Semakin Susah Menjadi Manusia yang Manusiawi

0
869

“Beda kepala, beda isi” pepatah tersebut memang nyata adanya dan tidak dapat dipungkiri kenyataannya. Setiap insan manusia dianugerahi porsi dalam dirinya yang berbeda-beda, namun seiring berjalannya sang kala harusnya manusia juga dapat menyikapinya dengan bijaksana. Meski manusia memiliki porsi berpikir masing-masing, namun esensi manusia adalah sama.

Manusia adalah makhluk sosial dimana hakekat manusia harus bisa hidup bersama-sama bersama ciptaanNya yang lain. Porsi berpikir manusia agaknya memengaruhi pola hidup mereka pula. Namun semestinya, ketika manusia tahu akan esensinya sebagai manusia, porsi pikir manusia sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia yang manusiawi.

Sebagai makhluk sosial manusia dipandang sebagai organisasi atau sekumpulan berbagai individu, dimana mereka perlu adanya keterkaitan satu dengan yang lain. Dengan kesadaran akan esensi dirinya sebagai makhluk sosial, harusnya manusia sadar akan dirinya, bagaimana ia harus bertindak akan sesamanya bahkan dengan semua makhluk ciptaanNya.

Dengan adanya benang merah tersebut, muncul harapan kehidupan sosial manusia akan berjalan dengan sebagaimana mestinya dengan kata lain, surga antar manusia didunia akan tercipta. Namun realita kehidupan manusia tidak semulus itu. Didasari keterbatasan masing-masing insan, manusia dituntut untuk terus belajar, belajar akan segala hal. Manusia harus belajar menyadari dirinya sendiri dan belajar menyadari bahwa esensi dirinya dengan manusia lain adalah sama.

Sifat egosentris akan sendirinya terkikis ketika kita sudah meletakkan porsi berpikir yang kita miliki pada ranah pribadi kita masing-masing

Lalu apa yang terjadi saat ini? Banyak manusia yang belum menyadari akan dirinya sendiri, bagaimana mungkin untuk menyadari orang lain. Manusia merasa lebih pintar untuk berusaha menyadarkan orang lain ketimbang mencari kesadaran akan dirinya sendiri.

Dengan kondisi realita yang demikian, surga antar manusia akan susah diciptakan, selain didasari oleh keterbatasan akan porsi pikir setiap manusia. Kehidupan manusia juga terbentuk dari suatu kerangka kehidupan sosial manusia itu sendiri pun agaknya mempengaruhi kemampuan manusia untuk menyadari dirinya sendiri bahkan menyadari manusia lainnya. Meskipun kerangka manusia beragam dan bermacam-macam, sebagai manusia harusnya tetap menjalani hidup sesuai dengan panutan dari benang merah pada esensi dari manusia itu sendiri.

Namun semua itu hanya harapan semata, perjuangan untuk menyadari diri manusia akan susah terbentur akan kerangka sosial yang seiring berdampingan dengan jalannya hidup setiap manusia, lalu bagaimana kita menyikapinya? Sebagai manusia, kita harus sadar bahwa kita adalah makhluk ciptaan untuk itu kita juga harus menyadari dan menerima bahwa semua manusia adalah sama.

Tak lepas dari takdir seseorang yang memiliki porsi berpikir masing-masing agaknya kita perlu bisa menyikapi kondisi tersebut dengan saling terbuka. Membuka pikiran dan menerima pikiran orang lain tanpa ada sifat egosentris dari dalam diri seorang manusia itu sendiri. Tidak tidak harus mengesampingkan keyakinan, budaya, kepercayaan dan semua kerangka sosial lainnya yang kita yakini dalam diri kita.

Sebagai manusia yang belajar menyadari dirinya sebagai manusia yang sama dengan lainnya kita hanya perlu menempatkan di posisi lain yang tidak menempatkan pada tempat yang lebih rendah ataupun tinggi dengan hal lainnya. Sifat egosentris akan sendirinya terkikis ketika kita sudah meletakkan porsi berpikir yang kita miliki pada ranah pribadi kita masing-masing.

Segala pola pikir yang kolot justru akan meruntuhkan diri manusia itu sendiri, seseorang akan hancur ketika ia meletakkan porsi pikir mereka sebagai hal atau acuan yang paling benar dibanding dengan porsi pikir orang lain. Dengan sendirinya kehidupan sosial maupun kehidupan pribadinya akan seimbang ketika manusia menyadari porsinya sebagai manusia, manusia yang sama dnegan manusia lainnya.

Erico Dwi Setyawan, mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta