Intensitas Drama Korea di Masa Pandemi

0
26

Apakah nonton drama Korea bisa membawa dampak buruk? Pertanyaan itu acap kali berseliweran di telinga saya akhir-akhir ini. Sejak surat edaran yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan pada tahun 2020 telah disebarluaskan, kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing. Beberapa siswa maupun mahasiswa mengaku mulai menggemari Drama Korea sebagai bentuk hiburan setelah penatnya beraktivitas.

“Sebenarnya dulu enggak ada minat sama sekali, tapi gara-gara pandemi jadi di rumah terus. Cari tontonan dan minta rekomendasi rekomendasi ke temen,” jawab Silvia mahasiswi semester 3 ketika saya bertanyai alasan mengapa menggemari drama Korea.

Cahya, salah seorang siswi lulusan SMK mengaku bahwa sebelum pandemi melanda pun memiliki ketertarikan terhadap alur cerita unik dan menarik yang tersaji di drama Korea. Selain itu, episode di setiap drama Korea yang tidak terlalu lama dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menontonnya menjadi alasan lain mengapa Cahya menyukainya. 

Tak hanya digemari para generasi muda, penonton Drakor juga mulai mencakup kalangan ibu-ibu. Apa lagi beberapa stasiun televisi lokal juga ikut menayangkan beberapa serial drama Korea yang kian mempermudah siapapun untuk menyaksikannya. Sering kali saya dengar, ibu-ibu masa kini tidak hanya membicarakan sinetron lokal, tapi juga Drama Korea yang mereka ikuti serialnya.

“Dari dulu emang udah suka drama-drama luar, terutama drama China, awal kenal gara-gara lihat Jerry Yan di Meteor Garden yang muncul awal tahun 2000-an, tapi karena akhir-akhir ini di TV banyak yang nayangin Drama Korea ya juga ikut nonton,” ujar Ayu si ibu rumah tangga ketika saya datangi di kediamannya siang hari itu.

Ayu juga menambahkan bahwa beberapa konflik yang tersaji dalam drama Korea rata-rata masih berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. “Sama sih suka gara-gara aktornya ganteng-ganteng juga,” tambah Ayu.

Lalu pertanyaannya apakah benar-benar menonton drama Korea bisa menyebabkan kesialan? Saat ditanyai apakah benar menonton drama Korea dapat berdampak negatif seperti misalnya kesialan. Ketiga memiliki sumber sudut pandangnya masing-masing mengenai stigma masalah ini.

“Mana ada kayak gitu, alasan aja mah orang-orang yang anti sama kokoreaan . Gue nonton buat lepas penat setelah kuliah-nugas-kuliah-nugas. Kalau enggak nyari hiburan nanti malah stres,” ucap Silvia saat itu.

“Sebenarnya, jika masalah itu bodoh itu lebih tergantung pada orangnya, tapi selama gue sih emang munculin dampak negatifnya, kayak muncul delusi sama karakter mereka, halu deh pokoknya. Atau kadang juga buang-buang waktu sih, misalnya ada tugas tapi ditunda dulu karena keburu penasaran sama episode baru Drakor yang lagi diikutin. Tapi kalau gue juga dapat sisi positifnya sih, biasanya di Drakor banyak benda-benda lucu, jadi gue punya ide atau semacam dapat inspirasi buat bikin versi homemade -nya,” ujar Cahya.

Berbeda dengan respons Cahya dan Silvia sebagai generasi Z, Ayu saat ditanyai masalah itu menjawabnya dengan santai disertai kelakar. “Mbak, kalau drama-drama itu menyebabkan kejatuhan, berarti itu juga berlaku sama serial-serial lokal yang tayang di TV dong, wong sama-sama tontonan ‘kan? Semua tergantung bagaimana sikap yang menonton, kalau sampai menyebabkan dampak negatif itu sih berarti sudah berlebihan, kalau masih tahap sebagai hiburan aja ya gapapa. Kayak saya yang nonton drama pas lagi nyetrika biar enggak kerasa pegelnya dialihin lihat muka-muka orang ganteng,” kata Ayu. 

Seakan belum mau menyudahi konversasi, Ayu juga merekomendasikan beberapa judul drama yang bisa saya tonton saat luang. “Pandai-pandai aja pilih tontonan. Itu salah satunya Reply 1988. Bagus itu pesan moralnya dapet soal perbedaan sudut pandang anak dan orang tua, kisah romansanya cuma buat bumbu pemanis aja,” ujarnya. 

Aktris Moon Ga Young berperan sebagai Lim Ju Gyeong dalam drama Korea, True Beauty, yang sedang tayang di Viu. TrueBeauty mengisahkan aksi Lim Ju Gyeong yang menggunakan riasan untuk menyembunyikan wajah aslinya. Di sekolah, ia bertemu Lee Su-ho dan Han Seo-jun. Foto : ARSIP VIU

Melalui ketiga narasumber tersebut saya menyadari bahwa apa pun konteksnya entah itu drama Korea, China, Turki, atau produksi lokal tetap akan memberikan dampak negatif bila ditonton secara berlebihan. Berlaku juga sebaliknya bila ditonton secukupnya tanpa menganggu aktivitas ataupun kewajiban, semua akan berjalan baik-baik saja karena untuk beberapa orang menonton drama Korea dijadikan penyembuhan diri untuk menghindari perasaan stres yang dapat memicu depresi.

Pada dasarnya, prespektif negatif setiap orang memang berbeda-beda, tapi hal itu tak bisa dijadikan alasan untuk membangun stigma terhadap sesuatu. Semua hanya masalah selera saja. Dan sesuatu yang berlebihan memanglah tidak baik.

Sofia, Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia.