Pelajaran Penting dari Program Kampus Mengajar

0
350

Masih teringat jelas pertama kali pengumuman tentang pendaftaran Kampus Mengajar Angkatan 1 muncul di beranda Google ponsel saya. Pogram Kampus Mengajar yang dicanangkan oleh Kemendikbud itu termasuk dalam program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Program dilaksanakan selama tiga bulan sejak 22 Maret hingga 25 Juni 2021.

Proses pendaftarannya, saya harus melewati dua tahap seleksi. Pertama saya harus ‘bersaing’ dengan mahasiswa dari seluruh kampus universitas negeri pun swasta lain dalam tahap pemberkasan seperti transkrip nilai, IPK hingga sertifikat pengalaman mengajar atau organisasi. Setelah saya dinyatakan lolos, berlanjut pada tahap akhir, yaitu tes kebhinekaan via daring

Beruntung, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk mengabdi di satu sekolah dasar, SDN Kertamukti 01 yang berlokasi di desa Kertamukti, kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Saya bersama enam teman dari berbagai universitas di Indonesia dan dari berbagai jurusan (PGSD, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, perbankan syariah dan DKV) bergabung untuk saling bertukar inovasi dalam kegiatan belajar mengajar, adaptasi teknologi hingga membantu administrasi di SD tersebut.

Menurut saya, kami adalah formasi sempurna yang bersatu dalam satu tim. Walau ini pengalaman pertama mengajar bersama, kami siap untuk terjun setelah melalui pembekalan mahasiswa selama sepekan.

Selanjutnya, kami berkoordinasi dengan dosen pembimbing lapangan, Ianatut Thoifah, sebelum datang ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi. Di sana kami meminta surat izin resmi dari dinas untuk pelaksanaan program ini yang nantinya akan diberikan sebagai pengantar ke SD. Setelah itu kami mengunjungi SDN Kertamukti 01 yang jaraknya dari rumah kami masing-masing 15-60 menit menggunakan sepeda motor.

Potret Kampus Mengajar angkatan 1 mengunjungi Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi dan SDN Kertamukti 01 (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Kami menemui Kepala Sekolah Taryunah, lalu dia mempertemu-kenalkan kami dengan para guru di SDN Kertamukti 01. Setelah berbincang tentang maksud dan tujuan kedatangan tim, kemudian kami mendengarkan beberapa kendala selama pembelajaran saat masa pandemi ini. Kendala utama yang kami simpulkan ada pada masalah pembelajaran siswa yang terhambat karena tak ada fasilitas telepon seluler, jaringan internet yang lelet dan tak semua mampu membeli paket data internet.

Setelah itu saya juga berbincang dengan wali kelas 3, Putri. Ia mengatakan selama pandemi, para murid belajar via WhatsApp menggunakan ponsel orang tuanya. Dan bagi keluarga yang kurang berada sehingga tak memiliki ponsel, biasanya mereka ke sekolah untuk mengambil tugas dari guru, seperti mendapat pinjaman buku tematik dari sekolah. Setelah sebulan, tugas dari buku itu dikerjakan siswa di buku tulisnya lalu dikumpulkan ke sekolah lagi.

Bagi orang tua murid, belajar via WhatsApp, dengan cara memberikan materi melalui video lalu mengerjakan tugas di salah satu halaman buku masih belum efektif. Pertama, para murid tidak semuanya cepat paham. Kedua, karena mayoritas profesi orang tua murid, ayah menjadi pedagang sedangkan ibu menjadi ibu rumah tangga, sehingga mungkin ada yang sibuk bekerja atau bingung untuk mengajar pelajaran anaknya. Hal itulah yang membuat murid SDN Kertamukti 01 terhambat dan tertinggal materi pembelajaran saat pandemi.

Untuk itu, selama 12 pekan bertugas, kami memutuskan mengadakan pembelajaran kunjungan ke rumah siswa. Kami bertujuh membagi tugas. Satu orang membantu mengajar satu tingkat kelas. Saya mendapat kesempatan untuk membantu mengajar siswa kelas 3 yang terbagi menjadi dua kelas. Pada pekan pertama saya dibimbing dulu oleh wali kelas 3 untuk diarahkan ke rumah siswa dan diperkenalkan pada mereka tentang maksud dan tujuan kedatangan saya.

Kunjungan rumah

Guru wali kelas itu juga yang sudah membagi para siswa untuk belajar sesuai daerah rumahnya masing-masing yang letaknya tidak jauh dari lokasi SD. Pada hari Senin, saya mengunjungi dua rumah berbeda di Kampung Utan Salak, lalu, pada hari Rabu dua rumah di daerah Kampung Kranji, sedangkan pada hari Jum’at satu rumah di daerah Kampung Gang Seri.

Jadi, dalam sepekan saya mengunjungi lima rumah (lima kali) dalam tiga hari. Di rumah pertama dari pukul 08.00 pagi hingga 10.00 WIB. Berlanjut ke rumah kedua dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Saya menempuh perjalanan 20 menit menggunakan sepeda motor untuk mencapai rumah mereka itu.

Di perjalanan memang tidak macet, tetapi, jalanannya cukup tidak rata, berkelok tajam dan memasuki gang sempit. Bahkan, saya lebih diuji ketika hujan tiba, jalanan tidak rata itu berubah jadi berlumpur dan licin. Namun, hal itu masih tak sebanding dengan sensasi senang di tengah anak-anak yang sedang menunggu untuk belajar.

Saya merasa tertantang ketika masih ada salah satu ibu dari siswa yang mengatakan “Ini maaf ya anak saya belum bisa baca, masih mengeja, soalnya kalau di rumah susah disuruh belajar, sukanya main terus”. Dan betapa kagetnya lagi ketika saya mulai mengajar dan bertanya pada anak-anak, “Siapa yang tahu 1 dikali 1 berapa?”, mereka hanya terdiam, senyap. Lama terdiam, salah satu menjawab “2”.

Tak berhenti di situ, saya mendikte mereka, “Coba tuliskan kata apel”, rasa terkejut saya muncul lagi  saat ada siswa yang tidak tahu harus nulis apa. Ada yang terbalik menulis huruf p menjadi d dengan b, dan terbalik menulis huruf e menjadi g. Melihat itu semua saya merasa sangat bertanggung jawab atas ketertinggalan mereka.

Murid mengerjakan soal tentang Literasi dan Numerasi secara homevisit. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Setiap pertemuan, biasanya saya menyiapkan soal-soal tentang menulis abjad dengan cara menyambung titik-titik dan berhitung, mengenal angka dan memperkenalkan penjumlahan-pengurangan-perkalian. Materi pembelajaran itu  saya buat sehari sebelum mengajar, sebab saya membantu mengajar setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at. Jadi, setiap Selasa, Kamis dan Sabtu saya menulis soal dan mengkopinya sesuai jumlah murid.

Lalu, untuk materi tentang mengenal waktu, jenis-jenis sudut dan arah mata angin, pada hari Sabtu saya membuat media jam, sudut arah mata angin dari kanvas, asturo, origami dan spidol. Mereka sangat antusias ketika saya membawa media ini, mereka bertanya, “Itu apa, Bu?”. Kemudian saya menjelaskan tentang penggunaan media tersebut.

Pengaplikasian media pembelajaran Jam Sudut Arah Mata Angin bagi Murid SDN Kertamukti 01. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Pada pekan selanjutnya, sehari sebelum mengajar, saya membuat beberapa soal dalam potongan-potongan kertas, lalu menyiapkan lilin plastisin. Kemudian, saat berkunjung ke rumah siswa, saya membagi siswa-siswi menjadi dua tim. Di babak pertama tiap tim harus bisa merangkai huruf agar menjadi sebuah kata yang diminta menggunakan lilin/plastisin yang masing-masing telah saya berikan (literasi).

Di babak kedua mereka akan beradu menghitung soal penjumlahan, pengurangan, perkalian yang ada di kertas yang telah saya siapkan. Lalu, hasil hitungan itu dibentuk dengan lilin juga (numerasi).

Bahkan, tak disangka ada salah satu siswi kelas 3 bernama Kesya yang mengatakan “Bu, minggu depan belajarnya pakai mainan origami ya, Bu”. Saya mengiyakan dengan antusias karena mereka memiliki semangat kembali untuk belajar dan bertemu lagi dengan saya.

Para murid belajar Literasi dan Numerasi menggunakan lilin plastisin. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Tibalah pada pekan terakhir saya mengajar sebelum mereka memasuki pekan ujian kenaikan kelas. Saya telah menyiapkan permainan ular tangga calistung dari kertas HVS dan permainan origami. Kemudian saya membagi siswa menjadi dua tim. Mereka menjalankan gilirannya dari huruf A-Z pada kertas ular tangga.

Jika mereka berhenti di salah satu huruf, mereka menuliskannya di kertas, dan harus menghitung hasil dari soal di kertas origami yang mereka pilih. Mereka yang sampai ke huruf Z atau finish itulah yang menang. Dan tim yang menang berhak untuk mendapatkan hadiah poster perkalian 1-10.

Beginilah keseruan mereka saat bermain sambil belajar. Memang dari mereka terlihat tidak menggunakan masker, mungkin karena orang tuanya yang tidak punya atau tidak membawakan karena berpikiran berada di zona hijau. Walau begitu, saya sendiri tetap mengajar mereka sambil menggunakan masker dan sebelum belajar mereka disemprotkan hand sanitizer terlebih dahulu.

Para murid belajar (Literasi-Numerasi) sambil bermain ular tangga calistung dan origami. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Saya mulai kewalahan saat mereka begitu aktif. Lebih tepatnya ketika mereka tidak dapat giliran bermain, mereka akan berjalan ke mana-mana. Atau saat saya sedang mengajarkan salah satu siswa, ada siswa lain yang juga ikut bertanya. Atau saat mereka ada yang sudah lebih dulu selesai mengerjakan soal yang saya berikan.

Itulah kendala yang sangat saya alami, hingga saya berpikir tidak bisa menanganinya seorang diri. Namun, biasanya saya selalu meminta mereka, jika sudah selesai mengerjakan soal, bantu ajarkan temannya yang belum selesai.

Pada pekan terakhir ini, saya meminta mereka untuk membuat kartu ucapan selama belajar dalam kunjungan ini. Dan, saya juga memberikan kartu setoran perkalian agar mereka semangat untuk menghapal. Berikut ini beberapa kartu ucapan dan rekaman mereka saat menyetor perkalian.

Kartu ucapan dari murid di SDN Kertamukti 01 selama belajar homevisit. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Pekan selanjutnya, karena para murid sedang melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT), saya bersama teman-teman peserta Kampus Mengajar  membantu adaptasi teknologi pada guru-guru SDN Kertamukti 01. Kami mengenalkan aplikasi desain Canva yang berguna untuk membuat sertifikat kegiatan, banner kegiatan hingga peta konsep pembelajaran. Tak hanya itu, kami juga mengenalkan aplikasi Quizziz dan Kahoot yang bisa digunakan untuk membuat latihan soal lebih kreatif dan menarik.

Setelah sosialisasi tentang teknologi yang dilaksanakan pada 03 Juni dan 05 Juni itu, kami mendapat respons positif dari para guru dan Kepala Sekolah. “Terima kasih ya, Neng. Kami jadi tahu tentang aplikasi-aplikasi untuk mendukung pembelajaran, terutama yang bisa membangkitkan motivasi belajar siswa seperti ini”.

Kami membantu adaptasi teknologi, pengaplikasian Canva, Quizziz dan Kahoot dalam pembelajaran. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Di sela-sela mengajar saya juga membantu guru untuk menyusun format Belajar Dari Rumah (BDR). Saya juga aktif bertanya soal RPP pada wali kelas 3, lalu, terkait absensi siswa selama belajar di rumah. Ternyata, untuk daftar hadir siswa sudah pernah menggunakan Google Form, tetapi, dari 40-an siswa, yang mengisi hanya 6 siswa.

Entah karena orang tua tidak mengerti atau apa, akhirnya daftar hadir hanya menggunakan WhatsApp dengan cara mengirimkan foto diri berpakaian seragam. Dan itu pun hanya belasan siswa yang mengirimkan. Pernah sekali saat kunjungan ke rumah, ada orang tua murid yang mengatakan, “Kadang anak suka malas pakai seragam kalau di rumah. Sudah mau belajar aja bersyukur banget”.

Menurut saya ada banyak pelajaran yang tidak mungkin saya dapatkan di bangku kuliah saja. Berkat Kampus Mengajar ini saya sadar bahwa sebagai guru tidak cukup untuk memahami penjelasan dari suatu materi. Namun, harus juga mampu memikirkan serta mempersiapkan cara terbaik dan termudah untuk menyampaikan penjelasan itu pada siswa. Sebagai guru, pintar untuk diri sendiri saja tidaklah cukup, tetapi yang terpenting adalah guru harus juga pintar untuk memintarkan siswanya.

Closing Ceremony atau pelepasan mahasiswa Kampus Mengajar oleh Kepala Sekolah, guru serta staff SDN Kertamukti 01 dan Dosen Pembimbing Lapangan pada 25 Juni 2021. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Rugi adalah kata yang paling mustahil terucap oleh saya setelah mengikuti program ini. Biarkan saya genapkan cerita kali ini dengan kutipan Mas Menteri, Nadiem Makarim, “Kami butuh mahasiswa yang tidak hanya berprestasi tetapi juga mau berkontribusi. Kami butuh mahasiswa yang tidak hanya mampu berkembang, tetapi juga mau berjuang. Dan kami butuh mahasiswa yang tidak hanya mampu, tetapi juga mau.”

Izinkan juga saya menyampaikan pesan dan kesan para guru di SDN Kertamukti 01 atas program Kampus Mengajar tersebut.

Kesan Pesan dari Kepala Sekolah, Guru dan Staff SDN Kertamukti 01. (Dok. Pribadi/Alya Rekha Anjani)

Alya Rekha Anjani, mahasiswi Universitas Islam “45” Bekasi, Program Studi Pendidikan Agama Islam.