Memeluk Embun

0
122

Hiruk pikuk Pasar Minggu di hari Selasa tidak pernah lebih hening dari hari-hari lainnya. Pada pukul 9 pagi orang-orang berlalu-lalang keluar masuk pasar sambil membawa plastik hitam di tangan kanan dan kiri. Tidak sedikit pula yang memanggul karung besar di bahu. Karung berwarna putih lusuh dengan debu halus di setiap sudut, dipenuhi dengan baju-baju masa kini untuk dijual lagi di pasar lain.

Matahari masih malu-malu menunjukkan cahayanya, sebab terhalang awan gelap yang menurunkan rintik hujan sejak tadi malam. Sudah 30 menit aku berdiri di tempat yang sama, tidak bergeming sedikit pun. Aku tidak bergeser barang sedikit walaupun beberapa orang menyenggol atau menggerutu karena posisiku yang menghalangi pergerakan mereka. Tatapan sinis dari sang pemilik toko buah yang menyerangku bak laser pun tidak membuatku terusik.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya pemilik toko buah itu dengan suara yang lantang logat orang Betawi. Aku mengangkat kepala, menatapnya tak acuh dengan kedua mata yang sayu. Tidurku baru 4 jam karena harus mengerjakan tugas yang dikejar tenggat waktu, dan pagi-pagi aku sudah harus berburu buah di pasar. Aku menghela napas panjang, menundukkan kepala, kemudian melanjutkan aktivitasku sejak 30 menit yang lalu.

“Hei Gadis Muda! Kenapa kau hanya mengelus-elus buahku saja sejak tadi? Kau ini niat beli atau tidak?” bentaknya, sampai membuat beberapa pasang mata mengarah padaku. Entah sudah berapa buah yang ku raba, ku elus, ku hirup aromanya, ku pandangi lekat-lekat seperti objek keindahan yang baru kutemui seumur hidup. Memang aneh, kalau mata terserang kantuk, otak pun tidak bisa beroperasi dengan normal.

Aku melirik kanan dan kiri melihat mereka yang menatapku dengan datar. Saat membalas tatapan mereka dengan sinis, aku harus menerima kepalaku yang terhantam karung berisi kardus sepatu. Aku tersungkur walau tidak sampai jatuh ke tanah.

“Bang! Ini nanas muda atau bukan?” Telunjukku mengarah pada kumpulan nanas dengan duri-duri tajam, di antara buah naga dan mangga di sisi kanan dan kiri.

Pemilik toko buah itu melirik acuh dan menghela napas. “Ini yang muda!” jawabnya asal sambil menyerahkan satu buah nanas dari tumpukan yang berbeda.

Aku mengelus duri-duri yang menutupi kulit nanas muda itu, sama seperti yang kulakukan sejak tadi hinga membuat orang-orang muak, termasuk pemilik toko itu. “Durinya sama saja!” ucapku meracau, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Beli dua.”

Pria dengan kisaran usia 40 tahun itu mengemas dua buah nanas ke kantong plastik hitam sembari menggerutu dari dalam tokonya. Rambutnya yang sudah memutih dengan goresan keriput di sudut matanya, tidak senantiasa membuat pria itu lebih sabar dan ramah di sisa hidupnya. Padahal mungkin saja Tuhan memberikan waktu yang panjang agar dirinya bisa lebih bersabar dan ramah, bahkan hanya untuk melayani gadis muda dengan wajah lusuh yang harus berpikir selama 30 menit hanya untuk membeli nanas muda.

Klakson mobil bergantian menyuruhku untuk berjalan lebih pinggir, padahal sedikit pun tubuhku tidak mengambil jatah jalan mereka. Beberapa manusia memang terlalu serakah, barang sedikit saja milik orang lain harus mereka coba dan diambil juga. Padahal Tuhan sudah menciptakan sesuai dengan porsinya.

Aku menepi, berdiri di samping sebuah warung kopi yang tampak sesak dipenuhi laki-laki. Tidak ada satu pun perempuan di dalam sana kecuali pemiliknya, Mbok Surti. Kepalaku menoleh sedikit pada celah jendela warung yang gordennya terbuka lebar. Perempuan pemilik warung kopi sedang mengumbar senyuman manja pada laki-laki yang menggodanya sembari mengaduk kopi hitam di hadapan mereka.

Tidak jarang tangan mereka menyentuh bahu Mbok Surti yang tertutupi kaus hitam besar, tidak sedikit pula yang menanyakan aktivitas apa yang akan perempuan 29 tahun itu lakukan setelah menutup warung.

Aku mengabaikan situasi yang setiap hari terjadi di dalam sana karena kemolekan dan kecantikan Mbok Surti mampu menyihir mata laki-laki yang datang ke warung kopinya, tanpa terkecuali, bahkan yang sudah beristri. Padahal kecantikan dan kemolekan seorang perempuan bukan objek pemandangan laki-laki.

“Haruskah aku bersyukur bahwa wajah dan tubuhku tidak seindah Mbok Surti?” gumamku dalam hati.

Dejavu! Kau lagi!” Seorang pria menepuk bahuku dengan kasar. Pria dengan wajah yang dipenuhi rambut lebat di bagian dagu dan bawah hidungnya. Dia harus menunduk untuk melihatku yang bertubuh mungil. Aku mendongak dan menatapnya datar.

“Baru enam bulan yang lalu aku melihat wajah kusammu itu!”. Pria itu menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangannya di dada. Beberapa orang memang gemar mengomentari kekurangan orang lain, baik di depan maupun di belakang.

Setelah mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung kepala, pria itu menyerahkan setu kantong plastik hitam berukuran kecil. Aku menerimanya tanpa banyak bicara, kemudian melenggang pergi karena tidak kuat menghirup bau Sampoerna Kretek dari mulutnya, dan aroma minyak wangi Malaikat Subuh di seluruh tubuhnya.

Perjalanan terasa lebih mudah setelah memasuki gang sempit yang tidak dilalui mobil-mobil mewah. Walaupun kedua kaki harus rela melangkah di atas tanah merah bercampur air hujan, serta lubang-lubang di jalan yang menjadi kubangan air. Tidak terhitung berapa kali aku harus meloncati lubang-lubang itu, dan tidak jarang pula terjebak di kubangan yang lain. Kedua kakiku yang hanya beralaskan sandal jepit Ando warna hitam, sudah dipenuhi tanah, air hujan, dan bakteri bercampur jadi satu.

Semakin dekat di tujuan, semakin terasa menyesakkan dan menyebalkan. Tanganku terkepal kuat, meremas isi dari kantong plastik hitam kecil. Setelah mengintipnya sedikit, aku ingin membanting barang itu ke tanah, menginjaknya sampai hancur, dan menenggelamkannya dalam kubangan air hujan. Namun, aku tidak mampu melakukannya.

Sebelum sampai di depan kos-kosan kumuh di sekitaran gang melati, ponselku menyala menandakan panggilan masuk dari seseorang. Benda dengan layar selebar 6 inchi itu bergetar di tanganku dengan nama Lili tertera di layarnya. Sengaja kubiarkan hingga cahayanya redup kembali, walau akhirnya langkahku terhenti hanya untuk melihat pesan dari orang yang sama, datang pada pukul 6 pagi hari ini.

“Bisakah kau belikan aku nanas muda? Dan tolong ambilkan pesananku di dekat warung Mbok Inem.”

Pesan yang berhasil menyita seluruh perhatianku, waktu tidurku, konsentrasiku, dan kewarasanku. Pada akhirnya aku menyesal telah mengaktifkan data internet pagi ini, seharusnya kumatikan saja sampai malam.

Dia membunuh janin pertamanya setelah menenggak dua pil peluruh. Walau setelah itu nama baiknya maupun nama baik keluarga tidak bisa ia dapatkan kembali.

Daun pintu yang terbuat dari kayu terbuka dengan kasar hingga suara engsel tuanya menggema di telinga. Kedua langkah kakiku yang gusar langsung menuju kamar belakang yang pintunya tertutup rapat. Setelah dibuka dengan asal, terlihat seorang wanita sedang berbaring lemah di atas kasur lantai.

Ia memegangi perutnya, meringkuk lemah, dengan kantong mata yang menghitam, dan kedua mata memerah. Bibirnya bergetar, sepasang netra dengan bola mata besar kembali berkaca-kaca ketika mataku dan matanya bertemu satu sama lain dalam waktu yang lama. Aku melemparkan semua plastik hitam yang semula kubawa-bawa dengan setengah hati.

Aku menatap tubuh perempuan itu bergerak pelan bangkit dari kasur yang tertutupi seprai motif bunga-bunga dengan beraneka ragam warna. Ia menyeret kedua kakinya yang tiada kekuatan untuk melangkah, perlahan menghampiri dua kantong plastik yang kulemparkan dengan kasar.

Tangan pucatnya dengan jemari yang gemetar, membuka ikatan plastik tanpa banyak bicara. Sesekali kepalanya mendongak untuk melihatku, sambil mengulum bibir tipisnya karena menahan tangis. Air matanya kembali menetes saat suara bayi milik tetangga di sebelah kanan menangis kencang, tanda bayi itu menginginkan sesuatu.

“Wanita bodoh! Janinmu tidak akan luruh hanya karena makan nanas!” seruku ketus. Mendengar perkataanku yang kasar, perempuan berambut panjang itu langsung menyingkirkan nanas muda di hadapannya. Ia berganti membuka kantong plastik kecil berisi pil yang terbungkus kardus kecil. Dia mengeluarkan dua pil berwarna putih itu sekaligus.

“AAAHHHHH!” Aku berteriak lantang, memukul, meninju, menendang pintu kamar yang terbuat dari papan tripleks. Dalam hitungan detik pintu bercat cokelat itu langsung rusak, membuat penyewanya mendongak ketakutan.

“Lea,” panggil perempuan itu lembut. “Apa kau begitu ingin meluruhkan janinmu itu? Ini bukan kali pertama bagimu, Li. Apa kau tidak merasa bersalah pada janinmu yang pertama, sehingga tidak takut untuk membunuh lagi untuk kedua kalinya?” tanyaku kesal sambil merampas pil dan jamu peluruh di kedua tangan Lili.

Wajahku memerah, bara amarah di dada telah naik ke kepala dan membakar akal sehatku. Aku berjalan cepat, membawa nanas muda itu ke dapur. Melemparkannya dengan kasar ke lantai hingga buah itu berceceran di lantai. Pil peluruh yang masih dalam jumlah semula aku lemparkan ke dalam kloset, disusul dengan lima bungkus jamu peluruh.

“Lili! Apa kau tidak mendengar tangisan bayi di samping? Apa kau tidak ingin mendengar tangisan buah hatimu di dunia?” bentakku dengan tangan dan baju yang kotor karena buah nanas dan serbuk jamu.

“Aku tidak mungkin mempertahankannya! Pria itu juga tidak ingin tanggung jawab, Lea!” Wanita itu menunduk menahan tangisnya di pelupuk mata. Tangannya tidak berhenti meremas perut yang tertutup piyama lusuh.

Aku menghela napas, lagi dan lagi mencoba melampiaskan kekesalan kepada benda-benda yang ada di sekitar. “Apa kau diperkosa? Kalau kau diperkosa, ayo kita laporkan! Negara kita pasti mampu untuk membenahi urusan pemerkosaan.” Aku menarik tangannya pelan.

Lili terdiam, bibirnya bungkam, air mata mulai mengalir di pipi kurusnya. Tangisan yang terjadi sejak tadi malam seakan tiada habisnya.

“Oh tidak, Ya Tuhan! Kau juga menginginkannya, tapi kenapa tidak ingin bertanggung jawab atas janinmu sendiri?” tanyaku lantang.

Lili memeluk kedua kakinya, membenamkan seluruh wajahnya di antara kedua kaki. Perempuan itu menangis tersedu-sedu dengan suara yang tidak tertahan. Memori-memori menyenangkan tersimpan jelas di ingatannya, tetapi insiden yang membawanya pada nasib malang bagi dirinya dan keluarga juga menghantui pikirannya.

Tentu ini bukan kali pertama, sebelumnya dia berhasil menghindari sang ayah yang bersikeras tidak ingin mengakuinya lagi sebagai anak setelah mempermalukan keluarga. Namun, sang Ibu justru menangis tersedu-sedu karena ingin menemaninya. Dia membunuh janin pertamanya setelah menenggak dua pil peluruh. Walau setelah itu nama baiknya maupun nama baik keluarga tidak bisa ia dapatkan kembali.

Kala itu hujan deras, ketika bulir-bulir darah yang keluar dari peranakannya ditemani embun pagi yang hadir setelah hujan reda. Pelangi pada hari itu menemani kepergian janin tidak bersalah hanya karena kebodohan orang dewasa. Hari ini juga seperti kilas balik sebuah film lama, rintik hujan masih membasahi bumi. Hanya tinggal hitungan menit atau jam, embun akan menutupi beberapa bagian di bumi ini.

Aku bersandar, menatap rintik hujan dari genting. “Mereka juga ingin hidup, Tuhan memberikan janin itu sebagai anugerah untukmu. Para janin itu tidak bersalah, kenapa juga harus dijadikan korban? Hah?” tanyaku lelah. “Ada kehidupan yang menunggu mereka di dunia ini, bahkan embun pun menunggu kehadirannya.”

Lili bangkit dari posisi yang menahannya sejak tadi, kedua kakinya mengantar tubuh tidak bertenaga itu ke teras. Dia menjatuhkan tubuhnya di sana, meratapi kebodohan yang terulang dengan cerita yang sama. Kedua matanya terpaku menatap embun yang menutupi pohon mangga tidak jauh di depan sana.

“Menurutmu, dunia seperti apa yang akan menunggunya?” Perempuan berkulit sawo matang itu melamun membayangkan kehidupan buah hatinya yang malang. Bahkan, bayangan janin pertamanya pun kembali menghantuinya.

“Tuhan sudah mengaturnya dengan baik. Tugas kita bukan membayangkan takdir seperti apa yang akan menunggunya setelah lahir, tetapi tugas kita adalah menjaga dan merawatnya.” Aku mengelus puncak kepala seorang perempuan yang sudah bersamaku sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dia memang terkenal lugu, dan mudah luluh oleh pria mana pun yang memberikannya janji manis. Tidak heran jika tubuhnya bisa terjatuh di lubang yang sama, berkali-kali.

Lili menatapku kosong. “Bahkan jika hidup tanpa seorang Ayah?” tanyanya lirih.

“Dia akan bahagia bahkan saat memeluk embun di tengah gerimis kecil!” ucapku lembut kemudian memeluk tubuhnya dengan erat. Lili mengangguk, senyuman kecil terukir di bibir tipis merah mudanya. “Baiklah.”

Aku tersenyum lebar, tanpa sadar air mata bahagia mengalir di pipi. Saat tanganku mengelus lembut punggung Lili, seorang bayi yang digendong ibunya di halaman rumah tertawa kegirangan menatapku. Senyuman manis dari bibir kecilnya yang penuh dengan warna merah dari buah naga, memancarkan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahagianya memang sederhana.

Aku bersyukur bahwa Tuhan mengizinkan beberapa perempuan untuk membiarkan buah hatinya memeluk embun.

 

Adinda Destiana Aisyah, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang