Bangun dari Khayalan

0
471

Andai saja, aku memiliki pacar seperti Davi. Tampan, tinggi, dan angkuh, but in a cute kind of way. Punya caranya sendiri untuk menunjukkan ia mencintaiku. Selalu ada untukku, menghabiskan waktu bersama, walau tak banyak kata atau kegiatan yang dilakukan. Untukku, menonton sambil berpelukan di sofa sudah merupakan malam kencan yang sempurna! Namun lagi, Davi hanyalah tokoh fiksi. Diriku ragu akan bertemunya di dunia ini..

“LUCCYYYYY!!!!!” aku segera terlonjak dari tempat dudukku. Dan menyadari Bu Anna berada persis di hadapanku setelah menggebrak mejaku. “SETIAP HARI, KERJAAN KAMU NGAYAAALLL TERUS! IBU NGOMONG APA TADI?!”

Matilah aku. Sama sekali tak ada ucapan Bu Anna yang masuk ke kupingku. “a.. anu bu, tadi.. bilang..” Duh. Bagaimana ini..

“Ngg.. Ada 4 jenis maju, Bu. Maju pertandingan, sisiran, sama penegasan.” Aku mengucapkan kembali bocoran dari Jake yang duduk di belakangku.

Aku tidak mengerti mengapa seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Sementara Bu Anna? Ia menyentil keningku lalu membuka pintu kelas. “Cuci mukamu sana di kamar mandi! Biar bangun dari dunia khayalan!”

Mau tak mau aku menurutinya. Setelah membasuh wajahku, kejadian tadi membuatku berpikir.. Aku sadar bahwa pria sempurna hanya ada di cerita-cerita fiksi. Tak bisakah aku menerima dunia sebagaimana adanya?

***

Bel berbunyi, mengakhiri pelajaran Bu Anna dan penderitaan sementara (baca: saatnya istirahat). Becca yang duduk di sebelahku langsung menyambar, “Lus, lo bisa gak sih seharii aja berhenti ngayal?!”

Wow. That hurts. “Seriously?! Kamu juga?” Aku betul-betul sedih mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Becca. Tak pernah ku sangka bahwa sahabatku sendiri lelah dengan dunia imajinasiku.

“Lucy, plis ya? Semingguu ajaa, kamu nggak baca novel atau nonton film?” Kali ini aku melihat kesungguhan dari wajahnya.

“Dan kenapa aku harus setuju?”

“Oh. Ayolah.. Udah berapa kali lo melamun selagi pelajaran? Keluarga lo juga ngoceh terus kan? There’s a lot of great things out there.. You always busy in your own world. You need to wake up!”

Aku hanya memberinya ekspresi bete andalanku.

“Okay! Let me think of something!”

Tentu saja dia berpikir keras. Aku tak mungkin mengabulkannya begitu saja.

How about this? Kalau lo berhasil, gue bakal bujuk ortu lo buat bolehin kita pergi ke Korea setelah lulus.” Dia tersenyum puas dan dengan percaya diri menaikkan alisnya kepadaku.

“Gak. Kamu bujuk dulu, kalau mereka setuju, baru aku jalanin.”

Deal!”

Oke, aku perlu memberitahumu sesuatu. Aku ingin sekali berlibur ke Korea dengan sahabatku itu. Tanpa orang tua. Namun tentu saja papa mamaku tidak mengizinkannya. Becca sendiri sebetulnya tidak begitu menginginkannya. Ia sudah pernah pergi ke sana dengan orang tuanya.

Tak perlu berhari-hari, sore itu dengan mudah orang tuaku mengizinkannya! Tentu saja Becca tidak lupa menyebutkan tantangannya itu. Sepertinya orang tuaku juga sudah jenuh denganku yang terlalu sering melayang.

***

Esoknya, aku langsung menjalankannya. Aku tidak lagi menambal telingaku dengan earphone atau melekatkan mataku terhadap layar ponsel. Kalau aku melakukan ini, aku ingin berkomitmen sepenuhnya. Tidak lama aku memperhatikan siswa lainnya keluar masuk kelas, Jack datang menghampiri mejaku dan Becca. “Hai, Becca! Hai Lucy.”

Baru kali ini aku melihat senyum manisnya. Tanpa sadar aku turut tersenyum.

Hari ini ada pelajaran olahraga. Seperti biasa, aku memilih duduk di samping lapangan. Bedanya, kali ini aku dapat melihat betapa sengitnya pertandingan basket putra dan putri. Sheila sedang mengendalikan bola saat ini, terlihat gugup dan berusaha keras mencari kawan yang bebas dari halangan lawan. Sheila akhirnya melemparkan bolanya kepada Della. Sayangnya, lemparannya meleset dan akan mengenai wajahku.

Sontak aku melindungi diri dengan mengangkat kedua tanganku. Tidak merasakan apa-apa, aku pun membuka mata dan menurunkan kedua tanganku. “Ayo, balik main!” Jack melangkah kembali dari lapangan melemparkan bola basket ke arah Billy.

Aku hanya bisa melongo. Masih terkejut dengan tindakan Jack tersebut. Seisi lapangan hanya berdiam dan bersiap bola itu mengenai wajahku, hanya dia yang berusaha menghindarinya.

Siang berganti malam, aku senang Becca membujukku melakukan hal ini. Aku menemukan kebahagiaan dari sekitarku. Melihat teman-temanku tertawa, mendengarkan kekonyolan Becca sepanjang hari, dan romantisme orang tuaku yang tak kunjung pudar.

***

Semangat baru menyambut ketika aku baru saja membuka mata pagi ini. Entah mengapa, aku senang menjalankan tantangan Becca. Seperti kemarin, Jack menyapaku dan Becca. Satu hal yang kusadari. Jack hanya menyapa kami berdua dan teman sebangkunya. Itu pun tidak dengan senyuman manisnya. Ketika ada gadis lain menyapanya, ia hanya tersenyum sekilas, itu pun terlihat terpaksa.

Ketika aku dan Becca makan di kantin, aku tanpa sadar terlalu hanyut dalam kegiatan makanku. “Hei, Becs-”

Aku hendak mengajak Becca mengobrol, tapi Becca tidak ada di hadapanku. Sejak kapan dia pergi? Sebelum kembali hanyut dalam kegiatan makanku, aku sadar pria di seberang mejaku sedang menatapku. Cepat-cepat Jack mengalihkan pandangannya dariku.

“Lagi liatin apa?” Becca tiba-tiba datang dan membuyarkan pikiranku.

“Ngg.. Gak ada apa-apa. Habis dari mana?”

“Toilet. Tadi udah bilang, lho.”

Aku memilih bungkam dan menghabiskan makananku. Tapi aku tak bisa mengubur rasa penasaranku ini. “Becca. Apakah aku gila, kalau berpikir Jack… menyukaiku?” Aku harus berhati-hati menanyakannya. Karena aku sendiri pun tahu betapa mustahilnya hal itu terjadi.

Becca hanya melotot, menatapku tidak percaya selama beberapa detik. Sejujurnya aku takut mendengar jawabannya, entah mengapa. “FINALLY!!!”

Tidak mengerti, aku mengisyaratkan tuntutan penjelasan lebih darinya.

“Jack udah suka sama lo dari kelas 10, Lucy!”

Sekarang, aku yang menatapnya tidak percaya. Bagaimana mungkin Jack bisa menyukaiku?

Well, no one knows. It’s literally a mystery.” Ups. Sepertinya pemikiranku tadi terucap bibirku.

***

Sepulang sekolah, aku mengulang kembali kata-kata Becca. Kami sudah duduk di kelas 12, artinya Jack menyimpan perasaan itu cukup lama.

Jack. Ia adalah ketua OSIS sekolah! Kalau diingat-ingat, tubuhnya tinggi dan berisi, garis rahangnya tegas, hidung mancung, dan senyumnya.. lekukan di kedua pipinya membuatku ingin melihatnya terus tersenyum. Dia itu definisi pria khayalan. Tampan, pintar, baik, belum lagi kepandaiannya bermain musik. Pantas saja banyak gadis lainnya berbisik-bisik setiap kali ia lewat.

Hahaha. Aku ini bodoh sekali. Jack sempurna saja, aku tidak sadar.

***

Lagi-lagi aku memperhatikan siswa-siswi yang keluar masuk pintu kelas. Begitu Jack masuk kelas, aku cepat-cepat menyapa lebih dulu. Ia tampak terkejut, lalu membalas sapaanku dengan senyum lebar. Selama beberapa detik, ia hanya menatapku sampai Becca berdeham.

“Oh. Hai Becca!” Ia kembali menatapku, “Lucy, kamu mau menemaniku ke toko buku sepulang sekolah nanti? Hmm.. Aku perlu memilih novel yang tepat untuk tugas Bu Anna.”

Oh my gosh! “Ya! Tentu!” Jawabku semangat.

“Oke!” Dia langsung memalingkan badannya dan duduk di belakangku.

Baru saja bel pulang sekolah berbunyi, seorang gadis muncul di depan kelas, menatap lurus Jack dengan was-was. Begitu sang guru keluar, gadis itu buru-buru menghampiri. “Kak, file presentasi untuk 17-an hilang.”

Jack memandangku sekilas. “Oke, panggil anggota inti untuk rapat. Gue segera nyusul.” Gadis itu mengangguk cepat lalu berlari ke luar. Jack kembali melihatku. “Hmm, ternyata aku ada rapat OSIS mendadak. Kamu mau menunggu? Seharusnya tidak akan memakan waktu lama.”

Aku berpikir sesaat, lalu mengangguk. Mengikutinya pergi ke arah ruang OSIS. Tanganku digenggamnya! Sesampainya, ia meminta aku duduk menunggu di bangku seberang ruangan. Meletakkan kedua tangannya di pundakku, “Kamu tunggu di sini, ya. Jangan ke mana-mana.”

Walau sebetulnya aku merasa diperlakukan seperti anak kecil, aku tersenyum juga atas tindakannya. Jack bagai Jiang Chen memperlakukan Chen Xiaoxi! Aku berteriak senang dalam hati.

Pintu ruang OSIS terbuat dari kaca, meski diberi stiker buram, aku masih bisa melihat wajah Jack yang memimpin rapat. Ia tampak begitu berkharisma, terlihat tenang menghadapi masalah itu. Sesuai janji, rapat hanya berlangsung sekitar 1 jam. Setelah semua bubar, tinggal Jack dan gadis tadi berdua di dalam.

Mereka terlihat serasi. Si gadis -yang tidak kuketahui namanya itu- berpostur tubuh bak model. Wajahnya juga cantik dan lugu. Aku bisa menebak dia pasti pandai di kelasnya. Ah iya, pasti dia adik kelas. Seacuh-acuhnya aku, tentu aku tahu teman-teman seangkatanku. Sepertinya gadis itu memberikan sesuatu untuk Jack. Ia tampak senang menerimanya. Aku jadi penasaran apa yang diberikan gadis itu.

Tak lama, mereka akhirnya keluar. “Lama ya? Yuk.” Dia mengulurkan tangannya. Aku bingung harus mengambilnya atau tidak. Sepertinya ia membaca pikiranku dan langsung menarik sendiri tanganku.

***

Di toko buku, aku tanpa sadar berbicara panjang lebar mengenai beberapa novel favoritku. Begitu tersadar, aku menemukan Jack memperhatikanku. Aku takjub. Kupikir tak ada lelaki yang punya kemampuan untuk mendengar celotehan wanita. Aku tiba-tiba teringat, “Jack, gadis tadi itu.. Siapa namanya?”

Dia langsung mengernyitkan dahi. “Vanya. Kenapa?” Dilihat dari ekspresinya, seperti tidak senang ku bawa namanya.

“Kok kelihatan bete gitu? Bukankah tadi dia memberikan sesuatu yang menyenangkanmu?”

“Aku tidak mau membicarakannya, oke?” Ia mengalihkan pandangannya pada rak buku yang berjejer di sebelah kanannya. “Makan es krim yuk? Aku sudah memutuskan novel mana yang ingin kubeli.”

Aku mengangguk mengerti.

Sesampainya di kedai es krim, Jack memesan rasa cookies and cream. Ternyata kami menyukai rasa es krim yang sama. Tanpa sadar, senyumku mengembang.

“Saya juga cookies and cream, ukuran small.”

“Dia jangan, mas.”

Spontan, aku membulatkan mataku. Apa-apaan?

“Udah malam. Aku saja yang makan.”

Aku menggelengkan kepalaku kuat. “Gak! Aku juga mau!” Aku terus berusaha membeli es krimku sendiri, tapi semua usahaku gagal. Ditambah penjaga kedai itu tak menghiraukanku sama sekali. Akhirnya aku menyerah dan mengambil tempat duduk sebelah kaca besar.

Aku menekuk mukaku, melipat tangan, dan berusaha memperhatikan suasana luar kedai. Tapi Jack duduk persis di depanku dan mengambil suapan pertama. Tanpa sadar aku sudah menatapnya dengan putus asa. Jack pun melirikku.

Tak kuduga, ia malah memberikanku sendoknya. Aku tidak akan semudah itu untuk percaya. Aku hanya diam beberapa detik hingga ia meyakinkanku. Cepat-cepat aku merebut es krim dan sendok di tangannya, memakan es krim itu sendiri.

“Heh. Kok dimakan sendiri?” Kini ganti Jack yang protes.

“Biar.” Aku sungguh menikmati es krim di tanganku. Cookies and cream, selamanya kau favoritku!

Iba melihat Jack yang memelas, aku menawarkannya sesendok es krim. Ia membuka mulutnya dan aku melayangkan sesendok ke mulutnya. Namun dengan cepat aku membalikkannya ke mulutku.

Sepertinya ia betul-betul kesal. Buktinya sekarang ia sudah berpindah ke sampingku dan secolek es krim hinggap di hidungku.

“Jack!! Kan jorok..” Tak mau kalah, aku turut mencolekkan es krim ke wajahnya. Kami pun berbalas mencolek es krim beberapa saat dan tertawa bersama.

Klik. Jack mengambil foto selfie kami berdua! Tak boleh dibiarkan! Aku meraih ponselnya, berusaha menghapus foto tersebut. Tapi apa daya, tangannya jauh lebih panjang dariku.

“Jack, hapus!! Pasti aku jelek.”

Kemudian Jack menyembunyikan ponselnya, menatapku lurus. “Nggak. Kapan lagi aku bisa lihat kamu tersenyum tanpa novel atau ponsel di hadapanmu?”

Aku tertegun. Dengan santai ia mengacak rambutku dan mengajakku pulang.

***

Baru saja tubuhku menempel pada kursi sekolah, Becca langsung menuntut cerita dariku.

“Soo??” katanya.

Aku hanya tersenyum lebar mengingat kejadian kemarin.

Becca merangkulku erat, mengancam. “Ayo ceritaa!!”

“Iyaa-iyaa.” Aku hendak membuka suara. Tapi Jack masuk dan menyapa kami.

Becca masih saja menuntut. Tapi Jack duduk persis di belakangku! Aku pun memberi isyarat pada Becca. Meski tak terima, akhirnya ia mengerti.

***

Aku sudah siap menyantap makanan di hadapanku, tapi gerakkanku terhenti setelah mendengar Becca memanggil Jack.

“Duduk bareng kita aja.” Ajak Becca. Apa dia ingin mempermalukanku?!

Jack memilih duduk di sampingku.

“Jadi kemarin kalian ngapain aja?” Aku tersedak minumanku. Spontan menendang kakinya.

Ia malah terang-terangan kesakitan dan mengomel padaku. Di sela-sela itu, Vanya datang membawa kotak bekal di tangan kanan dan jus di tangan kiri.

“Kak, aku bawain burger isi kesukaan kakak.” Untuk Jack, pastinya.

“Gue udah beli makan.” Jawab Jack datar.

“Yaahh, padahal ini aku masak sendiri loh kak.”

“Lo makan sendiri saja burgernya.”

Dengan lesu, Vanya pergi. Kasihan dia. Dengan seluruh perhatian yang ia berikan pada Jack, ia berhak mendapat lebih.

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku sedang membereskan buku-bukuku ketika Jack memanggilku. Aku hanya berdeham tanda aku mendengarnya.

“Ikut aku ke studio musik, yuk.”

Tasku sudah rapi dan aku menengok ke belakang. “Buat apa?”

Jack hanya tersenyum tipis, memutar ke depanku dan menarik lembut tanganku. “Ikut saja.” Jack mengarahkanku untuk duduk di sampingnya dengan piano di hadapan kami. “Dengerin ya? Aku mau tahu pendapatmu gimana.”

Tanpa menunggu lama-lama, jari-jarinya menyapu tuts piano tersebut dengan lincah. Aku mendengarkan lantunan indah itu dengan saksama. Bahkan ia juga bernyanyi dengan lirik yang membuatku melayang bak bulu ringan. Begitu ia selesai, aku bertepuk tangan dan memujinya.

“Kamu suka?”

Aku mengangguk semangat. “Lagunya romantis.”

“Baguslah. Karena lagu tadi itu untukmu.”

Kalau saja aku berdiri, mungkin aku terjatuh. Mohon maklum jika aku sedikit berlebihan. Tapi belum pernah aku mendapat perlakuan yang demikian. Aku sangka, hal-hal seperti ini hanya ada di cerita fiksi yang aku baca dan tonton saja.

***

Aku membenamkan wajah pada bantalku. Sungguh, aku seperti bermimpi. Tapi, ini justru kenyataan. Dan aku sebenarnya baru saja terbangun dari mimpi, yaitu khayalanku. Siapa sangka dunia nyata bisa lebih indah dari khayalan?

Hari berganti hari, aku semakin dekat dengan Jack. Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Namun, hampir selama itu juga, hadir Vanya. Vanya yang paling tahu hal-hal yang disukai Jack. Vanya yang muncul bak penyelamat, menyediakan segala yang Jack perlukan.

Vanya yang tak henti-hentinya memberi perhatian pada Jack, bagaimanapun perlakuan Jack padanya. Aku kagum pada Vanya, sekaligus cemburu. Ia menaruh semua jiwa dan raganya untuk Jack seorang. Aku cemburu pada Vanya, karena ia bisa mengenal Jack sebegitu dalam. Dia sanggup berkorban untuk Jack.

Sedangkan aku? Jack selalu berhasil memberikan kebahagiaan untukku. Tapi apa yang pernah aku lakukan untuk menyenangkannya? Aku merasa, cepat atau lambat, perasaan Vanya akan berbalas. Sebaiknya aku mundur perlahan.

Ya.. Aku harus mundur.

***

Tak butuh waktu lama hingga dugaanku terwujud. Suatu hari saat aku ingin ke kantin, aku sempat mampir ke toilet dan melewati halaman belakang sekolah. Di sana, aku melihat Vanya dan Jack tampak berada dalam pembicaraan intens. Tak lama, Vanya kemudian berjinjit, mencondongkan tubuhnya ke arah Jack. Sebelum bibir mereka bertemu, aku pergi. Takut mengetahui kejadian selanjutnya.

Aku berlari kembali masuk ke toilet. Mengurung diri pada salah satu bilik, menahan isak tangis. Kenapa aku sedih? Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, aku sudah mengantisipasinya. Tapi kenapa rasanya sakit sekali? Air mataku terus mengalir hingga bel sekolah berbunyi.

***

Kembali aku mengubur wajah dalam-dalam di balik novel-novel dan layar ponselku. Aku menghindari Jack habis-habisan. Lebih dari sebelumnya.

“Lucy. Kamu marah ya? Aku minta maaf, ya.” Ucap Jack dari belakangku.

Aku hanya diam, membaca novel.

“Lucy, tolonglah. Beritahu apa salahku. Aku pasti tidak akan mengulanginya.”

“Apaan sih lo?! Udah deh, diem aja. Gak usah ganggu Lucy lagi.” Becca dengan sewot mengempiskan tangan Jack yang hendak meraihku. Lalu ia mengajakku keluar agar jauh darinya. Ya, Becca memang sahabat terbaik.

***

Aku tak mengerti mengapa Jack terus menggangguku. Bukannya ia sudah berbahagia dengan Vanya? Sekarang, ia menarikku ke sudut sekolah yang sepi. Jack akhirnya berhasil menemukanku sendirian.

“Lucy, ada apa?” Wajahnya kalut, menatapku dalam-dalam.

Aku tidak mengerti. Selama beberapa detik aku hanya menatapnya tak percaya. “Apa yang perlu dijelaskan?” Nadaku meninggi.

“Kenapa kamu begitu tega?” Aku memandangnya tak mengerti. Dia pun melanjutkan, “kamu tahu kan, sudah lama aku berusaha mendekatimu? Sekarang saat aku berhasil, kamu mau meninggalkanku begitu saja?”

“Loh, buat apa kamu masih mencariku? Bukankah kamu sudah bersama Vanya?” Aku melipat tanganku dan mengalihkan wajahku.

“Apa?!”

“Ya. Aku tahu kamu dan Vanya bermesraan di belakang sekolah tempo hari.” Aku berusaha sekeras tenaga menyampaikannya dengan cara seacuh mungkin. Aku bahkan mengangkat bahuku agar terlihat tak peduli. Tapi aku tak pandai bersandiwara. Air mataku mengalir perlahan.

“Hanya itu?” Ia mengacak rambutnya frustrasi. “Astaga. Tidak ada apa-apa di antara aku sama Vanya!”

“Hanya itu kamu bilang? Jack, selama kita dekat, semua orang membanding-bandingkan aku dengan Vanya! Kamu lihat apa sih dari aku? Lebih baik kamu sama Vanya. She loves you!”

Jack terperangah. “Lucy. Aku nggak peduli kata orang.” Ia menopang daguku agar menatap matanya lurus-lurus. “I. Love. You.” Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku kepadanya. Atau tidak berani mengakuinya. “You don’t need to say it back. I just want you to stay.”

Dia memelukku erat. Dan aku memeluknya, menangis di dadanya. Aku takut ini semua hanyalah mimpi. Aku takut patah hati. Dan aku takut kecewa..