Titik Perubahanmu

0
872
Awal pertama aku berjumpa dengannya, aku berpikir bahwa aku dan dirinya bisa menjadi teman dekat. Laki-laki bertubuh tinggi, memiliki mata sedikit belo, berponi lumayan panjang, dan selalu mengenakan sweater di dalam kelas. Alvaro Widyatmaja. Aku memanggilnya Varo. Aku mengenalnya belum lama, tapi aku mengenal dia sebagai orang yang mudah berbaur dan mudah tertawa. 
Hari demi hari, waktu demi waktu, telah kita lewati bersama. Tak ada canda tawa yang kami lewatkan setiap harinya. Di kelas pun kami seringkali membahas hal-hal random dan konyol. Cerita keseharian, keluarga, dan lainnya kami bagikan. Kata demi kata pun Varo ucapkan seolah ia nyaman denganku.
Perhatian yang ia berikan seakan membuat diriku spesial. Lambat laun pun aku mulai merasakan kenyamanan saat bersama dengannya. Saat itu aku percaya bahwa waktu yang akan menjawab semuanya tentang hubungan pertemanan yang baru kami mulai. 
Tetapi hal yang tak ku inginkan itu datang, semuanya datang begitu cepat. Alvaro Widyatmaja, sosok yang aku kenal seringkali menyapaku, tersenyum saat mengobrol denganku, selalu merangkai kata-kata yang indah saat mengetikkan pesan untukku, sosok itu hilang seketika.
Dingin. Cuek. Berbicara seadanya. Senyum pun sudah hilang saat berbicara denganku. Seakan ada sesuatu yang terjadi di antara kita. Hanya satu kata mengapa?yang hendak aku ucapkan padanya. 
Perlahan, Varo mulai menjauhiku. Beribu-ribu kata yang dulu sering diucapkan seolah kini hanya menjadi satu kata. Ada yang salahkah dengan diriku? Apa ada ucapanku yang melukai hatinya? Atau mungkin dia pergi karena sudah tak ada kesenangan yang didapatkan saat bersama denganku? Dia membuatku bingung akan semuanya. Seakan dia menjauhiku tanpa sebab yang jelas. 
Manusia bisa saja datang ke kehidupan kita, lalu pergi begitu saja. Datang membawa kemanisan, lalu pergi memberi kepahitan.
Alhasil aku terus memikirkan dia. Tanpa sadar, setetes air mataku mulai keluar hingga membasahi pipiku. Yup. Aku menangisi seseorang yang baru datang ke dalam kehidupanku. Untungnya ada temanku, Zea, yang menghibur dan memberikan suatu perkataan yang menyadarkanku. Ia mengatakan bahwa tak ada gunanya jika aku terus-terusan menangisi orang yang tidak memberikan jawaban yang pasti dan hanya membuatku bingung atas kepergian dia.
Aku pun tersadar, bahwa Varo hanya orang baru dalam hidupku, aku pun belum mengenalnya lebih dalam. Ini salahku yang terlalu menaruh harapan padanya. Sekarang aku hanya berharap, aku dapat menghapus seluruh memori singkat bersama Varo.
***
Apa yang bisa kamu harapkan dari manusia? Kesenangan, kesedihan, bahkan kekecewaan bisa kamu dapatkan dari manusia. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat kita tebak isi hatinya. Terkadang sering membuat kita jadi berpikir tentangnya. “Ada apa dengannya?” “Apa aku ada salah padanya?” “Kenapa dia menjadi seperti itu?”
Ya. Manusia bisa saja datang ke kehidupan kita, lalu pergi begitu saja. Datang membawa kemanisan, lalu pergi memberi kepahitan. Itu memang menyakitkan dan mengecewakan kita, namun jadikan pengalamanmu itu menjadi sebuah pembelajaran untuk kedepannya.