Pengalaman Wisata ke Tembok Besar China di Beijing

0
84

Saya adalah mahasiswa yang pernah kuliah di Wuxi Institute of Technoogy China di kota Wuxi provinsi Jiangsu. Letak kota Wuxi ada di sebelah barat kota Shanghai, tidak jauh sekitar 80 kilometer. Salah satu impian saya saat berada di Tiongkok adalah pergi ke Tembok Besar China di Beijing karena bangunan itu merupakan salah satu keajaiban dunia. Kebetulan beberapa waktu lalu itu ada jadwal kelas sedang kosong, jadi saya merencanakan perjalanan wisata ke Beijing selama tiga hari empat malam.

Jarak dari kota Wuxi menuju kota Beijing sekitar 1000 kilometer seperti jarak Jakarta ke Bali. Letak kota Wuxi ada di Selatan kota Beijing. Saya berangkat ke Bejing menggunakan kereta cepat dengan ongkos  260 RMB atau sekitar Rp 520.000.

Waktu tempuhnya sekitar 10-11 jam dan saya berangkat pada malam hari. Kereta yang saya gunakan cukup nyaman, kursinya empuk, jarak antar kursi juga longgar jadi kaki bisa bergerak dengan bebas. Perjalanan menjadi tidak begitu terasa lama dan jauh.

Sesampainya di pusat kota Beijing, saya langsung pergi ke hotel untuk mendaftar ke bagian resepsionis. Biaya sewa kamar 300 RMB/malam atau sekitar Rp 600.000. Saya meletakan barang dan beristirahat sejenak. Lalu Pada siang hari saya keluar untuk mencari makan dan jalan-jalan di sekitar kota Beijing.

Saya menuju ke daerah wisata yang isinya makanan semua. Jadi sepanjang jalan ada toko es krim, toko minuman, penjual makanan ringan, penjual gorengan, daging panggang, dan masih banyak lagi. Ada juga toko oleh-oleh yang menjual barang yang menarik.

Keesokan harinya, saya berangkat jam empat pagi menuju ke terminal bus di pusat kota Beijing. Lalu saya membeli tiket bus ke tembok China seharga 20 RMB atau sekitar Rp 40.000. Perjalanan memakan waktu satu jam.

Saya berangkat pagi supaya tidak ramai dan tidak terlalu panas. Di dalam bus yang memakai AC itu ada kursi juga. Di bagian tengahnya kosong untuk tempat orang berdiri, agar bisa muat lebih banyak penumpang.

Pintu masuk ke Tembok China lewat Mutianyu. Foto : arsip pribadi

Ada beberapa pintu masuk ke Tembok China,yang terkenal adalah BaDaLing (八达岭), namun disini sangat ramai wisatawan. Jadi saya pergi ke pintu satu lagi yaitu MuTianYu (慕田峪) di distrik Huairou, di jalur ini tidak terlalu ramai jadi lebih nyaman untuk mengambil foto.

Letak Tembok China  ada di bagian utara kota Beijing. Sesampainya di bawah tembok China, ada dua pilihan untuk naik ke atas. Jalan kaki atau menggunakan kereta gantung dengan ongkos 70RMB/orang atau sekitar Rp 140.000 /orang. Jalan kaki mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Selain itu, saya juga harus membayar tiket masuk seharga 50 RMB/orang atau sekitar Rp- 100.000/orang. Di bawah Tembok China, ada area wisata juga seperti toko oleh-oleh, restoran cepat saji, pedagang kaki lima, dan lain sebagainya. Jadi kita harus berjalan dulu untuk menuju ke tempat masuk kereta gantung dibawah tembok China.

Pemandangan Tembok China. Foto : arise pribadi

Di area MuTianYu (慕田峪), ada satu titik tertinggi yang menjadi tujuan wisatawan. Jika sampai diatas kita bisa dapat medali, namun harus membeli dari pedagang. Pemandangan dari atas Tembok China sangat menakjubkan, bisa melihat kota, hutan, dan tumpukan batu yang membangun tembok legendaris itu sehingga menjadi salah satu keajaiban dunia.

Saya mulai mendaki secara perlahan. Cuaca juga cukup panas. Beruntung saya membawa payung. Untuk sampai ke titik tertinggi kita harus melewat empat pos. Di setiap pos kita juga bisa beristirahat dan foto-foto. Tidak hanya wisatawan dari China, banyak juga wisatawan dari luar negeri yang datang ke sini. Jarak untuk sampai keatas mungkin sekitar dua hingga tiga kilometer.

 

Pemandangan dari titik tertinggi Tembok China dari pintu Mutianyu. Foto : arsip pribadi

Akhirnya saya berhasil sampai di pos terakhir. Di pos ini merupakan tantangan yang paling sulit karena tangga yang harus dilewati tinggi sekali. Ketika saya jalan sambil melihat ke atas rasanya tidak sampai-sampai, jadi saya jalan sambil melihat ke bawah. Mungkin ada sekitar 100-150 anak tangga di jalur itu yang tinggi setiap tangga 40-50cm, cukup curam.

Sesampainya di atas, rasa senang, Lelah, semua bercampur aduk. Karena dari atas kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Tembok China yang menjulur Panjang yang ujungnya tak terlihat, pohon-pohon hijau, dan pemandangan langit yang biru dan indah. Dari tempat saya berdiri nampak batu-batu yang tersusun rapi membentuk tembok raksasa tersebut. Pada bagian tertentu ada motif retak dan kasar, yang masih bertahan sejak tahun 200 sebelum masehi.

Salah satu toko oleh-oleh di kawasan Tembok China. Foto arsip pribadi

Sesudah puas menikmati puncak Tembok China, saya berjalan turun menuju ke tempat oleh-oleh persis di bawah tembok menggunakan kereta gantung. Selain mencari oleh-oleh saya juga sekalian mencari makan karena lapar setelah mendaki Tembok Besar China yang sangat panjang dan tinggi. Selesailah  aktivitas saya di tempat itu, lalu  saya pulang dengan bus menuju hotel untuk beristirahat.

Kevin Surya Sunian, mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta Jurusan Perhotelan.