ATALA WIJAYA

0
647

Selama satu tahun terakhir, nama itu telah memenuhi halaman buku harian seorang Ashila Maharani.

Sejak hari pertama, di pertemuan organisasi sekolah, ketika mata Ashila menangkap jelas seorang pria yang tersenyum ke arahnya sembari melambaikan tangan, seolah mereka sudah begitu dekat. Itu Atala Wijaya.

Bagi Ashila, Atala adalah pria paling tampan. Tidak tahu dari sudut pandang mana bisa terlihat begitu, tapi alisnya yang tebal dan bibir bawahnya yang terbelah, itu benar-benar mampu merobohkan dunia Ashila. Ashila sudah jatuh terlalu dalam bahkan di hati pertama,
sampai di hari berikut tanpa sadar ia sudah tak bisa kembali ke daratan.

Sampai jika ia disuruh memilih harta atau Atala, tentu saja Atala jawabannya! Astaga, mengingatnya bahkan membuat Ashila senyum-senyum sendiri di sela menulisnya. Pipinya bahkan memanas saking tersipunya.

“A-shi-la!” panggilan yang bernada keras dan penuh tekanan itu, membangunkan reflek Ashila yang cepat menutup buku di depannya dengan sedikit bantingan. Menciptakan keterkejutan yang membingungkan bagi si pemanggil.

“Ampun, Ata! Kaget tahu!” ujar Ashila dengan ketus. Ia jengkel. Tangannya masih dengan rapat menutupi buku hariannya.
“Maaf, La. Aku sudah memanggilmu berulang-ulang tapi kamu tidak mendengarnya,” sahut Atala, menjelaskan.

Ashila tak lagi menjawab. Ia lebih memilih untuk bergerak cepat membuka tasnya, berniat memasukan buku hariannya sebelum Atala penasaran. Namun, rasanya Ashila terlalu lambat, sampai tangan Atala sudah duluan menyambar buku harian miliknya.

Ia ingin merebutnya, mencoba menggapai tangannya untuk mencapai bukunya di ujung tangan Atala. Aksi rebutan buku pun terjadi.

Kelas cukup sepi, ini bukan hari sekolah. Hanya hari di mana anak-anak organisasi berkumpul untuk membahas acara yang akan terjadi ke depannya. Ashila sebelumnya melarikan diri dari rapat, kemudian di susul oleh Atala yang memang mencarinya. Berujung di kelas sepi ini, berebut buku harian milik Ashila. “Ata! Balikin!” rengeknya, melompat-lompat, menyesuaikan tinggi tubuh Ata yang berbeda 17 cm darinya.
“Kamu nulis apa sih, La? Aku penasaran,” tanya Atala. Pria itu benar-benar ingin tahu.

“Kamu, Ta.” Di dalamnya cuma ada nama kamu dan seuntai perasaanku. Ashila menjawabnya dalam hati. “Kamu nggak perlu tahu!” tegasnya.
“Ouh, isinya rahasia ya?” terka Atala, menatap Ashila sedikit jail.
“Mm. Rahasia! Itu makanya cepat balikin!” Lagi-lagi Ashila merengek.
“Tapi aku pengin tahu isinya,” ucap Atala, disertai senyum jail dari mulutnya.

Melihat itu Ashila tahu jelas apa yang akan Atala lakukan. Pria itu telah membuka sedikit lembaran bukunya, sembari memandangi Ashila dengan senyuman meledeknya. Tangan Ashila terus berusaha, tapi mustahil, Atala mengunci semua jalan.

Demi apapun, Ashila tidak siap.
Akan sangat memalukan jika Atala membuka buku hariannya dan membaca kalimat penuh cinta miliknya. Sekalipun itu indah, tapi tetap saja itu menjijikan. Ashila bahkan geli jika harus membaca susunan kalimatnya sendiri di buku harian itu.

“Atala, kamu nggak berhak maksa gitu! Itu privasi!” ujar Ashila lantangnya. Ia yakin Atala akan berhenti setelah ini.

Dan benar saja Atala menatap mata Ashila sejenak, menatap ada ketidaksukaan di sana. Dengan helaan napasnya yang lembut, Atala mengembalikan buku itu ke tangan Ashila. Untuk kemudian Ashila masukan ke dalam tasnya dan menutupnya rapat-rapat, seakan
menjaganya dari perampok.

Ini sudah satu tahun berlalu, tapi Ashila rasa hubungannya dengan Atala tak akan pernah bisa berada di fase untuk saling membuka privasi. Ada batasan besar dan keduanya menyadari itu, tapi entah kenapa Ashila merasa hanya Ashila yang ingin menghilangkan batasan itu, tidak dengan Atala.

Saat bertemu Atala satu tahun lalu. Ashila tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak seperti ingin lepas. Belum lagi sesuatu
yang berterbangan di perutnya. Itu benar-benar menggangu.
Sempat Ashila berpikir, apakah Atala telah menular semacam penyakit langka? Atau dia yang mendadak mendapatkan virus entah dari mana?

Tapi semua itu terdengar tidak masuk akal.
Lalu ia menemukan sesuatu yang lebih masuk akal. Jatuh cinta.
Ya, Ashila jatuh cinta pada Atala.
Tentu saja. Apalagi selain cinta?
Yang bisa mendebarkan jantungmu begitu keras?
Yang tidak bisa menghilangkan namanya dari ingatan?

Benci?
Tidak, Ashila tidak pernah membenci Atala. Itu sebabnya, Ashila yakin bahwa semua ini adalah cinta.
Belum lagi, sikap Atala yang begitu hangat padanya. Bersikap baik dan terus tersenyum di depannya. Atala juga selalu mengabari tanpa ia minta, entah lewat panggilan atau pesan singkat. Itu seperti apa yang sepasang kekasih lakukan. Ditambah dengan Atala yang pergi
ke manapun di mana Ashila mau, memberikan perhatian, Ashila merasa spesial tentang semua itu.
Dan tanpa sadar itu membekukan pikirannya.
Ia jadi berpikir Atala juga sangat mencintainya. Meski tak pernah terucap. Mungkin Atala malu atau apa?

Ashila jadi seperti anak kecil yang ingin tahu apakah mainan di tangannya cocok atau tidak untuk ia ajak bermain, tapi tidak berpikir apakah mainan itu bisa ia miliki atau tidak. Dirinya juga benci harus menahan diri terus. Ashila ingin tahu, apakah perasaannya terbalas atau tidak?

Sejak semalam, Ashila sudah mempersiapkan hatinya dengan baik. Ashila janji tidak akan menangis semisal semuanya tidak semua kenyataan. Hari ini, Ashila akan menanyakan semuanya pada Atala.
Karena Ashila, tidak akan menderita lebih jauh lagi. “Ata,” lirihnya, sembari memasukan buku yang sudah Atala kembalikan padanya.
“Hmm?” gumam Atala, menanggapi panggilan kecil itu. “Aku ingin membicarakan sesuatu.”

“La, aku mungkin akan terlihat sangat jahat setelah mengatakan ini. Tapi ini adalah kebenarannya,” ucap Atala …

Ashila kini menatap mata Atala dalam. Berharap yang ditatap bisa merasakan keseriusannya. “Katakan,” titah Atala.
“A-aku,” gugup Ashila.
“Aku apa?”
“Ak-aku,”
“Aku apa, La?” Atala, tidak sabaran.
“Aku cinta sama kamu, Ta!”

Hening.

Ashila yang memejamkan matanya gugup, sedang Atala yang menatap datar. Keheningan itu terjadi cukup lama, bahkan membuat Ashila yang memejamkan mata mulai khawatir tentang di mana ia berada sekarang. Sempat ia berpikir, bahwa Atala sudah tak ada di depannya. Namun, saat memutuskan membuka mata, ia bersyukur sebab Ata-nya masih di
sana. Meski bukan dengan senyum bahagia seperti apa yang Ashila bayangkan. Melainkan wajah datar yang kebingungan.
“Ta?”
“Maaf, La.” Atala tiba-tiba berucap. Wajahnya ia tundukan dalam, menimbulkan tanya-tanya yang mengecewakan pada pikiran Ashila.

Firasatnya buruk.
“Hah?” Ashila tidak mengerti.
Mata Atala berjalan menatap mata Ashila yang penuh pertanyaan dan sedikit ketakutan. “Aku minta maaf, La. Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu salah paham. Aku tidak bermaksud melakukan itu, La. Aku benar-benar tidak menyakitimu,” runtut Atala, semakin membuat Ashila kebingungan.

“Katakan yang jelas, Ta. Aku terlalu bodoh dengan ucapanmu,” jujur Ashila. Ia menatap Atala berharap apa yang ada di pikirannya tidak benar. “La, aku mungkin akan terlihat sangat jahat setelah mengatakan ini. Tapi ini adalah kebenarannya,” ucap Atala seakan segera memulai kisahnya. “Aku tidak mencintaimu, La. Kamu salah besar jika berpikir apa yang aku lakukan padamu itu karena aku menyukaimu.”

Deg.

Ashila sungguh tidak siap dengan jawaban itu. Itu terlalu menyakiti hatu kecilnya yang lugu.

“M-maksudmu? Perhatianmu selama ini?” Ashila masih berusaha menyakinkan. “Ya. Aku mendekatimu, memberimu perhatian, dan melakukan hal-hal manis karena aku ingin lebih dekat dengan Ara.”
“A-Ara? Maksudmu Ara sahabatku? begitu?” Tersirat jelas kekecewa di sana. “Aku minta maaf, tapi itu kenyataannya. Aku mencintai Ara, sejak pertama kali kita berjumpa.

Itu sebabnya aku mendekatimu, agar bisa lebih dekat juga dengannya. Karena aku terlalu malu untuk mendekatinya langsung,” tunduk Atala, sedikit menyesal. “Kamu sadar nggak, Ta? Omongan kamu itu jahat banget?” Suara Ashila terdengar rapuh.

Atala menatap manik Ashila yang kelabu, bisa ia lihat di sana ada sebongkah es yang hampir meleleh. “Aku salah, La. Aku minta maaf, tapi itu kenyataannya. Aku nggak mau kesalahpahaman ini berlanjut, ak-” terpotong.

“Kalo kamu emang gak mau aku salah paham, seharusnya kamu bicarakan ini sejak awal!” bentak Ashila. Kesabarannya sudah habis sekarang. Andai saja dia tak pandai menyimpan air mata, sudah pasti sekarang pipinya telah basah.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf,” sesal Atala.
“Maaf? Gimana sama hatiku, Ta? Gimana sama aku yang udah terlanjur cinta sama kamu? Gimana sama perasaan aku, Ta?! Apa kamu mikirin itu sebelumnya, Ta?!” Tak ada jawaban,

Atala hanya menunduk diam.
“Satu tahun, Atala. Selama itu, apa aku cuma kamu anggap alat buat deketin Ara? Sedang aku? Aku selalu anggap kamu lebih dari itu!”
Untuk kali ini Ashila benar-benar tidak ingin berhenti mengeluhi kesialannya. “Satu tahun, Atala. Apa selama itu kamu nggak pernah berpikir tentang betapa sakitnya aku saat tahu kalo aku cuma alat untuk kamu? Sekali aja, Ta, apa pernah kamu berpikir tentang
persamaan aku?”

Diam. Atala hanya bisa diam.
“Jawab, Atala! Apa kamu pernah sekali aja mikirin perasanku?!” cecar Ashila.
“Maaf,”.
Hanya itu, kalimat terakhir yang Ashila dengar dari Atala. Untuk selanjutnya pria itu justru melenggang meninggalkannya yang masih tak percaya dengan kesialan yang terjadi.

Atala pergi, bahkan tanpa membalas pertanyaan Ashila. Setidaknya satu pertanyaan, Ashila ingin mendapatkan jawabannya. Pertanyaan yang menggenang di kepala melebihi derasan air yang ingin turun dari matanya.

“Apa pernah, sekali aja seorang Atala mencintai Ashila meski hanya satu detik?” Dan akhirnya air mata yang ia tahan sedari tadipun akhirnya luruh juga Ashila menangis sendirian,menyesali apa yang baru saja dia katakan seandainya waktu bisa di ulang ia ingin menyimpan perasaannya sendiri,tapi semua telah terjadi ia sudah mengungkapkan
perasaannya pada Atala.

Sejak kejadian itu Atala dan Ashila menjadi asing satu sama lain,tak ada kedekatan lagi diantara mereka. Mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing seperti sebelum mereka mengenal satu sama lain.