Ubah Limbah jadi Masker, Mahasiswa Undip Gandeng Industri Rumahan

0
50

Pada masa pandemi Covid-19  ini masyarakat dituntut untuk mengoptimalkan apa yang sudah ada. Selain untuk berhemat, pemanfaatan limbah juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang dalam progam kuliah kerja nyata (KKN) mengajak pemilik industri rumahan di Desa Karang Rejo Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah untuk memberikan limbah kain kepada tetangga sekitar untuk membuat alat pelindung diri (APD) yaitu masker.

Meski pandemi yang terjadi di Indonesia sudah menelan banyak korban jiwa, tetapi masih banyak warga Demak yang  tidak mematuhi protokol kesehatan seperti tidak menggunakan masker saat di luar rumah. Kawasan yang warganya belum punya kesadaran itu  salah satu diantaranya warga Desa Karang Rejo. Meskipun di desa tersebut belum terdapat warga terinfeksi virus Covid-19, namun kesadaran mereka masih minim sekali.

Keadaan itu bisa jadi karena banyak diantara warga Desa Karang Rejo yang tegolong masyarakat berpendapatan rata – rata menengah kebawah, sehingga mereka masih enggan membeli masker. Menurut warga, daripada membeli masker, lebih baik uang mereka gunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras. Karena hal itu, mahasiswa berinisiatif untuk membuat progam mengubah limbah kain industri rumahan menjadi masker tanpa mesin jahit sehingga tidak mengeluarkan anggaran yang terlalu mahal.

Pemerintah Desa mendukung penuh progam kegiatan yang beberapa waktu lalu dilakukan oleh mahasiswa Undip itu, karena bisa menjadi salah satu upaya progam pencegahan virus Covid-19. Dukungan tersebut berupa pemberian wastafel potable beserta sabun yang dapat digunakan saat mengumpulkan warga untuk pelatihan.

Dalam Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro mahasiswa biasanya diterjunkan didaerah tersebar yang ditentukan oleh P2KKN Undip, namun karena kondisi pandemi, pimpinan universitas mengubah kebijakan. Kegiatan KKN tahun 2020 dilaksanakan sesuai dengan domisili atau sesuai dengan tempat tinggal mahasiswa, dilaksanakan secara mandiri dan individu. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan harus berdasarkan kebutuhan masyarakat guna membantu pemerintah dalam upaya pencegahan penularan virus Korona.

Saya berinisiatif mengajari warga membuat masker tanpa mesin jahit, dengan kata lain manual menggunakan jarum dan benang dengan tangan. Ternyata respon dari warga cukup baik, mereka bersemangat membuatnya. Antusiasme warga tampak misalnya, dalam satu kali pelatihan selama tiga jam, mereka dapat membuat dua masker. Oleh karena respon warga bagus, nantinya kegiatan ini akan terus dijalankan secara berkelanjutan di RT yang lain.

Saya berharap setelah pelatihan ini, dan masyarakat mendapat limbah kain dari industri rumahan yang ada di desa itu, masyarakat dapat mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker yang bersih.

Robiatul Adawiyah, mahasiswa Universitas Diponegoro.