Cinta yang Tak Pernah Kusut

0
250

Ternyata cinta itu menakutkan. Kepuasaan seseorang tentang hal itu tidak akan benar-benar dapat terpenuhi. Kecuali, mereka saling memantaskan apa yang sudah mereka miliki, meskipun itu adalah hal-hal yang remeh.

Reswara terduduk di kursi kayu, memandangi TV model tahun 80-an. Televisi itu warisan dari kakeknya dua tahun yang lalu, sebelum kakeknya meninggal dalam keadaan tertidur, dan tanpa diagnosa penyakit apa pun. Ditemani segelas kopi dan sigaret di atas meja, dan juga selembar kertas yang berisikan sebuah surat dari seorang wanita yang juga menjadi cinta pertamanya di umur 18 tahun.

Apakah kau akan datang ke sini dan menontonku tampil di acara kampus? Aku berjanji akan membelikan segelas kopi favoritmu itu.

-Kasih

Setelah membaca pesan tersebut, Reswara tersenyum lepas, meletakkan kertas itu ke atas meja, berjalan keluar menuju balkon dengan pelan agar encoknya tidak lagi kambuh, sambil melihat foto-foto yang tertempel di dinding rumahnya.

Foto-foto yang diambil di berbagai tempat yang telah berhasil menyita banyak waktu dari diri mereka masing-masing, dan ditukarkan dengan keindahan dari sebuah kebersamaan itu  kemudian dicetak Reswara dan ditempelkan begitu saja di dinding rumahnya sebagai bentuk kekagumannya terhadap perempuan bernama Kasih.

Kasih, adalah seorang perempuan yang Reswara lihat pada saat dirinya sedang menonton sebuah konser balet di balai kota. Penari balet dengan tarian yang sangat lepas, penuh penghayatan, penuh dengan kebebasan, dan hanya seorang Kasih yang satu-satunya Reswara lihat dari sekian banyak penari balet di sana, yang terlihat sangat ‘hidup’.

Tak banyak orang bisa merasakan hal seperti itu di dalam hidupnya. Sesuatu hal yang disukai, dan dapat dilakukan dengan penuh rasa bangga di bawah tekanan sebuah ikatan keluarga maupun sosial adalah hal yang langka. Demikian jawab Kasih terhadap pertanyaan Reswara saat berada di warung dekat balai kota, tentang alasan mengapa dirinya memilih untuk menjadi penari balet.

Perbincangan remeh itu menjadi suatu hal yang tak terduga bagi Reswara. Karena sejak itu, mereka lebih sering bertemu hanya sekadar untuk menghabiskan waktu sore bahkan sampai malam hari selepas mereka selesai dengan urusan masing-masing—Kasih harus bersekolah, sedangkan Reswara harus bekerja di bengkel milik ayahnya—dengan obrolan remeh hingga penting yang mereka bicarakan. Juga tak lupa membeli minuman kesukaan mereka.

Kasih suka minum susu daripada kopi karena ia alergi kopi, sedangkan Reswara suka minum kopi karena ia alergi susu. Tetapi terkadang mereka iseng untuk saling bertukar minuman, yang diakhiri dengan sebuah kabar bahwa mereka saling merasakan mual dan pusing sesampainya di rumah.

Mereka melakukan rutinitas itu selama tiga bulan, tepat setelah Kasih lulus dari sekolah SMA dengan nilai yang memuaskan, dan berhasil diterima di sebuah universitas di luar kota.

Apakah kau akan melupakanku di sini? Aku sangat takut untuk itu, batin Reswara dalam lamunannya.

Sore itu adalah waktu di mana sebuah jarak yang akan menghantui mereka berdua. Terminal kota waktu itu ramai, penuh dengan orang-orang yang saling mengucapkan selamat jalan dan selamat datang kembali, dengan membawa oleh-oleh makanan atau barang yang mereka beli sewaktu di luar kota. Ataupun dipenuhi oleh penjual warung yang sudah puluhan tahun di sana.

Kasih tiba-tiba tertawa, entah mungkin karena ia melihat seorang supir bis yang sedang menggaruk bokongnya dengan tangan kanannya, lalu mencium tangannya itu diikuti ekspresi nikmat seperti mencium bau parfum kembang tujuh rupa, atau melihat wajah lucu Reswara yang seolah-olah akan kehilangan kekasihnya.

Dengan gerakan pelan, Kasih membuka dompet dan mengambil sesuatu di dalamnya yang kemudian ia berikan kepada Resawara. “Simpanlah foto ini dengan baik. Aku akan datang untuk mengambil ini dan menaruhnya di dinding kamar kita sebagaimana telah banyak kita bicarakan tentang masa depan pernikahan kita nanti,” kata Kasih, kemudian memeluk Reswara sebagai tanda perpisahan dan akan bertemu kembali dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan.

Foto pemberian dari Kasih itu, telah disimpan baik oleh Reswara. Sudah dua puluh tahun foto tersebut menempel di dinding rumahnya.

Reswara kemudian bersandar di pintu balkon rumahnya, lalu melihat pemandangan di sekitarnya dengan helaan nafas panjang. Deretan gunung dilapisi cahaya dari sunset, sawah terbentang luas dengan satu gubuk berdiri tegak di tengahnya.

Asal kau tahu, aku sudah berhasil mendapatkan ini semua persis seperti apa yang sudah kita bicarakan di pinggir jalan balai kota pada malam itu. Hari-hari yang indah untuk kita, sangat-sangat indah.

Dan pesan yang kau tulis di kertas itu, aku benar membacanya dan besoknya langsung menuju ke kampus. Ke tempat di mana saat dirimu tampil sebagai penari balet yang cantik, ditemani seorang laki-laki sebagai pasangan tarianmu. Namun saat aku berjalan menuju belakang gedung, aku melihatmu bersama pasangan baletmu sedang berciuman dan berpelukan sangat mesra seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia.

Dan asal kau tahu juga, pada saat itu aku membawa sebuah cincin yang aku beli dari hasil kerjaku di bengkel selama tiga tahun. “Cincin itu akan kuberikan kepadamu sebagai bentuk keseriusan tentang hubungan kita, dengan rangkaian kata yang sudah ku siapkan jauh hari berdasarkan rasa cinta yang aku miliki, dan akan aku lontarkan semua kepadamu saat itu juga,” gumam Reswara dalam pikirannya.

Di umurnya yang ke tiga puluh delapan, Reswara masih juga belum menikah. Bayang-bayang dari Kasih, yang sudah menikah dengan pasangan penari baletnya, sepuluh tahun yang lalu, terkadang masih saja menghantui dirinya di dalam mimpi. Sudah banyak teman yang menyuruhnya untuk segera menikah, namun semua itu terdengar berisik bagi Reswara. Pernikahan menjadikannya suatu hal yang menakutkan, begitupun juga perihal percintaan.

Kasih, kau adalah kekacauan indah yang pernah ada. Kau tak akan pernah bisa kumiliki. “Dan bodohnya, aku masih saja menunggumu di sini, dengan kesendirian yang utuh seperti keutuhan rasa cinta yang aku miliki sejak waktu itu,” batin Reswara dengan tatapan kosong ke arah langit.

Dengan perasaan yang tak karuan, dengan tubuh tua dan lemas itu, Reswara kemudian kembali masuk ke ruang TV dan bersiap menonton sebuah acara tarian balet yang diperankan oleh Kasih beserta pasangan hidupnya itu.

Tidak ada yang salah dalam sebuah kepercayaan. Seseorang yang terlalu bebas dalam hal kepercayaan memang terkadang—walau tidak semua—akan terlihat begitu bodoh.