Catatan Seorang Santri

0
74

Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah berasrama berbasis agama Islam, penulis pernah mengalami dinamika kehidupan seorang santri. Mengenyam pendidikan sebagai seorang santri, meskipun hanya di sekolah berasrama berbasiskan Islam tentu memiliki pengalaman dan kesan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan sekolah konvensional.

Hari ini, bertepatan dengan hari santri nasional, penulis ingin berbagi sebuah catatan lama penulis mengenai rutinitas seorang santri. Catatan ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi pelajar di MAN Insan Cendekia Serpong pada medio 2016-2018. Catatan ini penulis buat semasa menjadi siswa kelas XI MAN Insan Cendekia Serpong pada 13 Februari 2018. So, check this out!

Suasana kelas begitu hening. Setiap jiwa sibuk dengan jiwanya sendiri. Setiap layar dihadapan memaparkan beragam informasi dan menjadi bukti kesibukan tiada henti. Kelas ini lengang karena sebagian jiwa pergi melanglang buana ke seluruh penjuru untuk mempersiapkan perhelatan akbar yang akan kami gelar esok hari.

Di sela – sela rutinitas yang semakin padat tiap hari dan di sudut – sudut waktu senggang yang tersisa. Saya sempatkan menulis memoar yang dapat menggambarkan kehidupan kami sebagai siswa di MAN Insan Cendekia Serpong.

Memoar ini akan menceritakan secara gamblang rutinitas kami di MAN Insan Cendekia Serpong, baik secara akademik maupun kehidupan sosial. Memoar ini akan dimulai dari rumah kedua sekaligus tempat berlabuh kami setelah hari – hari yang tiada henti datang dan pergi, asrama.

Pagi hari kami dimulai ketika murottal Al – Qur’an menggema di asrama sebagai tanda kegiatan shubuh akan dimulai sekitar 30 menit ke depan. Satu per satu individu mulai membuka kelopak matanya dengan semangat dan keceriaan yang baru. Divisi kedisiplinan OSIS memulai kerjanya pada hari itu. Satu demi satu kamar disambangi dan siswa yang ada di dalamnya dibangunkan satu per satu. Bunyi bel kedisiplinan menggelegar tanda azan shubuh lima menit lagi akan tiba.

Kegiatan shubuh berisikan salat berjamaah dan penambahan kegiatan keagamaan seperti halaqah Qur’an ataupun kuliah shubuh yang diberikan oleh ustadz yang berkompeten di bidangnya seperti Syekh Ali Abdul ‘Al, penutur asli bahasa Arab yang dihadirkan langsung dari Al–Azhar Kairo, Mesir.

Setelah kegiatan shubuh, siswa melakukan santap pagi dan persiapan kegiatan belajar mengajar. Apel pagi dilangsungkan pukul 06.25. Apel pagi merupakan kegiatan pengumpulan siswa untuk mengecek kehadiran siswa pada hari itu. Apel pagi selesai sekitar pukul 06.45 dan dilanjutkan dengan aktivitas keagamaan di masjid pada pagi hari berupa salat dhuha dan tadarus quran.

Pertandingan bulutangkis antar angkatan. Foto: Dokumentasi pribadi

Proses belajar mengajar dimulai pukul 07.00 dengan lama tiap jam pelajaran adalah 45 menit. Terdapat dua kali waktu istirahat, yaitu pukul 10.00–10.15 dan pukul 11.45–12.45 yang dipergunakan untuk ishoma. Dengan sistem moving class yang diterapkan, mata pelajaran selalu berubah tiap harinya. Rata–rata hanya terdapat dua jam pelajaran dalam sehari bersama guru yang sama. Proses belajar mengajar biasanya rampung sekitar pukul 15.00.

Setelah salat asar, siswa mendapatkan waktu bebas beraktivitas. Siswa dapat mengikuti Klub Bidang Studi (KBS) yang diadakan untuk menjaring peserta Olimpiade Sains dan Kompetisi Sains Madrasah. Selain itu, siswa dapat mengikuti ekstrakurikuler untuk menambah minat dan bakat serta mengerjakan tugas organisasi.

Kegiatan sore hari dibatasi sampai pukul 17.15. Ditandai dengan bunyi bel pertanda aktivitas sore harus segera diakhiri. Seraya berjalan ke asrama, siswa dapat menyantap makan malam terlebih dahulu di kantin atau memilih mempersiapkan diri menuju masjid.

Hal ini karena kantin hanya dibuka untuk santap malam pada pukul 17.00 sampai dengan azan maghrib, kecuali untuk siswa yang berpuasa pada hari itu dipersilahkan untuk santap malam setelah salat maghrib berjamaah usai. Semua pilihan dibebaskan kepada siswa, asalkan siswa tidak melampaui batas–batas yang telah ditentukan.

Aneka kegiatan

Setelah salat maghrib berjamaah, terdapat kegiatan kelas keagamaan yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah Akhlak, Al – Quran hadits, fiqih, sejarah kebudayaan Islam (SKI), dan bimbingan konseling (BK). Pada hari jumat, terdapat kelas khusus yang terpisah antara kelas 10 dan kelas 11 yaitu kajian kitab dan tilawah mujawwat. Kelas malam ini diadakan pada setiap malam senin hingga malam sabtu. Sedangkan untuk kegiatan malam minggu akan berganti setiap minggunya berdasarkan acara yang dibuat oleh divisi iman taqwa OSIS.

Salat isya dilaksanakan setelah kegiatan kelas malam berakhir sekitar pukul 19.45. Setelah salat isya, siswa belajar mandiri. Kegiatan ini tergantung masing-masing individu, ada yang belajar tekun di asrama bersama buku – buku, ada yang belajar secara informatif bersama laptop di CSA (Central of Student Activity).

Ada juga yang belajar secara komunikatif bersama bapak – ibu guru yang tinggal di sekitar lingkungan asrama, dan ada juga yang belajar secara asosiatif bersama rekan sejawat di Ruang OSIS – MPS (ROM). Khusus untuk malam minggu, CSA ditutup. Biasanya, pada malam minggu terdapat acara OSIS seperti opening ceremony acara ataupun kegiatan lainnya untuk mengisi waktu luang di malam minggu.

Suasana siswa salat Dhuha. Foto: Dokumentasi pribadi

Kegiatan belajar mandiri berakhir pukul 22.00. setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan istirahat bagi siswa. Penggunaan kegiatan istirahat disesuaikan kembali dengan siswanya. Ada yang masih belajar hingga larut dan ada pula yang sampai kamar langsung terlelap. Semua tergantung siswa dalam mengatur waktunya dengan catatan semua kegiatan dengan tanggung jawab.

Ya, beginilah memoar singkat mengenai rutinitas harian siswa di MAN Insan Cendekia Serpong. sebenarnya, rasa jenuh pasti akan hinggap dalam lubuk setiap siswa. Namun, kembali lagi bagaimana cara siswa menyesuaikan dirinya dan memanfaatkan waktunya dengan baik dan maksimal.

Santri dalam perspektif penulis bukan hanya individu yang mengeyam di pondok pesantren  ataupun sekolah berasrama yang berbasiskan Islam saja.

Lebih dari itu seorang santri adalah seseorang yang mendalami ilmu agama dan memiliki kepribadian serta budi pekerti yang luhur dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat.

Menjadi seorang santri adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi penulis karena tidak semua orang dapat menjadi santri dan tidak semua orang berkeinginan menjadi santri. Menjadi santri memiliki beban dan tanggung jawab moral yang tinggi, baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan bermasyarakat. Karena dengan pengetahuan yang dimilikinya, seorang santri diharapkan dapat menjadi agen kebaikan yang menebarkan kebermanfaatan dan kedamaian dalam masyarakat.

Selamat Hari Santri 2019!  Santri Indonesia untuk perdamaian dunia.

Satrio Alif Febriyanto, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Pelajar di MAN Insan Cendekia Serpong 2016-2018