Sinar Kecil di Tengah Kegelapan

1
2911
Sinar matahari terhalang oleh awan kelabu yang mendung. Seperti halnya langit yang muram, begitulah pula kehidupanku, anak muda berusia 21 tahun. Yang hidup dalam keabu-abuan yang melingkupi jiwa dan hatiku.
Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang tidak menawarkan banyak peluang. Aku merasa terkekang dalam rutinitas yang monoton. Setiap hari, aku terbangun dengan perasaan muram, menghadapi hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Kegelapan di dalam diriku terus bertambah, membuatku merasa semakin terisolasi dari dunia di sekitarku.
Aku sering merenung tentang masa depanku yang suram. Aku tidak memiliki kejelasan tentang karier atau tujuan hidup. Teman-teman sebayaku telah memilih jalannya masing-masing, sementara aku merasa seperti seorang penonton dalam kehidupan mereka sendiri.
Suatu hari, aku bertemu dengan seorang laki-laki paruh bayah yang memiliki tatapan tajam dan wajah berkerut. Laki-laki itu duduk di sebelahku dan menatapku dengan penuh empati.
“Anak muda, aku bisa melihat kepedihan dalam matamu. Apa yang membuatmu merasa begitu muram?” tanya lelaki itu dengan lembut. Aku terkejut bahwa ada seseorang yang menyadari kesedihanku. Aku memutuskan untuk berbagi cerita tentang perasaanku yang terperangkap dalam keabu-abuan.
Lelaki itu mendengarkan dengan penuh perhatian, mencermati setiap kata yang aku sampaikan. Setelah aku selesai bercerita, lelaki itu tersenyum lembut. “Anak muda, kehidupan tidak selalu terang benderang, tapi keabu-abuan yang kau alami sekarang adalah bagian dari perjalananmu. Setiap warna gelap yang kau temui akan membantumu menghargai kecerahan yang akan datang,” katanya.
Aku merenungkan kata-kata lelaki itu. Aku mulai menyadari bahwa hidup bukanlah tentang kegembiraan yang konstan. Keabu-abuan dan tantangan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan dan kedewasaan.
Lelaki itu melanjutkan, “Anak muda, jangan biarkan kegelapan menguasai hatimu sepenuhnya. Cari sinar kecil di tengah kegelapan itu. Terimalah keabu-abuan sebagai kesempatan untuk menemukan arti sejati dalam hidupmu,”.
Perlahan tapi pasti, kata-kata Lelaki itu meresap dalam diriku. Aku mulai membuka diri untuk mencari sinar kecil di tengah keabu-abuan yang menghimpitku.
Aku memperdalam minatku dalam seni, terutama mengeksplorasi berbagai bentuk ekspresi seperti berlatih bermain musik dan mempertajam tulisan. Hingga pada saat ini, aku mulai berani untuk berbagi cerita dan pengalaman kepada orang-orang di sekitarku.

1 COMMENT