahasiswa jurusan pendidikan matematika semester tujuh yang mengikuti program Kementerian Pendidikan dan kebudayaan, Kampus Mengajar Perintis (KMP) Universitas Singaperbangsa Karawang. Tidak terasa sebentar lagi program ini akan segera berakhir. Sudah 10 minggu kami mengabdi dengan cara mengajar sekolah dasar di daerah Karawang, Jawa Barat. Motivasi saya mengikuti program ini kenalilah dirimu, keluar dari zona nyamanmu, raihlah mimpimu dan kau harus semangat menjalani hidup.

Banyak kisah seru dan menarik yang akan saya bagikan kepada teman- teman semua,  khususnya pengalaman yang saya rasakan ketika menjadi guru di Sekolah dasar Negeri Sukaharja 3 Karawang pada masa masa pandemi Covid-19. Proses awal mengikuti program Kampus Mengajar Perintis ini, saya harus diseleksi oleh pihak kampus. Kemudian akan ada pengumuman dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemendikbud mengenaii siapa saja mahasiswa yang lolos pada proses seleksi.

Sebelum mulai mengajar, kami wajib mengikuti pembekalan mahasiswa selama tujuh hari. Kami, peseta program juga harus mengunjungi kantor dinas pendidikan, pemuda dan olahraga setempat untuk meminta izin dan konfirmasi terkait program Kampus Mengajar Perintis dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Karawang.

Konfirmasi Kegiatan Kampus mengajar perintis Kepada Dinas Pendidikan pemuda dan olahraga Karawang (12 Oktober 2020)

Ada banyak  kegiatan positif yang saya lakukan bersama teman -teman sesama peseta program di sekolah kegiatan pertama yang diawali  mengunjungi dan melakukan pembukaan di sekolah. Kami juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah, konsultasi dengan guru- guru terkait rencana  mengajar di kelas, mengamati ruang guru, ruang kelas, melihat keadaan sekitar. Saya bersama Titi Rusmiati, guru pamong saya sekaligus guru wali kelas 3A dan  Neneng, wali kelas 3B,  juga berdiskusi mengenai keadaan siswa di saat pandemi.

Menurut dua guru itu, kesulitan siswa terletak pada jaringan internet, psikologi siswa disaat pandemi sehingga minat belajar menurun serta rasa percaya diri siswa yang anjlok. Kemandirian belajar siswa tidak bisa dilakukan mengingat mereka tidak memiliki alat komunikasi dan kurangnya sosialisasi teknologi secara merata bagi orang tua, siswa dan guru. Oleh karena itu, guru berharap peran mahasiswa yang mengikuti Kampus Mengajar Perintis  bisa menjadi mengubah keadaan tersebut dan membantu guru, siswa serta orang tua dalam menghadapi kesulitan yang dialami siswa saat ini.

Kegiatan pembelajaran dan mengajar pada 10 minggu ini kami lakukan secara daring atau luring dengan cara mengadakan kunjungan  ke rumah siswa, kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas menggunakan modul dari Kemendikbud. Yang tak kalah menarik kami melakukan sosialisasi teknologi kepada para  guru SDN Sukaharja 3.

Guru sedang mencoba berkomunikasi dengan siswa menggunakan Google Meet

Kegiatan sosialisasi teknologi kepada guru- guru SDN Sukaharja 3 Karawang kami lakkan 2 November 2020 lalu Kami mengajarkan bagaimana cara menggunakan aplikasi Zoom dan Google Meet. Kepada para guru kami membagikan materi melalui PPT dan proyektor. Pengajaran tak hanya dilakukan dengan teori tetapi  dengan langsung mempraktikkan  cara menggunakan aplikasi tersebut. Saya dan teman- teman langsung mempraktikan cara penggunaan Zoom dan Google Meet kepada para guru, sampai mereka bisa menggunakan aplikasi tersebut secara mandiri.

Kami juga melakukan sosialisasi teknologi, cara membuat daftar hadir dan kuis secara daring secara langsung atau virtual. Sama seperti Zoom, kami juga mengajarkan langsung dengan praktik di depan para guru.

Guru wali kelas 2 SDN Sukaraja Karawang sedang mencoba membuat daftar hadir menggunakan Google Form dipandu oleh mahasiswa.

Para guru SDN Sukaharja 3 Karawang sangat antusias dan senang mengikuti pembekalan dan sosialisasi teknologi  yang dipandu oleh mahasiswa. Para guru kelas 5 yang saya temui menyatakan terima kasih kepada kami, mahasiswa KMP yang telah melakukan  sosialisasi teknologi. Mereka sangat terbantu sebab menjadi tahu dan termotivasi bisa membuat daftar hadir atau form online secara mandiri ketika nanti mengajar.

Mahasiswa KMP selalu menemani guru dan kepala sekolah saat ada kegiatan di sekolah di masa pandemi. Mereka dingatkan untuk selalu menerapkan 3M

Setelah itu, tanggal 19 November 2020 kami membantu menata administrasi sekolah seperti menyusun RPP, silabus dan  membantu mengoreksi tugas tugas siswa kelas III dan IV dalam seminggu. Melihat saya mengoreksi tugas siswa, orang tua siswa  bersemangat  mengantar tugas yang dibuat siswa dan bertanya mengapa saya datang kadang-kadang jam 8 lebih. Saya menjawab, perjalanan saya menuju SDN Sukaharja 3 mencapai 2 jam 15 menit karena saya menempuh perjalanan sejauh 41 kilometer dari Bekasi ke Karawang menggunakan sepeda motor.

Untuk bisa segera sampai ke sekolah, saya harus bangun pukul 4 pagi. Untuk berangkat ke sekolah yang berada di Karawang itu, benar- benar butuh perjuangan. Selama 10 minggu, hujan, macet, banjir saya lewati tetapi saya sangat antusias melihat siswa banyak bertanya, “ibu, pelajaran hari ini apa?”, dan ‘” ibu kapan kita mulai pelajarannya?”.

Kegiatan kunjungan ke rumah salah satu siswa di Karawang juga menyenangkan. Saya berterima kasih kepada orangtua yang mengizinkan saya mengajar di rumah, sebab, hal itu merupakan salah satu kegiatan yang ingin saya lakukan. Mengajar sisa secara langsung memberi  banyak manfaat, antara lain kami bisa berinteraksi dan dapat mengetahui kemampuan siswa seperti apa. Banyak siswa yang sangat gembira ketika mulai pembelajaran.

Kegiatan yang kami awali dengan berdoa itu, merupakan kegiatan berbasis aktivitas yaitu membagikan buku berpetak kepada siswa, lalu mereka harus mewarnai kotak baris pertama hingga 25 kotak. Setelah itu siswa menghitung ada berapa banyak kotak dan membentuk segitiga. Kami  menghitung segitiga yang ada pada kotak. Benar- benar seru, bukan.

Kegiatan lain yang memunculkan minat belajar siswa, kegiatan numerasi berbasis aktivitas yang saya terapkan kepada siswa kelas 3 SD yaitu mengukur kertas HVS dengan benda di sekitar yang ukurannya sama. Banyak  siswa yang antusias mengikuti kegiatan pembelajaran ini. Ada yang menggunakan koin, penghapus, pulpen, spidol, kacang, kerang, permen, kacang hijau, peniti, tusuk gigi, korek api, kancing, stik eskrim, lilin dan lain lain.

Di samping itu karena jurusanku pendidikan matematika, aku melatih literasi dan numerasi lewat cara memberikan dongeng matematika untuk siswa. Dongeng tersebut  menarik dibahas. How Big Is A Foot judul video tersebut saya buat ketika saya berada di kos di Karawang sangat seru.

Ketika saya menyampaikan materi diatas banyak siswa yang antusias terhadap matematika terutama ketika menceritakan kembali dongeng diatas dan amanah yang bisa didapat dari dongeng itu. Selain itu saya memutarkan  video film Laskar Pelangi untuk siswa SDN Sukaharja 3. Saya menyanyikan lagu “Laskar pelangi” untuk para siswa sebagai kenang- kenangan ketika kami melaksanakan penutupan masa mengajar nanti.

 

Eka Putri Melania, mahasiswi Universitas Singaperbangsa Karawang Jurusan Pendidikan Matematika