Dua Kakak

0
170

Masih ada rapot yang terselip di kursi sebelah pengemudi saat ayah menginjak gas mobil hitamnya, Desember lalu, tepat tiga puluh menit setelah berita tsunami Tanjung Lesung masuk notifikasi gawai barunya.

Anak perempuan termuda keluarga kami menangis, ada boneka burung hantu dalam genggamannya. “Kakak, Ayah kok pergi?” tanya suara bergetarnya. Bunda menjawab, ”Paman dan keluarganya di Tanjung Lesung, Dek. Ayah harus pergi ke keluarganya.” “Kita kan juga keluarga Ayah, Bun,” bisiknya pelan.

Kata keluarga kami, jiwa Adik Kecil menua lebih dulu dari tubuhnya. Umurnya enam tahun dan umurku tujuh belas. Malam itu, kami mengubur perbedaan umur dan masuk ke mobil keluarga, evakuasi dari daerah Anyer dan kembali ke Jakarta. Bunda menutup pintu segera. Aku tidak akan pernah tau apakah Bunda mendengar bisikan pelan Adik Kecil, tapi ada air mata di pelipisnya.

Bunda dan ayah pergi di hari Selasa, meninggalkan keluarga kecil kami bertiga; aku, Adik Tengah, dan Adik Kecil. Paman kami tinggal di Depok, tsunami yang terjadi telah memisahkannya dari dua anak kecilnya dan juga istrinya. Hari Selasa hari pencarian korban.

“Ayah kamu sehat, Kak. Bunda sama ayah di sini baik-baik saja. Kakak tolong pesan pizza ya, bunda dan ayah pulangnya mungkin agak malam,” tulis bunda dalam pesan singkat.

Pesan singkat selanjutnya datang pukul delapan malam, Adik Tengah masih sibuk mengunyah pizza sedangkan Adik Kecil terlelap tak terganggu, dering pesannya mengagetkan aku.

“Kakak, siapin baju hitam-hitam buat kita sekeluarga. Bunda pulang bersama ayah pagi besok.” – Kabar duka datang begitu nyaring, tanpa adab belasungkawa.

Ada keheningan yang janggal di ruang keluarga. Adik Tengah masih menatap, matanya bertanya, bunda ngomong apa sama kakak?

Keheningan terjawab oleh dering telepon panjang, nomor Bibi, adik termuda ayah, muncul di layar gawai Adik Tengah. Ia habiskan pizza di tangannya lalu menjawab panggilan: “Halo, “ katanya.

Tidak ada jawaban, karena Adik Tengah segera menutup panggilan. Tangisnya pecah di kursi ruang makan.

Kata keluarga kami, Adik Tengah hatinya serapuh kaca. Umurnya empat belas dan umurku tujuh belas. Malam itu, kami menyimpan perbedaan umur dan menatap satu sama lain, dari sofa ke kursi makan, dengan basah air mata. Duka kami yang tanpa suara bertemu, saling memanggil tanpa panggil.

Kami berdoa bersama Bibi pada pukul sembilan lewat saluran telepon, Adik Tengah menutup panggilan dengan kata maaf. Maaf, Bi, tadi telepon jam delapanya putus, di rumah sinyalnya jelek.

Kata keluarga kami, Adik Tengah paling pandai menutup rahasia. Umurnya empat belas tahun dan umurku tujuh belas. Malam itu, kami mengubur perbedaan umur rapat-rapat, serapat genggamku pada rahasia tangisnya.

Paman kami matanya lebam, wajahnya agak pucat, peringainya bingung. Ayah senantiasa berdiri di sisinya, diam tak bersuara kecuali ditanya.

“Maaf buat kakak ketakutan lihat ayah tiba-tiba pergi malam waktu itu.” Kata ayah sebelum pemakaman, “Ayah harus temani adik ayah dulu, Kak.”

Ayah anak pertama dari lima bersaudara dan telah menyandang  gelar ayah sejak umurnya empat belas tahun. Paman kami hanya ingat satu kakak dan satu ayah, dua peran yang melebur dalam wujud lelaki berdiri di sisinya, di pemakaman pagi hari Rabu.

Kata keluarga kami, dulu paman sering tiba-tiba pergi. Umur Paman dulu empat belas dan ayah tujuh belas. Di masa itu, mereka mengubur perbedaan umur dan saling hadir. Dua laki-laki bingung  yang mencari rengkuh pelindung.

Umur paman kini kepala empat, sama seperti ayah. Kini, duka yang sama datang dan ayah menjamunya jalan pulang. Pulang saja, usirnya, jangan sentuh adik saya.

Waktu makan siang datang dan pintu masuk rumah terbuka sedikit. Biar kita makan dahulu sebelum bertemu tamu-tamu baru.

“Ayah, nilai kakak semester ini naik,” kataku memecah keheningan. Kami berdua menyantap nasi kotak. Ayah masih mengunyah sayurnya.

“Iya, Ayah lihat nilainya saat evakuasi kemarin,” Kata ayah, “Ajarin adik-adikmu bahasa inggris, kamu kakak mereka. Bisa kan?”

 

Kata keluarga kami, anak pertama harus lapang. Bahunya harus tegar. Pegangnya harus kuat. Umur ayah empat puluh tiga dan umurku tujuh belas. Siang itu, kami mengubur umur dan duduk bersampingan, saling berbagi perbincangan ringan.

Siang itu, duka kembali mengetuk pintu masuk dengan tangis memohon kunjungan, membawa kabar kehilangan yang datang susulan.

Kami, dua kakak, mengusirnya pelan: tunggu sebentar ya,  duka, sekarang  masih waktu makan siang. Biarkan kami mengisi energi untuk berlapang diri, biarkan kami menguatkan diri sebelum bermain peran lagi. Kami harus lapang. Bahu kami harus tegar. Pegang kami harus kuat.

Kedua kakak mengubur umur dan saling perpegang teguh.
Hari ini, ada adik-adik yang harus kami rengkuh.

Aghna Agifta