Gincu Arang

0
620

Angin menggesek tiang pancang terowongan membuat bunyi bak rintihan kesakitan. Paduan suara cengkerik dan bancet mengisi keheningan malam yang tak berujung. Sinar candra diatas kepala mengisyaratkan insan yang hidup di atas tanah sudah seharusnya terlelap di kasur empuk. Kehidupan yang seharusnya terhenti sementara menjadi persimpangan tajam bagi para kembang latar. Suara sepatu hak yang menghantam jalanan menjadi saksi bisu seorang dara yang bertarung dengan nasib di kota yang “entah-aku-tak-peduli-apa-namanya.”

Malam yang semakin pekat juga ganasnya angin malam yang merengkuh ke dalam sukma terasa menggerogoti tulang dan sendi sudah menjadi hidangan harian gadis yang memakai blus pendek berwarna terang itu. Mata yang sesekali terpejam menjadi tantangan utamanya. Titian sepotong bambu dan kayu menjadi jajakkan awal karirnya.

Waktu itu, pukul dua, sinar bundar diatas kepala perlahan turun menuju ufuk timur. Aku mulai melebarkan tapak agar sampai di kota tepat waktu. Tak banyak yang terjadi malam itu, hanya segelintir anak muda tak tahu waktu dan gelandangan lusuh yang mencoba merayuku. Dentuman musik keras dan fraksi-fraksi cahaya yang tersembur menyipitkan mata menggambarkan suasana taman malam yang bergelora.

Sebuah pondok bertuliskan Pelataran Senja yang berada di ujung jalan menjadi rumah sementara bagi kami, para pekerja malam. Bangunan tua yang bobrok dari luar menyimpan kehangatan di dalamnya. Beberapa kursi terlihat bersandar di dinding kayu lapuk yang hampir roboh.

Ranjang kotor bertangkai kayu tua terbaring angkuh mengisi bilik-bilik tanpa perabot. Wanita paruh baya yang kerap kusapa Nyonya terlihat bersiap menunggu pelanggan di depan pintu. Beberapa kaki jenjang keluar dari ruang ganti dengan dandanan menor dan blus yang lebih pendek dariku, saling membagi riuh celoteh yang tak jelas, menghancurkan kebekuan suasana.

Tapak kaki ricuh dari luar pondok menandakan para bandot mulai berdatangan untuk bertransaksi demi mengisi kekosongan duniawinya. Dari pegawai negeri sampai pebisnis tajir melintir mulai mengunjungi bunga-bunga raya pilihannya. Mereka yang sudah terpilih mulai memasuki bilik dingin yang mendadak panas, sisanya membaur di luar menunggu naga emas datang menghampiri.

“Yuk, neng,” ujar seorang pria tua dengan pipa cengklong yang menyeretku ke depan Nyonya.

“Barang baru ini masih segar.”

Senyum merekah timbul di wajah Nyonya sambil menengadahkan tangan ke pria tua yang sedari tadi menghitung lembaran merah di tangan kirinya. Emas sudah di tangan harus diganti dengan emas di badan. “Sudah sana, perlakukan dengan baik. Dia bayar mahal.” Akhir transaksi itu akan menjadi prolog di dalam bilik sana. Pak tua itu mulai lagi menyeretku menuju bilik terujung.

***

Belum sampai menutup pintu, kebisingan mendadak menjadi keheningan. Semua orang meriung perdu, berlalu lalang hilir mudik dengan raut wajah penuh kepanikkan.

“Ada razia, semua pulang saja!”

Tanpa banyak celoteh aku lari dari pondok yang sudah diobrak-abrik beberapa orang berpakaian seragam cokelat dengan mobil bergaris kuning yang memancarkan cahaya warna-warni bak lampu disko. Suara dentuman keras terdengar dari tengah jalanan yang membuat lariku semakin kencang sambil berharap tak tertangkap atau tertabrak sesuatu.

Walau sudah jauh, kakiku tetap tak mau berhenti walau perih, dadaku yang terangkat tegang dengan napas berurutan senduk dan mataku yang membulat. Sinar bulan yang awalnya menjadi pelaku utama berubah menjadi pelaku sampingan.

Aku sampai dengan tubuh yang kotor dan perasaan yang campur aduk. Langsung saja ku siram tubuhku dengan cidukan air dari sumur, kalau bisa aku ingin loncat saja ke dalamnya demi meluruhkan legam kesalahan yang telah kuperbuat. Pelemparan diriku ke atas kasur tipis lusuh yang kemudian membuangku ke pemikiran yang tak pernah kuinginkan.

Mendapati diriku dalam ceruk gelap dibalik senyum dan rambang mata. Kupandang diriku dalam bayangan mirat, cemooh dan hina. Terbayang lagi, membahana suara lembut di telingaku, suara-suara yang tak sepantasnya kudengar.

Aku duduk diam di balkon teras sambil berandai-andai. Terbesit lagi memori ingatan masa lalu. Aku yang begitu bahagia, lugu, dan murni. Kini aku hancur setelah melanggar aturan yang tertancap jelas di kehidupanku. Saat kutemui krayon merah yang hancurkan diriku. Aku mulai meredup dan perlahan mati.

Kupandangi gincu merah pekat dan blus merah delima manis yang kupakai tadi teronggok di pojok kamar meraung-raung kepadaku. Kujejaki semua memori yang telah terjadi, membuatku ingin hancur dan bersatu dengan ibu pertiwi. Kusesali semua yang terlanjur menjadi hitam pekat, yang tak tahu bagaimana mengembalikannya seperti sedia kala.

Aku sadar sejak awal bahwa apa yang telah kuperbuat akan ada ganjaran yang harus ditanggung. Berupaya kembali membawa arang ke waktu sebelumnya adalah kenyataan yang pahit. Bila ada kesempatan, aku berharap bisa membawa kembali diriku yang dulu dan kelak menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Previous articleLaut Masih Biru
Next articleMenunggu Harummu
Di bawah cahaya temaram, seorang anak jatuh ke dunia. Terhempas ke atas bentala, seorang bayi lahir dari seorang wanita mulia yang kita kenal dengan sebutan Ibu. Anak itu tumbuh besar dan sehat, tubuhnya tinggi layaknya tiang lampu tengah jalan. Walaupun sempat bercita-cita menjadi sastrawan, ia akhirnya mengikuti kata hatinya yang lain. Perkenalkan, namaku Made Diva. Mulai menulis sejak duduk di bangku SMP. Bermula dengan cerpen anak, ketua klub Jurnalistik, dan berakhir sebagai penulis cerpen semi-sastra yang sangat bertolakbelakang dengan keadaanku saat ini.