Pahit-Manis Menjadi Ketua di Organisasi Mahasiswa

55
1573

Pelayanan di lembaga kemahasiswaan tingkat universitas dimulai dari departemen kepemimpinan –bidang 3 manajemen organisasi periode 2017/2018. Banyak cerita yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Singkat cerita, satu periode berakhir dan berlanjut pada periode berikutnya sebagai ketua umum senat mahasiswa universitas ( ketum SMU). Posisi yang hanya dirasakan oleh segelintir mahasiswa.

Dari belasan ribu mahasiswa, hanya ada dua bakal calon pada waktu itu. Pemandangan yang tidak asing setiap periode. Meskipun demikian, proses yang dilalui cukup menegangkan. Bagi saya, menyampaikan mimpi besar ketika orasi bukanlah perkara sederhana. Berusaha meyakinkan mahasiswa melalui para utusan (baca wakil mahasiswa) perlu keberanian, kejujuran, ketulusan, dan kesabaran. Sikap yang perlu dimiliki seorang leader.

Mendapat restu

Berbekal pengalaman sebagai anggota departemen atau fungsionaris pada tingkat fakultas dan universitas, keputusan yang diambil tidaklah ringan. Bahkan pengalaman menjadi pimpinan di dunia lembaga kemahasiswaan belum pernah dicicipi. Namun hal demikian tidaklah menghambat langkah saya untuk tetap maju dalam mengambil tanggung jawab.

Sebelum keputusan gila  tersebut dibuat, komunikasi telah terbangun dengan kedua orang tua. Komunikasi yang tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan restu. Meskipun salah satu dari mereka, awalnya menolak. Bukan tanpa alasan penolakan tersebut. Khawatir anaknya terlalu fokus berorganisasi kemudian mengabaikan perkuliahan adalah alasan logis. Namun, setelah melalui proses lobi, restupun mengalir.

Di mata sebagian mahasiswa, posisi ketum SMU tidaklah biasa-biasa saja. Selain eye catching, posisi tersebut sangat strategis. Salah satu tugas utamanya adalah turut menentukan dan memutuskan kebijakan maupun program kerja lembaga elit mahasiswa tingkat universitas  tersebut. Selain itu, pemilihan dan penentuan kabinet  ada di tangan seorang ketum SMU yang punya hak prerogatif. Keistimewaan lain yang dimiliki yaitu sebagai anggota senator univeritas.

Senat universitas merupakan badan normatif dalam menetapkan norma dan aturan main yang ada di lingkup universitas, dalam hal ini Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Badan itu terdiri atas rektorat, para dekan, lembaga kemahasiswaan dan posisi penting lainnya.  Ketua LK atau ketum SMU adalah mahasiswa.

Kedudukannya dengan para petinggi kampus itu sama dan sama-sama memiliki hak suara. Selain tanggung jawab atas lembaga yang dibawahinya, penerjemahan norma dan aturan main universitas menjadi tolok ukur seorang ketum SMU dalam menata pelayanan di lembaga elit mahasiswa tersebut.

Ada konsekuensi 

Memikul beban dan tanggung jawab sebagai ketum SMU tentu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Tanggung jawab sebagai mahasiswa dalam menyelesaikan studi adalah beban di satu sisi dan tugas sebagai Ketua LK di sisi lain. Belum lagi tuntutan dari orang tua untuk segera lulus semakin melengkapi beban dan ujian mental. Selama berproses, tidak mengherankan bila jiwa kepemimpinan dan mental terus diuji.

Setiap masa punya ceritanya masing-masing. Periode 2018/2019 diwarnai berbagai peluang dan tantangan. Periode di mana narasi era industri 4.0 tengah gencar didengungkan. Tentunya LK turut menyuarakan narasi tersebut ke dalam beberapa program kerja. Itu adalah peluang. Selain itu terdapat peluang lain sekaligus tantangan. Suasana tahun politik 2019 memberi “efek tegang” pada setiap sendi-sendi masyarakat. Termasuk LK. Beberapa program kerja dibatasi ruang lingkupnya. Langkah tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tantangan lain sebagai ketum SMU adalah menerima kritik dan cemoohan. Hal yang sudah jadi kawan setia mengiringi perjalanan. Sepenggal peribahasa semakin tinggi pohon maka semakin kuat angin menerpa. Tak pandang sekuat apa batang dan akarnya. Namun, satu hal yang saya yakini bahwa Tuhan menguji tidak lebih dari kemampuan manusia. Yang paling utama adalah fokus dan mengerjakan apa yang dapat dilakukan. Hasilnya akan mengikuti.

Defri Harianto Natan, Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah.