Nasib Pelajar dan Pendidikan di Masa Pandemi

0
87

Saat ini banyak pemberitaan tentang pembelajaran dari rumah yang kurang efektif bagi para pelajar sehingga membuat saya ingin menulis pendapat saya tentang belajar dari rumah. Menurut saya pembelajaran daring atau pembelajaran menggunakan model interaktif berbasis internet  memang tidak efektif bagi pelajar terutama bagi mereka yang hidup dalam keterbatasaan. Misalnya mereka yang tinggal di pedalaman dan sulit mencari sinyal, membeli paket data internet dan mereka yang tidak mempunyai gawai canggih atau komputer.

Tujuan pendirian negara republik Indonesia tertuang secara jelas dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia empat yang berbunyi : “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum. Mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,  perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Dapat disimpulkan tujuan pendirian negara ini  adalah memberi perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan, dan kedamaian.

Seharusnya pemerintah kembali lagi menerapkan pedoman itu. Bukan membuat pekerjaan yang  jauh dari tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kesejahteraan masyarakat bukan hanya dalam bagaimana mereka bisa mencari uang, pekerjaan dan kehidupan yang layak, tetapi juga bagaimana mereka bisa belajar dengan nyaman dan mengerti tentang apa yang mereka pelajari.

Bagaimana  para pelajar bisa membuat suasana belajar yang nyaman kalau setiap hari yang kami lakukan hanya berdiam diri melihat komputer atau gawai dan mendengarkan guru menerangkan sedangkan kami juga tidak mengerti apa yang guru tersebut jelaskan karena tidak ada praktiknya.

Belajar sambil praktik adalah hal yang sangat efektif. Tetapi dengan metode daring bagaimana para pelajar bisa belajar sambil praktik? Banyak anak muda terutama mereka yang bersekolah harus mencari uang dengan cara mengamen, menjadi tukang antar air mineral, hingga berjualan keliling kampung. Contoh yang saya temukan di kawasan kelurahan Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur banyak anak-anak  melakukan kegiatan tersebut. Mungkin menurut mereka karena sekolah masih belum dibuka jadi mereka punya waktu banyak membantu keluarganya untuk mencari uang.

Apakah pemerintah berpikir pasar, toko, perusahaan, tempat wisata dan lain-lain bisa dibuka kembali dengan mengikuti protokol yang ada, tetapi mengapa sekolah tidak diterapkan seperti itu juga ? Lalu di mana sekolah untuk kami para pelajar yang hanya berdiam diri dirumah.

Di manakah keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia? Para pelajar pasti ingat bagaimana rasanya berdiskusi dengan teman di sekolah, atau bagaimana  bisa bermain bersama di lapangan sekolah,  bagaimana anak-anak menjadi pelajar yang baik saat di sekolah. Apakah itu hanya kenangan untuk para pelajar? Tolong buka kembali sekolah untuk penerus bangsa yang ingin menjadi pelajar  yang akan membawa nama Indonesia menjadi lebih baik.

 

Hendri Cahya Wijaya, mahasiswa Program Studi D4 Perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta.