Cerdik Memotret Kemeriahan Panggung Festival

2
174

Fotografi panggung atau stage photography merupakan sebuah teknik yang menantang dan menuntut tiap fotografer untuk menguasai keadaan serta berpikir taktis untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan keadaan (timing).

Topik tersebut mengemuka dalam workshop fotografi Kompas bertajuk “Mata Waktu Java Jazz 2020” yang diselenggarakan pada Kamis (26/2/2020) di Kompas Institute, Palmerah Selatan, Jakarta. Workshop ini menghadirkan enam orang fotografer dari tim foto Kompas sebagai pembicara, yaitu Priyombodo, Yuniadhi Agung, Rony Ariyanto Nugroho, Danu Kusworo, dan Eddy Hasby. Selain itu, hadir sebagai pembicara Stage Photographer Christ Messakh.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan fotografer panggung adalah kesesuaian teknik foto dengan karakter artisnya. Christ Messakh mengatakan, fotografi panggung mempunyai banyak sekali elemen, seperti lighting, ambience penonton, hingga ekspresi dan gerakan tubuh musisi di panggung. Menurut Christ, tantangan fotografi panggung itu sangat banyak. Namun, bila berhasil mendapatkan hasil foto yang baik, fotografer akan mendapatkan kepuasan tersendiri yang besar.

“Satu hal terpenting adalah menyesuaikan hype penonton dan dinamika gerakan artis di atas panggung dengan metode foto yang kita gunakan. Kalau artisnya banyak bergerak, metode fotonya berbeda dengan artis yang tidak banyak bergerak,” kata Christ.

Pembicara workshop, Stage Photographer Christ Messakh membagi ilmu fotografi panggung. Foto: Kaleb Sitompul
Pembicara workshop, Pewarta Foto Kompas Danu Kusworo. Foto: Hans Immanuel

Tak melulu soal teknik maupun hasil foto yang estetis. Fotografer, khususnya fotografer panggung, juga harus memperhatikan etika pengambilan gambar untuk menjaga kenyamanan orang-orang di sekitar maupun yang menjadi objek fotonya. Menurut Yuniadhi Agung, sering kali para fotografer panggung melupakan hal-hal itu.

“Fotografer itu bebas memilih sudut pengambilan gambar, asal jangan sampai mengganggu penonton. Perhatikanlah posisi dan durasi memotret. Ketika sudah mendapatkan tempat dan waktu yang tepat, fotografer harus sangat memanfaatkannya karena akses untuk mengambil gambar di panggung itu biasanya terbatas,” katanya.

Pembicara workshop, Pewarta Foto Kompas Yuniadhi Agung mengungkapkan bagaimana fotografer harus jeli mengeksplorasi setiap momentum. Foto: Kaleb Sitompul

Keterbatasan yang Yuniadhi sebut-sebut itu membuat Seni Kadirya dari Kelas Inspirasi Jakarta menanyakan solusi yang tepat untuk menemukan sudut foto yang menarik.

“Bagaimana cara fotografer meningkatkan kepekaan supaya bisa meng-explore angle foto secara lebih luas di tengah segala keterbatasan yang ada?” tanyanya.

Salah satu penanya di sesi tanya jawab. Foto: Hans Immanuel

Yuniadhi menjawab, “Kita harus mendapatkan foto yang istimewa. Kita bisa memanfaatkan objek-objek di sekitar kita untuk membuat foto framing. Misalnya membuat foto penyanyi di panggung dengan framing crowd (keramaian) penonton. Bisa di-frame dari tangan-tangan penonton, HP, dan lain-lain.”

Yuniadhi juga menyampaikan kiat lain untuk mengakali keterbatasan akses fotografer panggung. Katanya, “Kita bisa berfokus pada hal-hal detail yang menarik. Misalnya kalau di konser rock para musisinya identik punya rambut gondrong. Saya pernah mengambil foto yang fokus ke detail rambut mereka. Bisa juga mengakali lighting dari lampu panggung yang berganti-ganti, memotret sisi lain kegiatan seperti aktivitas kru di belakang panggung, dan fashion penonton yang hadir.”

Masalah etika ketika memotret secara lebih lengkap dibahas oleh Rony Ariyanto Nugroho. Ia menekankan pentingnya aspek kebermanfaatan dari setiap foto yang diambil.

“Kita harus berpatokan pada tujuan dan pesan apa yang ingin kita sampaikan melalui foto-foto kita. Jangan sekadar mengedepankan supaya bisa jadi viral,” kata Rony.

Pewarta Foto Kompas Rony Ariyanto Nugroho menekankan pentingnya mematuhi aturan-aturan saat memomtret sebuah peristiwa. Foto: Kaleb Sitompul

Oleh karena itu, Rony juga menekankan pentingnya fotografer untuk mematuhi ketentuan-ketentuan dari penyelenggara acara. Bila ada larangan memotret, kita harus mematuhinya, karena kesopanan adalah hal yang utama.

“Ada beberapa penyelenggara konser yang melarang penonton atau pun fotografer untuk mengambil foto ketika musisi sedang bernyanyi atau bermusik di panggung. Itu karena ada musisi-musisi tertentu yang membutuhkan suasana hening supaya bisa berfokus, sementara suara ‘klik’ dari kamera itu sangat mengganggu. Itu harus kita patuhi,” kata Rony.

Pada sesi tanya jawab, Taufik Rozzak, mahasiswa dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menanyakan bagaimana cara menghadapi objek foto yang menolak untuk diambil gambarnya. Dony kemudian membagikan pengalamannya.

“Saya pernah mau memotret perayaan Cap Go Meh di Bogor, pengennya mengambil dari sebuah warung, tetapi dilarang oleh pihak penjaganya. Akhirnya, saya mencari spot lain untuk mendapat gambar yang bagus. Saat itu,  saya mengakali itu dengan mengobservasi tempat-tempat lain yang bisa saya jadikan spot foto. Intinya tidak usah memaksakan. Pasti ada jalan, kok. Pintar-pintarlah berimprovisasi ketika sedang di lapangan,” jawab Rony.

Cerdik menemukan celah di tiap kesempatan yang terbatas adalah kunci dari fotografi panggung, termasuk cerdik memotret berbagai dimensi di luar objek utama di panggung. Penonton, tata panggung, dinamika kerja para kru, hingga hal-hal kecil lain bisa jadi sebuah hal yang menarik dan menghibur bila dibidik dengan waktu dan metode yang tepat. Tapi janganlah lupa untuk memperhatikan kenyamanan sesama penonton, sesama fotografer, hingga kenyamanan para musisi itu sendiri.

Reporter:

Selma Kirana Haryadi, Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran, Bandung

Fotografer:

Kaleb Octavianus Sitompul, Mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta

Hans Immanuel, Mahasiswa Jurusan Fotografi Lasalle College Indonesia, Jakarta

2 COMMENTS