Kiprah Roode Brug Soerabaia Mengenang Sejarah Surabaya

0
317

Sejarah sudah menjadi hal umum yang kita semua ketahui. Tak lepas dari kalimat bahwa, tanpa masa lalu, maka tak ada yang namanya masa sekarang.

Secara umum, sejarah merupakan hal yang dinamis, tidak ada kebenaran yang mutlak, seiring waktu bisa saja berubah dengan adanya temuan-temuan baru yang mampu mengubah sejarah yang telah tertulis dan kita percayai selama ini. Namun seperti yang dapat diketahui, nyatanya hingga saat ini sejarah masih menjadi hal sepele di mata masyarakat.

Anggapan bahwa sejarah hanya sekedar dipelajari di bangku sekolah dan kemudian terlupakan begitu saja. Padahal sejarah berkaitan erat dengan masa kemerdekaan Indonesia zaman dahulu. Tanpa adanya bukti-bukti sejarah, kita tidak dapat mengetahui bagaimana alur cerita dari perjuangan para pejuang Indonesia pada saat melawan pasukan penjajah. Ada banyak cara untuk melestarikan sejarah, namun tidak semua cara tersebut efektif penggunaannya. Hal ini berakibat, pada akhirnya sejarah bisa saja terlupakan begitu saja.

Cara untuk melestarikan sejarah ada banyak seperti, membaca buku-buku sejarah, menonton video dokumenter. Dan ternyata ada cara lain yang lebih menyenangkan untuk melestarikan sejarah. Salah satunya dilakukan oleh Komunitas Roode Brug Soerabaia.

Komunitas itu merupakan salah satu komunitas yang berada di Surabaya dan arti dari nama komunitas tersebut yaitu “Jembatan Merah”. Sesuai dengan namanya, tujuan pembentukannya untuk menjembatani sejarah dari masa lalu ke masa sekarang. Kiprah komunitas ini sudah banyak, bahkan pendirinya Ady Setyawan, sudah menerbitkan tiga  buku yang membahas mengenai sejarah Surabaya.

Tentunya dalam penulisan buku tersebut tidak asal tulis. Ady Setyawan melakukan riset hingga ke luar negeri untuk memeroleh bukti-bukti sejarah yang akurat dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku agar semua orang dapat membacanya. Kegiatan lain yang dilakukan oleh komunitas ini berbentuk teatrikal yang diadakan di lapangan Monumen Tugu Pahlawan Surabaya.

Kiprah komunitas itu untuk mengenang sejarah yang ada agar terus dilestarikan. Kegiatan tersebut rutin diadakan dengan teman yang berbeda-beda. Salah satu kalangan yang terlibat adalah mahasiswa dari Universitas Kristen Petra Surabaya yang melaksanakan teatrikal dengan tema TRIP.  Aksi teatrikal selalu diadakan hari Minggu dan puncaknya pada peringatan Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Kegiatan Teatrikal Mahasiswa UK Petra dengan Komunitas Roode Brug Soerabaia

Lalu apa sisi menyenangkan dari teatrikal ini? Seperti sudah diketahui, kegiatan tersebut diadakan hari Minggu dan berlokasi di lapangan Tugu Pahlawan Surabaya yang ramai oleh pengunjung baik yang olahraga, jalan-jalan, dan duduk-duduk. Lokasi itu ideal dan strategis untuk mendapatkan perhatian dari publik dan seketika menjadi sorotan perhatian.

Tentunya teatrikal sajian mahasiswa dan komunitas itu bukanlah teatrikal sembarangan saja. Untuk melakukan aksi teatrikal perlu latihan minimal dilakukan sebanyak dua kali sebelum hari H acara itu dimulai. Latihan dilakukan dengan serius dan perlu penjiwaan yang hebat untuk dapat memerankan peran mereka.

Selain latihan ekspresi dan penjiwaan karakter, persiapan untuk properti teatrikal juga tidak kalah heboh dengan penampilannya. Tiap anggota pemain yang jumlahnya cukup banyak menggunakan atribut yang benar-benar sesuai dengan para pejuang pada zaman dahulu.

Atribut untuk pejuang Indonesia, dan pasukan Belanda, Inggris, maupun Jepang pun lengkap digunakan sesuai dengan tema yang diusung pada kegiatan teatrikal dimulai. Bahkan hingga rambut untuk pemeran wanita saja harus diikat menjadi satu atau dibagi menjadi dua. Perhiasan atau aksesoris lain juga tidak diperbolehkan untuk digunakan. Alasannya sederhana, supaya lebih menjiwai peran yang dilakukan.

Metode teatrikal sangat menyenangkan dan menarik untuk proses pembelajaran serta pelestarian sejarah

Tema cerita teatrikal yang ditampilkan berbagai macam. Salah satu diantaranya menceritakan mengenai perjuangan tentara TRIP saat melawan pasukan Inggris. Seusai acara, banyak warga yang menonton kegiatan itu bertepuk tangan meriah dan bahkan ikut berfoto bersama dengan para pemeran dari anggota komunitas Roode Brug Soerabaia ini.

Metode teatrikal sangat menyenangkan dan menarik untuk proses pembelajaran serta pelestarian sejarah-sejarah yang ada. Kadang-kadang kita menganggap bahwa sejarah merupakan suatu hal yang membosankan. Hal itu karena beberapa faktor seperti cara penyampaian yang datar dan salah. Buku-buku sejarah yang tersedia dengan penggunaan bahasa yang sulit untuk dipahami khususnya bagi anak-anak, dan pengaruh dari perkembangan teknologi yang ada.

Seiring berkembangnya zaman, tentu hal-hal seperti sejarah mulai terlupakan. Bagi anak-anak bahkan melihat video atau bermain game di telepon pintar merupakan hal yang lebih menyenangkan daripada harus belajar mengenai sejarah. Lalu sebaiknya teknologi digunakan untuk membagikan informasi-informasi menarik seputar sejarah dengan metode yang menyenangkan.

Mahasiswa UK Petra yang Terlibat dalam Kegiatan Komunitas

Dengan adanya komunitas-komunitas yang peduli akan sejarah-sejarah perjalanan bangsa seperti Roode Brug Soerabaia, sejarah dapat dikemas dengan cara penyampaian lebih menarik sehingga mudah dipahami generasi kini. Pada akhirnya mereka akan paham sejarah bangsanya dan akan terus mengenangnya.

Jika kalian tak suka teater, Roode Brug Soerabaia tidak hanya menampilkan teatrikal saja. Kiprah komunitas ini macam-macam, semua berupa kontribusi untuk pelestarian sejarah. Kegiatan lain yang dilakukan seperti berkunjung ke bangunan-bangunan peninggalan sejarah, bergotong royong membersihkan bangunan sejarah yang sudah lama tidak terawat. Kelompok tersebut pernah membersihkan bangunan berserajarah di Benteng Kedung Cowek Surabaya.

Bila ada yang terarik dengan komunitas ini maupun acara teatrikal yang diadakan,  masyarakat biasa dapat bergabung di dalam komunitas ini. Melalui hal kecil seperti ini, meskipun melelahkan namun hasil capaiannya luar biasa terutama untuk sejarah-sejarah yang ada agar dapat terus dilestarikan dan tidak pernah terlupakan dari benak kita semua.

Hoo, Leony Gracia, mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya