Ramadan : Dedikasi, Perjuangan, dan Harapan

0
124

Ramadan 1441 Hijriah yang lalu memiliki keunikan tersendiri. Kali ini seluruh umat Islam di dunia merasakan sesuatu yang beda dengan Ramadan, karena suasananya bersamaan dengan situasi dunia yang sedang dilanda pandemi Covid-19 khususnya di Indonesia.

Sebelum Ramadan berlangsung, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia menetapkan protokol Covid-19 dalam beribadah masyarakat Indonesia selama Ramadan. Seluruh ibadah dengan segala kegiatannya yang bersifat berkerumun seperti shalat tarawih berjamaah, buka bersama, sahur on the road, i’tikaf, takbir keliling, hingga shalat idul fitri dibatasi oleh protokol Covid-19.

Tentu pembatasan itu demi kemaslahatan masyarakat agar terlindung dan terhindar dari bahaya virus korona. Pembatasan tersebut juga  sudah dipertimbangkan secara matang oleh ulama yang kompeten di bidangnya.

Eksistensi Ramadan sebagai bulan kemuliaan dan keberkahan senantiasa memikat umat Islam untuk berlomba-lomba dalam ibadah meskipun di tengah Covid-19. Umat Islam senantiasa berupaya untuk maksimal dalam melaksanakan berbagai kebaikan di bulan yang saat itu pula seluruh pahala akan dilipat gandakan. Maka, umat Islam akan memastikan hari-hari Ramadan menjadi hari-hari bermakna yang meluncur bersama ibadah-ibadah yang ditunaikan.

Salah satu dari sekian banyak umat Islam, saya hadir sebagai pembelajar yang mengikuti proses pendidikan Madrasah Ramadan untuk menghidupkan kebaikan. Berdasarkan fatwa MUI tentang pelaksanaan ibadah selama Ramadan di tengah Covid-19, boleh saja seseorang melaksanakan ibadah selama Ramadan tanpa harus dibatasi apabila seseorang itu berada dalam lingkungan yang terkendali penyebaran Covid-19.

Mengingat saya berdomisili di lingkungan yang terkendali, maka sebelum Ramadan tiba saya coba mendesain Ramadan kali ini dengan kegiatan baik yang progresif dan inspiratif berdasarkan key performance index.

Motivasi saya untuk menghidupkan kebaikan-kebaikan dalam Madrasah Ramadhan adalah memastikan Ramadan yang penuh keberkahan sebagai masa yang sangat bermakna dengan mengharap ridho Allah. Saya pastikan Ramadan menjadi masa yang progresif dengan ibadah dan kebaikan lainnya yang harus senantiasa ditunaikan dalam keseharian.

Tingkatkan kualitas

Saya tidak ingin Ramadan berlalu begitu saja bagaikan angin lalu yang berhembus tanpa memberikan makna. Maka, saya jadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kualitas sosial dengan target-target yang sudah didesain.

Saya turut andil dalam belajar dan mengajar pada Madrasah Ramadan. Satu sisi, saya mendesain Ramadan dengan target pribadi seperti halnya belajar mengendalikan hawa nafsu selama Ramadan, belajar empati pada masyarakat di luar sana yang kelaparan, dan belajar memaksimalkan ibadah (sholat, membaca Al-Qur’an, dan lainnya).

Sisi lain, saya coba desain Ramadan dengan target sosial seperti halnya menerapkan pola pembelajaran aktif-menyenangkan ala Madrasah Ramadan dan berbagi makanan untuk masyarakat yang lebih membutuhkan bersama relawan kemanusiaan.

Sejak hari pertama Ramadan, saya sudah mulai bersiap untuk merealisasikan seluruh target pribadi dan sosial. Saya coba lakukan dari target pribadi yang sederhana terlebih dahulu dengan melatih diri untuk lebih disiplin dengan shalat, karena esensinya shalat dapat mengembangkan pribadi untuk hidup disiplin.

Rajin membaca, memahami, dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Belajar berbagi dengan bersedekah agar semua mampu merasakan kebahagiaan yang sama. Meneladani akhlak para nabi dengan berbakti pada orang tua karena orang tua merupakan sumber kebahagiaan. Membaca buku ilmiah agar daya pikir senantiasa tajam.

Selain target pribadi yang coba saya realisasikan, saya pun berupaya keras untuk merealisasikan target sosial yang sama pentingnya. Hampir setiap hari di bulan Ramadan pada sore hari usai sholat ashar, saya mendidik dan mengajar ngaji anak-anak tingkat SD hingga SMP di mushala.

Saya ajarkan ilmu pengetahuan Islam seperti salah satunya shalat, puasa, berbakti pada orang tua sambil tetap mengajarkan ilmu pengetahuan umum seperti public speaking untuk melatih keberanian dan percaya diri yang kemudian saya kombinasikan dengan pelajaran karakter atau akhlak.

Agar anak-anak dapat menjadi pribadi yang utuh dengan ilmu dan karakter sehingga mereka memiliki bekal yang cukup untuk hidup pada masa kini dan masa depannya. Saya pun bersama komunitas kemanusiaan hampir setiap pekannya membagikan bantuan sosial berupa nasi bungkus atau sembako untuk masyarakat setempat yang lebih membutuhkan bantuan seperti jasa becak, pedagang asongan.

Saya rasa masih banyak orang terdekat yang membutuhkan bantuan, maka saya pastikan siap untuk membantu mereka dengan semangat ibadah karena Allah yang korelasinya dengan sosial.

Ramadan 1441 Hijriah menyiratkan hikmah kehidupan dengan pernak-pernik dedikasi, perjuangan, dan harapan. Hidup harus senantiasa berlanjut meski tantangan dan hambatan Covid-19 menyerang setiap sendi kehidupan dengan senantiasa merapat sepenuhnya pada Allah melalui ibadah mahdoh (ibadah yang hubungannya dengan Allah) maupun ibadah ghoiru mahdoh (ibadah yang hubungannya dengan makhluk).

Hidup harus senantiasa bermakna dengan menebar manfaat dan kebaikan pada sesama. Sekecil apapun kebaikan yang ditunaikan, pasti akan bermakna bagi sesama. Seperti halnya mendidik generasi harapan umat Islam dan bangsa Indonesia kemudian aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Semoga kisah sederhana ini dapat menginspirasi pembaca. Rasa syukur yang mendalam dan bahagia tak terkira masih dapat bertemu dengan Ramadan. Selamat tinggal Ramadan! Semoga Allah pertemukan saya, keluarga, dan umat Islam lainnya dengan Ramadan berikutnya pada 1442 Hijriah yang lebih baik.

Finka Setiana Adiwisastra, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Lampung